Search

I Love Me So Much


Tadi di perjalanan dari kosan menuju rumah, aku naik motor dibonceng kakakku. Ada hal menarik saat di lampu merah. Tbh, ini biasa aja sih sebenarnya tapi aku suka membahas hal yang biasa aja ini menjadi sebuah tulisan yang semoga bisa direnungkan, hehehe.

Di lampu merah, tepat di depan kami ada dua pemuda mengendarai motor. Keduanya sama-sama menggunakan motor vespa. Mereka baru saling kenal saat itu, di lampu merah. Hal menariknya, keduanya terlihat langsung akrab. Pembicaraan keduanya terlihat mengalir tanpa beban. Berisik sekali mereka, hehe. Tapi aku suka.

Dari situ aku belajar, kita ini secara natural akan selalu mendekat ke orang-orang yang memiliki kesamaan dengan kita. Entah itu dari kesamaan hobi, prinsip hidup, cita-cita, bahkan nasib buruk. Eits, nasib buruk itu bisa saling mendekatkan manusia, lho. Buktinya, karena merasa senasib seperjuangan akhirnya bangsa Indonesia mau sama-sama memperjuangkan kemerdekaan. Iya, kan?

Nah, dua pemuda itu sama-sama pecinta vespa (mungkin, menurut asumsiku). Vespa menyatukan mereka. Lucu ya, yang kita sukai dari diri orang lain itu ya sebenarnya diri kita sendiri. Kalau bahasanya Ust. Salim mah begini, "Pada dasarnya, tiap-tiap jiwa hanya takjub pada dirinya."

Ah, sama juga ketika kita jatuh cinta. Kita sebenarnya tidak cinta pada seseorang itu, kita hanya cinta pada diri kita yang tercermin dari dirinya. Kita hanya mencintai diri kita sendiri. Atau, kita mencintai harapan tentang diri kita yang terpantul pada diri orang tersebut. Misalkan, kamu punya cita-cita jadi penghafal Quran, pasti secara sadar ataupun nggak sadar kamu bakalan suka sama orang yang udah hafal Quran itu. As simple as that.

Simpelnya begini
Ukhti-ukhti pasti sukanya sama ikhwan macem akhi-akhi gitu, kan?
Orang yang cerdas pasti sukanya sama orang cerdas juga. Alasannya biar bisa nyambung kalau diskusi. Iya, kan?
Anak-anak gaul biasanya naksir anak gaul juga?
Orang yang pemikirannya dewasa seringnya (bukan berarti nggak mungkin) bakalan suka sama yang berpikiran dewasa juga. Benar begitu?

Yaah contoh-contoh di atas sebenarnya relatif sih. Soalnya tipe pasangan tiap orang itu nggak bisa disamaratakan. Akan selalu ada aja orang-orang yang suka "menabrak" standar yang udah diciptakan masyarakat.

Bagi yang udah punya pasangan (bagi jomblo harap bersabar :p), coba deh kamu lihat, sebenarnya kamu suka doi itu karena apa, sih? Benar nggak karena diri dia itu mirip kamu? Komentar ya di bawah buat sharing-sharing๐Ÿ˜Š

Pada akhirnya, aku percaya sih, jodoh itu benar-benar cerminan diri. Cermin. Kita seperti melihat diri kita sendiri pada diri pasangan kita (kelak). Terpantul sempurna. Meski tidak sama persis. Karena sejatinya kita hadir untuk saling melengkapi.

Maafkan aku yang kalau ngebahas sesuatu suka ngelantur. Dari dua pemuda vespa sampai jodoh, ya? Hehehe.

Oke, cukup sekian. Mohon maaf kalau tulisanku terkesan maksa. Ini cuma pendapat. So, take it easy ๐Ÿ‘Œ

Di kamar tercinta
Bekasi, 27 Desember 2017
17:57

Dinda Aulia Putri

Pict: Pinterest
#13

2 comments: