Search

Showing posts with label Motivation. Show all posts
Showing posts with label Motivation. Show all posts

Kepala Sekolah


Tepatnya di sore hari pada 29 Desember 2018, aku pergi berkeliling sekitar tempat tinggalku, Planet Bekasi Tercinta. Randomly aku datengin suatu tempat. Di sana aku ketemu sama seorang ibu. Ibu itu ngajak ngobrol aku duluan, sampai akhirnya aku tahu kalau ibu itu dulunya seorang kepala sekolah dari sekolah yang cukup terkenal di kotaku. Yang aku tahu tentang sekolah itu adalah sering banget menang lomba, wkwk.

Sebenarnya aku agak penasaran dengan bagaimana sistem pengajaran di sekolah itu, tapi aku tidak memancing alias aku biarkan ibu itu bercerita sambil kujawab sekenanya.

Gayung pun bersambut. Rasa penasaranku sedikit terjawab. Pasalnya, ibu itu menjadikan pengalaman dan sudut pandang perasaannya sebagai salah satu cara beliau memimpin.

"Sewaktu saya masih jadi guru di sana, ada temen kuliah saya yang jadi kepala sekolahnya. Pernah saya sapa dia, astaga nggak dijawab sama sekali sapaan saya," sambil si ibu mencontohkan gaya temannya yang mendongakkan kepala ke atas dengan wajah berpaling, "sakit hati saya, Dek. Dari pengalaman itu, saya nggak pernah melakukan hal yang sama ke guru-guru saat saya jadi kepala sekolah. Bahkan saya berusaha buat menyapa dan menjabat tangan guru-guru lebih dulu sebelum mereka berbuat itu ke saya."

"Posisi diangkat sedikit aja, hati manusia bisa langsung berubah ya, Bu." Aku berusaha meresponnya.

"Yang paling saya ingat selama pengalaman jadi kepala sekolah itu, saya nggak pernah menegur guru-guru di depan banyak orang kalau mereka berbuat kesalahan, saya selalu ajak ngobrol di kantor saya. Saya lakukan pendekatan aja ke mereka. Karena nggak enak banget kan, Dek, kalau dinasihati di depan umum gitu?"

Deg. Aku langsung keinget temanku yang matanya bengkak abis nangis karena sakit hati setelah ditegur di depan orang-orang.

Sebenarnya banyak lagi yang ibu itu ceritakan. Tapi aku mau mengambil pelajaran dari dua hal saja: Pertama, untuk jangan pernah memperlakukan orang lain dengan sesuatu yang kita sendiri pun nggak suka kalau diperlakukan seperti itu; Kedua, adab dalam menasihati saudara. Sebab nasihat di tengah khalayak lebih terasa sebagai hinaan.

Untuk poin kedua, pernah bersyair Imam Asy-Syafi’i, “Nasihati aku kala sunyi dan sendiri; jangan di kala ramai dan banyak saksi. Sebab nasihat di tengah khalayak terasa hinaan yang membuat hatiku pedih dan koyak, maka maafkan jika aku berontak.”

Juga kata Ustadz Salim, “Tiap orang punya caranya sendiri untuk menyampaikan nasihat. Permata pun bisa dilempar, diulurkan, atau diselip ke saku.” Maka bagaimanapun caranya, ambillah permata itu.

Setiap orang punya sisi kelam, punya aib, pernah berbuat kesalahan. "Kesanggupan menutup aib saudara dipadu keterampilan menasihati dan ketulusan doa adalah daya agung ukhuwah yg kian langka." Semoga kita selalu belajar menjadi manusia yang bisa memanusiakan manusia lain.


Dinda Aulia Putri

Kekayaan Tukang Becak


Gue ngambil foto ini waktu di Stasiun Juanda, sambil nunggu taksi online yang lagi otw. Setelah diperhatikan lebih dalam, gue sempet bertanya-tanya, gimana yah nasib tukang bajaj aka bajay di jaman yang serba modern ini? Pasti mereka banyak kehilangan customer karena orang kebanyakan bakal lebih milih naik taksi online, yang suaranya nggak berisik dan nggak pula panas-panasan.

