Search

Antara Jonghyun, GTA, dan Depresi


Berita kematian salah satu artis korea pada 18 Desember 2017 kemarin mungkin "menggemparkan" para kpopers. Dan, aku bukan kpopers ataupun pecinta drama korea. Aku nggak suka tapi nggak benci juga. Biasa aja. Tapi, aku mau bahas sisi lain si Jonghyun kenapa bisa sampai memutuskan mengakhiri hidupnya. Banyak yang bilang karena dia depresi. Pertanyaan muncul di benakku, mungkinkah Jonghyun menderita anxiety disorder? Ah, maaf buat kpopers, ini cuma dugaanku.

Dia, di tengah popularitasnya dan kekayaannya dia merasa tidak bahagia. Dia merasa depresi. Dan, akhirnya memutuskan untuk bunuh diri.

Hal itu juga mengingatkanku waktu dulu aku masih suka main game bareng adik atau kakakku. Dulu tuh suka banget main GTA San Andreas di PS2. Itu game udah tamat berkali-kali, masiiiih aja dimainin, hehe. Terus juga kan player-nya si CJ udah kaya, rumah di mana-mana, wilayah kekuasan seluruh San Andreas, orang-orang pada takut (bahkan, polisi juga takut karena di-cheat, hehe), dan mau pacar tinggal klaksonin mobil mewah, ykwim. Yang aku lakukan saat itu sih biasanya emang bunuh diri. Entah terjun dari gedung tertinggi atau dari pesawat yang lagi mengudara, hehehe. Karena itu game kan, jadi ya pasti hidup lagi. Nyawanya lebih banyak daripada nyawa kucing yang katanya sampai ada sembilan, hehe. Lalu, setelah itu mau apa lagi?

Pada saat itulah, jiwa akan mencapai titik bosan. Saat itu biasanya jiwa jadi kosong. Merasa sendiri di tengah keramaian. Merasa sedih padahal mungkin everyone thinks he's the happiest one. Dengan segala prestasi dan ketenaran yang katanya jadi impian banyak orang. Dengan segala kekuasaan yang katanya berarti kehebatan. Tapi, hei, untuk hal seperti itukah kita hidup?

Dari situlah aku belajar. Jiwa manusia itu tidak pernah puas dengan sesuatu, mungkin karena itulah diciptakan surga dan neraka. Karena dunia ini tidak akan pernah membuat manusia merasa puas. Ketika manusia disuruh ini-itu pun sama Tuhannya, Tuhan masih harus menjanjikan pahala atasnya? Benar, kan? Apa aku salah mengatakan ini?

Di sisi lain aku mau bahas tentang depresi. Dulu pernah ada yang bikin tulisan tentang anxiety disorder. Dia menceritakan kisah temannya (di Line) dan dirinya sendiri (di Blog). Aku bingung bagaimana menjelaskannya jadi lebih baik aku copy-paste di sini aja ya.

Tulisan ini dibuat oleh Shafa di Line :

***starts here***

Teman saya baru aja mencoba bunuh diri. Mungkin alasannya terdengar sepele, karena omongan kecil yang ada di sekitarnya, dan masalah keluarganya. Saya sangat prihatin, ketika saya dengar dia ternyata mengalami anxiety disorder dan depresi karena hal itu. 

Sebab, saya sebagai teman dekat di kehidupannya sehari-hari, sama sekali tidak menyadari dia sedang sedih, terkena masalah, atau semacamnya. I mean, she seems great everyday, bahkan dia sering membuat saya dan teman teman tertawa.

Dibalik itu? dibalik senyum yang dia tunjukkan setiap harinya, ternyata dia menyimpan sesuatu yang tidak pernah diungkapkan. 
Saya baru tau, setiap malam dia selalu mikir bagaimana cara untuk melarikan diri atau bagaimana kalau dia mengakhiri hidupnya. Dan itu yang membuat dia akhir-akhir ini kurang konsentrasi di sekolah.

