Waktu itu aku masih kelas XII. Sehabis main dari rumah teman, aku bersama seorang temanku pulang saat matahari hampir sempurna tenggelam.
Kami naik angkot. Tanpa sengaja, kami mendengarkan pembicaraan si sopir angkot dengan temannya. Kurang lebih isi pembicaraannya seperti ini.
"Najis amit-amit gua! Tuh cewek cakep juga percuma tapi nggak ada tata kramanya!" seru si sopir angkot, berapi-api.
"Iya, mending sama yang biasa aja gua mah daripada kelakuan begitu!" timpal temannya.
Dalam diam, aku tersentak. Tanpa bermaksud menganggap diri lebih baik dan tidak mengurangi rasa hormatku terhadap sopir angkot sebagai sesama manusia, aku berpikir.
"Sepenting itukah memiliki kepribadian yang baik?"
Cantik sering menjadi tolak ukur seorang perempuan. Terlepas dari berbagai perbedaan pandangan tentang makna "cantik". Aku percaya, cantik itu relatif. Lebih dari itu, sikap yang baik bagi seorang sopir angkot lebih penting daripada wajah yang cantik.
Aku tidak menafikan bahwa hal pertama yang dilihat laki-laki dari perempuan pastilah fisiknya. Ibarat mau beli buku pasti yang dilihat pertama itu cover-nya. Dan, kalimat "don't judge a book by its cover" baru bisa didalami maknanya jika kita berniat mengetahui isi buku itu lebih jauh. Benar begitu kan, para lelaki?
Aku mengerti, pantaslah Sang Nabi pernah bersabda,
"Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena martabatnya (keturunan/nasab), karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka hendaklah engkau mendapatkan wanita yang baik agamanya, niscaya engkau akan beruntung." (HR. Bukhari Muslim, dari Abu Hurairah)
Kata Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, "Yang benar tentang makna hadis ini adalah Nabi saw. mengabarkan tentang kenyataan yang biasanya terjadi di masyarakat. Mereka tatkala ingin menikah mencari empat perkara ini, dan biasanya yang menjadi pertimbangan terakhir adalah bobot agama dari wanita tersebut. Lalu beliau saw. menganjurkan hendaknya yang ingin mencari istri, dapatkanlah wanita yang baik agamanya. Bukan menjadi maksud hadis ini, jika Nabi saw. memerintahkan kita untuk mencari empat perkara kesemuanya. Ini adalah kekeliruan pemahaman pada sebagian kalangan kaum muslimin."
Dan, jawaban dari Mubarak, ayah dari Abdullah ibnu Mubarak yang merupakan tabi'in terkemuka, 'alim yang zahid dan mujahid, ketika ditanya sang majikan,
"Dengan siapa sebaiknya kunikahkan putriku satu-satunya itu, hai Mubarak? Bantu aku! Berikan pertimbanganmu!"
Mubarak menjawab santun, "Tuan, kudapati kaum yang menikahkan putrinya dengan pertimbangan nasab semata adalah musyrikin Quraisy. Dan kudapati, menikahkan anak perempuan dengan pertimbangan paras dan rupa di zaman ini, dilakukan sebagian orang-orang Nashrani. Kudapati pula, yang sering menikahkan putri mereka dengan pertimbangan kekayaan ialah sebagian Ahli Kitab dari kalangan Yahudi. Maka bagimu yang merupakan seorang mukmin; yang harus kaupertimbangkan soal calon menantu hanyalah agamanya, imannya, akhlaqnya!"
Jadi, agama dan iman seseorang berbanding lurus dengan akhlaknya. Akhlak, sikap, kepribadian, tata krama, dan sejenisnya. Aku sendiri sudah terlalu sering mendengar berita keretakan bahkan kehancuran rumah tangga disebabkan perangai sang istri. Terlalu sering. Nggak usah ditulis di sini semuanya, nanti jadi panjang, hehehe.
Ya begitulah ceritaku hari ini. Dari percakapan antara sopir angkot dan temannya sampai sabda Sang Nabi tentang perkara memilih calon istri. Semoga nyambung. Semoga bermanfaat.
Di rumah tercinta
Bekasi, 23 Desember 2017 / 5 Rabi'ul Akhir 1439 H
12:17
Dinda Aulia Putri
Pict: Pinterest
#9


0 comments:
Post a Comment