Di saat mikirin itu, tiba-tiba gue teringat cerita yang pernah gue baca, tentang seorang tukang becak di Surabaya. Gue tulis seinget gue aja soalnya nggak ngecek bukunya lagi.

Ceritanya ada seorang Bapak Tukang Becak punya anak-anak yang hidupnya udah sukses di Jakarta. Si anak sering ngajak si Bapak supaya tinggal bareng mereka di Jakarta, juga biar si Bapak nggak usah narik becak lagi di usianya yang udah semakin senja.

Tapi, si Bapak Tukang becak itu nolak tawaran sang anak. Kenapa? Karena katanya dia mau bantu orang. Caranya dengan jasa menarik becak itu. Jadi, orang yang naik becak beliau boleh bayar berapa aja. Seribu rupiah pun akan diterima, tanpa protes. Uang hasil usahanya cukup untuk membiayai kehidupannya dan sang istri. Jadilah ia tetap nggak mau menerima tawaran anaknya.

Lucu ya, kadang kita menganggap orang lain kekurangan, padahal bisa jadi orang itu punya hati yang jauh lebih kaya daripada kita.

Bekasi, 7 Agustus 2018
22:00

Dinda Aulia Putri


Menulis Keabadian


"Hidup hanya sekali. Hiduplah yang berarti!"

Begitulah bunyi nasihat salah satu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor. Kita diberi kesempatan hidup ini hanya satu kali, jika yang satu-satunya itu disia-siakan, mau kapan lagi?

Bicara tentang hidup maka kita bicara juga tentang waktu. Sebab kita hidup berada di antara ruang dan waktu. Keduanya satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Aku yakin semua pasti setuju kalau waktu kita begitu berharga. Sehingga pernah ada yang mengatakan bahwa waktu adalah kado terbaik. Saat seseorang memberikan waktunya, dia telah memberikan sebagian dari hidupnya yang tidak mungkin kembali. Maka hargailah, siapapun itu yang telah memberikan waktunya untukmu.

Imam Syafi'i pernah bilang, "Jikalau Al-Qur'an hanya memiliki surah Al-Ashr, itu sudah cukup untuk menjadi pegangan bagi umat manusia."
Allah bersumpah dengan waktu, dan mengatakan di surah itu, manusia -semuanya- merugi kecuali mereka yang beriman, beramal shaleh, saling menasihati untuk menaati kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran. Dan, siapa yang tidak disibukkan dengan sesuatu yang bermanfaat, pastilah disibukkan dengan sesuatu yang sia-sia.

Aku percaya bahwa manusia itu tidak mati. Tidak peduli jasadnya telah hancur dihimpit bumi. Caranya? Menulislah. Menulislah, maka kamu akan abadi.

Apa jadinya jika Imam Bukhari tidak menulis? Mungkin saat ini kita makin dipusingkan mana yang sebenarnya hadis Nabi dan mana yang bukan. Sebab terlalu mudah manusia berdusta, demi kenikmatan dan kepentingan sementara.

Apa jadinya Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Khawarizmi, dkk, tidak menulis? Apa jadinya jika HAMKA, Pramoedya, Andrea Hirata, Asma Nadia, dkk, tidak menulis?
Apa mungkin kamu mengenal -paling tidak tahu- mereka?

Ayo, tulis nama kita di panggung sejarah. Jadilah penulis. Serta jadilah pribadi yang namanya layak ditulis. Selamat berkarya!

Btw, kalau kamu sedih terus bisanya cuma nulis galau, ya tulis aja. Trust me, someday it will be worth it. :")


Tangsel, 12-12-17
19:54

Dinda Aulia Putri

Menulis adalah Tugas Iman


"Ah, aku mah nggak bakat nulis, Din! Aku cuma hobi baca," celoteh seorang teman.