Baru saja, salah satu teman saya menangis dihadapan saya dan bilang,
"Shaf, dia sebenernya udah cerita ke gue kl dia gitu, tapi respon gue malah 'ah jangan sok sok-an cutting lah, kayak orang gapunya agama aja, sinetron bat deh lo, udah jalanin aja, pasti ada jalan keluarnya.'"

But that's it, every single thing we say, matters.

Mungkin memang caranya salah, tapi saya sendiri, jujur, yang pernah mikir ke arah situ, ngerti. Mereka butuh orang untuk diajak bicara, mereka butuh dukungan orang-orang sekitar. Jangan justru dijatuhkan.

Tolong, just be there for your friends, karena bisa aja orang orang di sekitar kita justru butuh teman atau orang untuk bisa diajak bicara. 
Mereka sebenernya takut, takut tentang omongan orang yang pasti bakalan nyakitin. belum cerita aja udah dikomentar yang gaenak, apalagi udah cerita? mau dibilang apa? lemah, cengeng, atau drama?

Who knows?

Dan sekali lagi, tolong, pikirkan dahulu sebelum berkata-kata, mungkin maksudnya tidak menyakiti hati, tapi bagaimana kalau yang terjadi sebaliknya? Jangan terlalu banyak berkomentar, tapi tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya.

Hidup orang beda-beda, kita gak bisa samain gitu aja dengan apa yang kita jalanin setiap harinya. Masalah orang beda-beda, apa salahnya sih, membantu orang? setidaknya mendengarkan?

Contoh dari hal-hal kecil, omongan kecil, seperti:
"Eh lo gendutan ya"
"Ah gausah nangis, cengeng banget lu"
"Kok aneh sih?"
"Kok jerawat lo jadi banyak gitu sih?"
"Eh, pr lo knp sih belom kelar kelar? males banget dah jadi anak"

Kita sendiri gatau kan, dibalik itu, bisa saja dia pikirin terus sampai rumah? Atau dia punya masalah lain, dan kalian justru nambah beban dengan kata kata kayak gitu?

"ah, baperan kali orangnya."

Orang berbeda beda, jangan mengambil kesimpulan terlalu cepat. Think twice.

Renungkan.

"How important every little thing you say to someone really is. And perhaps, it could save a life." -(13rw)

You never know how what you do will affect someone else.

Dan untuk kalian yang ngerasa kayak gitu, i really want you to know that you're not alone. Cerita. Jangan diem aja. Cari orang yg menurut kamu pas untuk diajak bicara. All the love for you all :)x

***ends here***

Dan satu lagi ditulis oleh Yosefinika Sinaga di blognya. Kalau yang ini aku copas-nya random.

****starts here***

Apa yang aku lihat didepan mata, suara-suara seperti apa yang aku dengar, juga semua yang aku rasakan, semuanya berasal dari pikiran. That is not dramatic, that is real.

Kalian tau seberapa mengganggunya pikiran yang ada? Hal seperti itu terjadi gitu aja. Orang lain gak akan ngerti. Banyak yang lebih memilih diam dibanding harus cerita. Karna mau cerita pun diri sendiri bingung nyampeinnya gimana. Orang lain yang gak merasakan seakan-akan belum siap buat buka telinga. Karna bisa jadi respon mereka seperti ini:

“ah ribet lo” // “drama banget sih hidup lo” // “emang lo doing yang punya masalah?!” // “baperan banget sih lo” // “mikirin amat” // “jangan dibikin susah lah” // “bermasalah mulu hidup lo” // “gausah over-acting lah” // “ah lo kayak gak tau aja dia gimana” // “sabar aja” // “makanya sering2 sholat, gereja, ibadah”

Teman-teman, yang mereka butuhkan adalah kesiapan telinga untuk mendengar. Itu saja membantu. Support? Lebih membantu. Respon diatas tidak membantu sama sekali, bahkan bisa menjatuhkan mereka lebih dalam lagi. Semakin dalam dari yang kalian bayangkan. Hingga akhirnya mereka hanya bisa berusaha menyelamatkan diri mereka sendiri. Guys, stop giving negative responses. Think twice before you judge their thought.

