Search
Filosofi Air Mengalir Bagiku
"Yaudah nggak usah dipikirin. Hidup ngalir aja kayak air. Jalanin aja." kata seorang teman.
Aku berpikir panjang. Jadi, hidup di dunia ini sebenarnya untuk apa? Aku tahu, banyak sekali Al-Quran menjelaskan ini: untuk beribadah, untuk diuji siapa yang lebih baik amalnya.
Dan, apa sebenarnya kehidupan dunia ini?
Jika petani ditanya, mungkin ia akan menjawab, "Dunia ini seperti menanam di ladang, untuk dipanen hasilnya di akhirat nanti."
Jika musafir ditanya, mungkin inilah jawabannya, "Dunia untuk menyiapkan bekal, menuju hari-hari yang panjang, terlalu panjang dan tak memiliki akhir."
Jika aktor yang ditanya, mungkin ia menjawab, "Dunia ini panggung sandiwara. Penulis skenarionya dan sutradaranya adalah Tuhan. Jadi, mainkan saja peran terbaikmu untuk kisahmu sendiri. Biar Tuhan yang nanti menilai."
Benar ya, dunia ini ladang beramal.
Dunia ini tempat mengumpulkan bekal.
Dunia ini panggung sandiwara.
Dunia ini senda gurau.
Dunia ini tipuan belaka.
Dunia ini perhiasan.
Dunia ini bunga kehidupan.
Oh ya, kata temanku tadi, jalani saja hidup di dunia ini bagai air yang mengalir.
Tapi, bukankah secara alamiah, air hanya akan mengalir ke tempat yang lebih rendah?
Bukankah kualitas diri harus terus meningkat? Bukankah kita harus berpikiran maju? Bukankah hidup ini harus punya visi misi?
Dan, ya, aku menemukan jawabannya. Ini jawabanku. Terserah kamu kalau tidak setuju. Jika memang harus mengalir ke tempat yang lebih rendah, pastikan ia mengalir ke tempat yang benar.
Mungkin menuju pipa-pipa yang mengarah ke tempat-tempat baik.
Mungkin menuju turbin untuk menghasilkan pembangkit listrik.
Mungkin menuju lahan pertanian.
Dan lain-lain.
Yang jelas, menjadi bermanfaat. Sebab:
"...Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, ia akan tetap tinggal di bumi.." (Ar-Ra’d: 17)
Pamulang, 7 Desember 2017
Dinda Aulia Putri
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)


0 comments:
Post a Comment