Aku jadi berpikir, benarkah menulis itu bakat? Tapi, Ahmad Fuadi pernah mengatakan kalau menulis itu kebiasaan. Seberapa berbakatnya pun seseorang dalam tulis-menulis, tidak akan ada karya jika ia tidak terbiasa. Intinya, bisa karena terbiasa. Hm, klise memang. Percayalah, hal yang klise ini sulit-sekali diistiqomahkan jika tidak ada niat yang kuat dalam diri.

Kata Imam Syafi'i juga, "Ilmu adalah binatang buruan, dan pena yang menuliskan adalah tali pengikatnya."
Mungkin karena manusia itu kodratnya pelupa, maka diciptakanlah pena.

Awal aku suka menulis sebabnya karena aku ingin bercerita tanpa disela. Ingin "merasa didengarkan" setidaknya oleh diriku sendiri. Saat itu aku percaya, kebanyakan orang ingin mendengarkan hanya karena mereka penasaran, bukan karena peduli. Maka bagiku menulis adalah luapan emosi yang tidak pernah bisa tersalurkan.

Aku pernah ingin sekali membagi tulisan-tulisanku, sampai aku tahu tentang seseorang. Ia menyimpan tulisan yang siap diterbitkannya lamaaaa sekali, katanya takut apa yang dituliskannya menjadi dosa jariyah yang tak terputus hingga hari kiamat.

Aku diam, sekaligus takut. Menatap buku yang disusun di rak-rak toko buku di kotaku. Ketika ribuan penulis berlomba-lomba menerbitkan karyanya, seseorang itu justru takut...

Teringat dengan karya yang dituliskan Hitler & Stalin dan karya yang dituliskan Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Al-Ghazali, Ibnul Qayyim, Ibnu Atha'illah, dkk. Itulah, menulis adalah pertaruhan berupa pilihan. Ia bisa menjelma jadi kebaikan atau keburukan, yang tidak terputus sampai akhir zaman.

Maka aku di sini, meminta siapa pun yang membaca tulisanku. Sekiranya ada yang keliru, tolong beritahu aku, dengan cara yang ma'ruf (baik).

Oh ya, aku ingin menutup tulisan ini dengan tweet dari Ust. Salim, hehehe.

Menulis juga bagian dari tugas iman; sebab makhluq pertama ialah pena, ilmu pertama ialah bahasa, dan ayat pertama berbunyi "Baca!"

Adapun ilmu yang diajarkan pada Adam & membuatnya unggul atas malaikat nan lalu bersujud adalah bahasa; kosa kata. (QS 2: 31)

Muhammad hadir bukan dengan mu’jizat yang membelalakkan; dia datang dengan kata-kata yang menukik-menghunjam, disebut ‘Bacaan’. Itulah, Al-Quran❤


Tangsel, 11 Desember 2017
20:51

Dinda Aulia Putri

Filosofi Air Mengalir Bagiku


"Yaudah nggak usah dipikirin. Hidup ngalir aja kayak air. Jalanin aja." kata seorang teman.

Aku berpikir panjang. Jadi, hidup di dunia ini sebenarnya untuk apa? Aku tahu, banyak sekali Al-Quran menjelaskan ini: untuk beribadah, untuk diuji siapa yang lebih baik amalnya.

Dan, apa sebenarnya kehidupan dunia ini?
Jika petani ditanya, mungkin ia akan menjawab, "Dunia ini seperti menanam di ladang, untuk dipanen hasilnya di akhirat nanti."
Jika musafir ditanya, mungkin inilah jawabannya, "Dunia untuk menyiapkan bekal, menuju hari-hari yang panjang, terlalu panjang dan tak memiliki akhir."
Jika aktor yang ditanya, mungkin ia menjawab, "Dunia ini panggung sandiwara. Penulis skenarionya dan sutradaranya adalah Tuhan. Jadi, mainkan saja peran terbaikmu untuk kisahmu sendiri. Biar Tuhan yang nanti menilai."