Kalau kalian tidak memiliki keberanian untuk memuji hasil seseorang, setidaknya jangan buat mereka selalu merasa kurang.

I know how hurts it is when you have no one to share and you just keep all your problem alone. I know how depressing it is when you can’t sleep at night feeling so empty yet overthiking about anything. Rasa takut, feel lonely, bingung, regrets everything, nyalahin diri sendiri disaat itu isn’t your fault, kangen sama banyak orang terdekat seperti halnya you are really losing them, suka nangis tiba-tiba tanpa alasan (just like feeling down), gak punya kepercayaan diri, terlalu merasa cemas akan apa yang terjadi, terus merasa bersalah sama apa yang belum terjadi, selalu takut mengecewakan perasaan orang lain, dan tidak nyaman dikelilingi orang-orang baru. Pikiran yang terlalu complicated seringkali akan berakhir seperti ini:

“kalaupun gue menghilang gak akan merubah apa-apa, jadi buat apa gue tetep ada” // “gue jadi gila kayaknya bakal lebih asik buat gak mikirin apa-apa” // “ngecewain orang lain nyiksa diri sendiri mending gue mati aja jadi orang lain gak akan sakit hati karna gue terus”

Tbh, beberapa pikiran diatas bener-bener pernah terlintas dibenak.

Mental kita semua beda-beda. Gak semua orang bisa disama-ratakan. Punya batasan untuk diri sendiri bukan berarti ngelupain hal kalau gak semua orang bisa sama kayak kita.
Mereka yang punya mental disorder.
Mereka yang punya mental pemikir.
Mereka yang terlalu sensitive.
Mereka yang mentalnya kuat.
Mereka yang mentalnya pesimis.
Atau mereka yang mentalnya ambisius.
We are all mentally different guys.

Memahami orang lain sama sekali gak ngerugiin. Seenggaknya, setiap dari kita gak buat orang lain selalu ngerasa kurang.

Coba lebih peduli sama sekitar, terutama orang-orang terdekat kita. Jangan hanya pahamin apa yang kelihatan, belajar buat ngerti apa yang secara gak sadar kita gak lihat.

“the people with the brightest smiles and loudest laughs are the one who hurt the most, and no one ever notice” – unknown

Can you help as much as you can to save their lives?

Siapapun yang pernah atau sedang merasakannya, listen to me. All survivors of our own problems. We are all have a reasons why we are here. Go find your happiness.

***ends here***

So, aku nggak maksa kalian buat sharing ke aku. Tapi, kalau kalian butuh teman cerita, aku siap jadi pendengar😊. Kontak aku aja via comment atau email ya! Hopefully you're all guys find your happiness. Because you're amazing, you're needed, you're loved. Please remember that.

Pamulang, 19 Desember 2017
15:55

Dinda Aulia Putri

2 comments:

  1. Pemikiran orang normal sama depresi jelas beda ya, orang normal suka nganggep pemikiran orang depresi lebay lah, drama lah atau apapun itu. Padahal orang yg sedang depresi bukan orang yg caper atau lagi ngedrama tapi mereka orang2 yang sedang bertahan untung menghadapi dunia yg kejam bagi mereka. Dan kekayaan atau ketenaran yg dimiliki emang gak selalu menjamin kebahagiaan dunia seperti yg dialami mendiang Jonghyun. Makannya peduli dengan teman yg sedang depresi itu penting bgt, kalo emang gak bisa jadi penasihat yg baik setidaknya kita bisa jadi pendengar yg baik buat mereka. Aku pecinta kpop, aku bukan fans SHINee dan Jonghyun not my bias too, tapi udah tau SHINee sejak 7 tahun yg lalu, dan merasa kehilangan banget dan sedih karena dia sosok yang bertalenta tapi selama ini dia gak bahagia :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kamu sudah merangkum isi tulisanku dgn sangat baik :)

      Delete