Benar ya, dunia ini ladang beramal.
Dunia ini tempat mengumpulkan bekal.
Dunia ini panggung sandiwara.
Dunia ini senda gurau.
Dunia ini tipuan belaka.
Dunia ini perhiasan.
Dunia ini bunga kehidupan.

Oh ya, kata temanku tadi, jalani saja hidup di dunia ini bagai air yang mengalir.
Tapi, bukankah secara alamiah, air hanya akan mengalir ke tempat yang lebih rendah?
Bukankah kualitas diri harus terus meningkat? Bukankah kita harus berpikiran maju? Bukankah hidup ini harus punya visi misi?

Dan, ya, aku menemukan jawabannya. Ini jawabanku. Terserah kamu kalau tidak setuju. Jika memang harus mengalir ke tempat yang lebih rendah, pastikan ia mengalir ke tempat yang benar.
Mungkin menuju pipa-pipa yang mengarah ke tempat-tempat baik.
Mungkin menuju turbin untuk menghasilkan pembangkit listrik.
Mungkin menuju lahan pertanian.
Dan lain-lain.

Yang jelas, menjadi bermanfaat. Sebab:
"...Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, ia akan tetap tinggal di bumi.." (Ar-Ra’d:  17)


Pamulang, 7 Desember 2017


Dinda Aulia Putri



Ciptakan Sejarahmu Sendiri


Pada usiaku yang otw dua dekade ini, aku jadi teringat pada cucu dari Stephen R. Covey bernama Shannon. Dia "berhasrat" mengabdikan hidupnya untuk anak-anak yatim Rumania. Shannon pernah bercerita ketika seorang anak kecil yang sedang sakit memuntahinya, kemudian dia mengulurkan tangan untuk dipeluk. Seketika itu juga dalam hati Shannon memutuskan, "Aku tidak mau menjalani kehidupan yang egois lagi. Aku harus membaktikan hidup untuk menolong sesama."

Juga, kata Ust. Salim, Remaja adalah sebuah musim di mana semua karakter bisa tumbuh, berakar dan mekar... Idealisme tinggi, dinamis, gejolak, sekaligus pendobrak.

Kemudian, tiba-tiba saja hal-hal hebat yang telah digoreskan oleh para pemuda dalam sejarah berputar random dalam otak.
* Bagaimana pada Ashabul Kahfi harus lari dan bersembunyi dalam menghadapi kejinya tirani.
* Bagaimana "penculikan" golongan tua oleh golongan muda ke Rengasdengklok menjelang kemerdekaan negeri ini harus terjadi.
* Bagaimana rezim militer yang bercokol lebih dari 30 tahun di 1998, bisa runtuh karena dorongan semangat muda untuk reformasi.
Dst.

Lalu aku bertanya pada diri, apa saja yang kamu sudah perbuat untuk hidup ini dan kematianmu nanti?
Di saat banyak anak muda sudah mencari pengalaman hingga melintasi benua, kamu masih sibuk galauin si dia?
Di saat banyak anak muda yang punya visi mencerdaskan bangsa dengan memaksimalkan segala potensi yang mereka bisa, kamu masih melakoni drama yang kamu tahu akhirnya sia-sia?

Ah, otak ini cuma mau bilang ke diri sendiri. Kamu, harus bisa menentukan prioritas dan ciptakanlah sejarahmu sendiri.


Pamulang, 6 Desember 2017


Dinda Aulia Putri

Ibu Madrasah Agung


Pernah aku baca salah satu postingan @maudyayunda yg isinya quote "Women who read are dangerous". Itu sebenarnya judul buku. Artinya, wanita yang membaca itu berbahaya. Oke, aku lebih suka mengartikannya "Wanita cerdas itu berbahaya."
.
Betapa tidak, manusia berhati kejam seperti Fir'aun bisa "melunak" tatkala sang istri memintanya agar jangan membunuh bayi Musa yg ditemukannya dan justru diangkat sebagai anak.

Betapa tidak, Ir. Soekarno, pahlawan sekaligus proklamator Indonesia, menjadi "lemah" saat berhadapan dengan wanita.

Betapa tidak, ketika cinta pada satu wanita mengorbankan 30.000 budak Hindu yang dibunuh setelah diperas tenaganya untuk pembangunan kuburan mewah bernama Taj Mahal serta tiga tahun kas negara bangkrut dan pajak dipungut paksa demi pembangunannya.

Pasti dibalik keputusan-keputusan penting pemimpin negara, ada sosok wanita hebat di belakangnya, di sisinya.
.
Sementara itu, kata seorang psikolog dan ahli pendidikan dari Harvard University, Howard Gardner, ada 9 macam kecerdasan di antaranya: kecerdasan visual, kecerdasan verbal, kecerdasan musik, bahkan kecerdasan atletik. Mengatakan Ronaldo atau Zidane lebih bodoh daripada Newton, kini akan terdengar cukup konyol. Sebab setiap orang punya potensi dan perannya masing-masing di dunia ini. Berhentilah mencetak dirimu sesuai harapan sosial, and just do your best :")

Nah, menjadi wanita berarti menjadi ibu, adalah madrasah agung. Bagi anak-anaknya, ibu yang cerdas adalah perpustakaan paling lengkap, kelas paling nyaman, lapangan paling lapang, tak pernah bisa ia digantikan oleh gedung-gedung tak bernyawa.

Mungkin benar pernyataan yang mengatakan, "Pendidikan anak itu bukan dimulai sejak dini, tapi sejak kamu memilih istri."

Juga, perkataan 'Umar bin Khattab, "Laki-laki sukses itu dapat dilihat dari dua hal. Pertama, siapa ibunya dan kedua, siapa istrinya."
Maka menjadi wanita cerdas bukan lagi penting, tetapi harus. 🙂


Tangsel, 5 Desember 2017
21:37

Dinda Aulia Putri

Pict: Pinterest

Ketulusan Muhammad


“Setelah itu, aku menghentikan tanyaku…” ujar Amr bin Al-Ash.

Saat mengingat Perang Shiffin, sosok Amr bin Al-Ash yang paling kuingat. Betapa tidak, arbitrase dengan mengangkat mushaf Al-Quran yang dilakukannya telah menorehkan sejarah panjang bagi umat Islam. Tapi, aku tidak suka membahas perpecahan kaum muslimin pada saat itu. Izinkan aku kembali ke titik di mana Amr bin Al-Ash baru saja disapa hidayah Islam.

Ketika itu, setelah hari Hudaibiyah yang menegangkan, Amr bersama Khalid ibn Walid dan ‘Utsman ibn Thalhah menuju Madinah menyatakan keislaman. Rasulullah ï·º menyambut mereka dengan penuh ketulusan dan dilayani sedemikian rupa, seakan beliau ï·º baru saja didatangi saudaranya yang sangat dirindukan.

Hari itu Amr merasa bahwa Sang Nabi pastilah sangat mencintainya. Itu terlihat dari bagaimana sikap dan tutur beliau ï·º terhadapnya. Itu juga pasti disebabkan bakat lisannya begitu rupa yang kelak bermanfaat bagi dakwah Islam. Akhirnya, Amr beranikan diri bertanya saat kudanya menjajari tunggangan Sang Nabi, “Ya Rasulallah, siapakah yang paling kaucintai?”
“Aisyah.” jawab Sang Nabi sambil tersenyum
“Maksudku, dari kalangan laki-laki.”
“Ayah Aisyah.”
“Lalu siapa lagi?”
“Umar.”
“Lalu siapa lagi?”
“Utsman.” Beliau menjawab sambil terus tersenyum.
“Setelah itu, aku menghentikan tanyaku,” kata Amr, “Aku takut namaku akan disebut paling akhir.”

Cerita ini sebenarnya terinspirasi dari Ust. Salim. Dan, izinkan aku menutup kisah ini dengan pamungkas dari beliau.

Amr tersadar, apalagi sesudah berbincang dengan Khalid dan ‘Utsman, bahwa Muhammad adalah jenis manusia yang membuat tiap-tiap jiwa merasa paling dicinta dan paling berharga. Dan itu bukan basa-basi. Muhammad tak kehilangan kejujuran saat ditanya.

Nabi itu indah dan menakjubkan memang. Tapi yang paling menarik dari dirinya adalah bahwa berada di dekatnya menjadikan setiap orang merasa istimewa, merasa berharga, merasa memesona. Dan itu semua tersaji dalam ketulusan yang utuh.

اللهم صل وسلم وبارك على نبينا وحبيبنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
Ya Allah, curahi kami rahmat-Mu agar kelak bersamanya di surga 😭


Tangsel, 1 Desember 2017/13 Rabiul Awal 1439 H

Dinda Aulia Putri

Puncak


Bismillah…

Suatu malam ada teman kampusku menginap di kosanku. Dia suka hiking. Saat itu dia menceritakan bagaimana pengalamannya mencapai puncak. Entah kenapa aku menangkap hal yang berbeda dari kata “puncak” itu.

Saat kita sudah benar-benar berada di puncak, tidak ada pilihan lain setelah itu kecuali turun.
Saat malam sudah terasa semakin pekat, itu tanda paling jelas bahwa fajar telah dekat.
Saat hujan hampir menutupi segala penglihatan, itu artinya akan muncul pelangi di hadapan.
Saat salju telah mencekam semua makhluk bernyawa, itu juga tanda bahwa musim semi akan tiba.

Aku dan perasaanku pada saat itu telah mencapai puncaknya. Dan, aku makin mengerti bahwa benar sekali pernyataan ini,
“Adakalanya perasaan itu mencapai klimaksnya, dan itu tidak selalu berupa penyatuan.”
Di mana air mata sudah tidak bisa lagi menjelaskan rasa sakit, aku tahu bahwa pasrah adalah jalan keluar paling menentramkan. Musuh yang paling sulit untuk ditaklukkan adalah diri sendiri. Bagaimana memanjemen rasa yang ada agar ianya menjadi kebaikan.

Dari perjalanan seorang “shalih” juga aku belajar, bahwa pencapaian tertinggi seorang anak manusia adalah bagaimana ia bisa ridha atas segala ketetapan Allah. Ikhlas menerimanya karena sejatinya segala sesuatunya memang hanya titipan, termasuk perasaan. Dan, bahwa hidup ini hanyalah tentang penerimaan. Tentunya setelah melalui the best steps of ikhtiar.

Itulah kenapa di dalam sebuah hadis tentang fadhilah dzikir dikatakan,
“Tidaklah seorang muslim membaca ‘Radhitu billahi rabba, wa bil Islami diinaa, wa bimuhammadin nabiyya’ saat ia memasuki sore hari sebanyak tiga kali dan di pagi hari tiga kali, kecuali wajib bagi Allah untuk meridhainya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad No. 18199)
Wajib bagi Allah untuk meridhainya. Bukankah tujuan utama hidup kita adalah meraih ridha Allah? Kalau Allah sudah ridha; jangankan dunia, surga pun akan dikasih tanpa diminta. Ibarat kalau seseorang udah cinta banget sama kekasihnya, apa sih yang nggak akan diturutin dari kemauan kekasihnya itu? Begitulah Allah.

Yang jadi jawaban besar adalah bahwa tidak semudah itu meraih ridha Allah. Hal itu ada pada amalan hati, bukan sekadar amalan lisan. Betapa mudah mengucapkan kalimat seperti di atas sebanyak tiga kali di tiap pagi dan petang, tapi hati? Apa sudah benar-benar ridha Allah sebagai Rabb? Percaya bahwa Dia Mengatur segala urusan hamba-Nya dan tidak akan menzalimi kita, namun di hati masih terbesit “Ah, betapa tidak adilnya hidup ini.” atau “Kenapa Engkau beri kelebihan itu pada si Fulan, ya Allah, sedang padaku tidak?” dan sejenisnya.

Puncak. Ya, puncak.
Di puncak kepasrahan Hajar yang ditinggalkan sang suami, di tengah gurun pasir tanpa ada tanda-tanda kehidupan, harus lari bolak-balik tujuh kali antara Shafa dan Marwah, lalu Zamzam justru muncul dari bawah telapak kaki bayi Ismail. Begitulah, Allah kirimkan bukti bahwa terkadang hasil itu tidak sesuai dengan apa yang kita perjuangkan. Jangan bersedih, Dia lebih tahu di mana tempat terbaik, kapan saat terbaik, dan bagaimana cara terbaik. Pada puncaknya, tugas kita hanya percaya, bahwa Allah tak pernah aniaya.

Puncak. Ya, puncak.
Tidak kutemukan di mana lagi puncak ketenangan hati, kecuali pada Allah Yang Mahatinggi.


Tangsel, 27 November 2017
12:34

Dinda Aulia Putri

Merasa Dimanfaatkan? Mari Beryukur!


Kalau orang baik sama kita, segani. Jangan malah dimanfaatin, Karena kemungkinan besar mereka baik, tapi tidak bodoh.

Kutipan itu aku dapat dari OA galau di Line. Atau sejenis umpatan yang isinya kekesalan karena merasa dimanfaatkan sama teman sendiri, yang akan meninggalkan dia ketika sudah tidak butuh lagi.

Aku bertanya, ada apa dengan orang-orang ini?

Ketika ditanya apa cita-citanya, kebanyakan menjawab.

"Ingin jadi orang yang bermanfaat."

Lalu ketika ada teman yang mengambil manfaat dari dirinya, dia merasa dimanfaatkan, kesal, ngatain dateng pas butuh doang, dsb.

Bukankah Allah sudah mewujudkan cita-citanya untuk jadi orang yang bermanfaat? Yaa meskipun masih dalam skala kecil. Dan, bukankah sesuatu yang besar selalu berasal dari yang kecil dulu? Bukankah perjalanan seribu kilometer itu selalu dimulai dari langkah pertama?

Sejujurnya ini catatan untuk diriku sendiri yang suka kesal gara-gara ada teman yang datang pas butuhnya aja terus tiba-tiba hilang tanpa bekas. Nggak ada pedulinya sama aku kalau aku lagi susah. Dari situ aku jadi belajar untuk selalu minta ke Allah aja. Minta jalan keluar ke Allah. Minta solusi hanya ke Allah. Minta segala sesuatunya cuma ke Allah. Alhamdulillah... Segala puji bagi Allah yang mendatangkan dan menghilangkan orang-orang dari hidup seorang hamba-Nya sebab Dia ingin hamba itu hanya bergantung pada Dia.


Back to the quotes. Orang baik harus disegani? Menurutku sih tanpa perlu diminta, orang baik itu pasti disegani. Sebab aura kebaikan itu memancar dari dalam dirinya yang bikin orang-orang segan untuk berbuat buruk kepadanya.

Orang baik itu tidak bodoh? Ah, sebenarnya tidak ada makhluk yang bodoh. Semuanya unggul pada kualitas pribadinya masing-masing. Itu seperti quote dari Albert Einstein, "Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid."
Artinya, "Setiap orang itu jenius. Tapi jika kamu menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, ia akan hidup selamanya dengan menganggap dirinya bodoh."

Jadi, setiap orang itu udah punya kapabilitasnya masing-masing untuk menjalani peran hidupnya di dunia ini. Kebanyakan orang mengatakan punya cita-cita yang menyenangkan itu sama dengan mengikuti passion. Tapi jangan hanya bicara tentang passion, sebab ada yang lebih penting dari itu, yaitu:

Menjadi orang yang bermanfaat!


"...Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, ia akan tetap tinggal di bumi.." (Ar-Ra’d:  17)


Di Lantai 5 Asrama Putri
Pamulang, 31 Juli 2017


Dinda A. Putri