Kali ini gue mau nulis untuk menjawab salah satu pertanyaan di akun ask.fm gue.
Question:
"Kamu punya lelucon favorit? Coba ceritakan!"
My Answer:
Gue mau cerita tentang Gilang, adek gue tertjintah. Dia orangnya kocak, tapi ngeselin.
Gilang suka ribut-ribut luchu gitu sama nenek aing. Suatu ketika si nenek manggil Gilang kan, "Lang, udah makan?"
"Ini lagi makan," jawab Gilang dari arah kamar. Dia makan di kamar, btw. Susah dibilangin buat nggak usah makan di kamar.
"Makan apa?" tanya Nenek lagi.
"Makan ayam."
"Hah? Makan apa?" Nenek gue pendengarannya memang udah kurang, kan. Maklum udah tua juga.
"AYAM," teriak Gilang agak keras.
"Apaan?"
"Yam-a-yam-a-yam-a-yam-a-yam-a-yam-a-yam..." begitu terus dia ngomong sampai tidak ada suara lagi dari arah si nenek.
Tapi terdengar samar suara langkah kaki.
Nenek gue ngebuka pintu kamar.
"Makan apa?" tanya Nenek lagi sambil ngeliat ke arah Gilang.
Habis kesabaran. Gilang jawab, "KUKUURUYUUUK.... KUKURUYUUK... PETOK PETOK PETOK!!!" gayanya sambil matok-matok gitu, haha.
Nenek gue masang tampang bingung. Kocak banget asli.
"Apaa? Kukuruyuk?"
Memutar bola mata kesal Gilang jawab, "Iyang makan ayaaaam! Ayam kan bunyinya kukuruyuk."
"Oh, ayam toh."
Lalu nenek gue pun berlalu pergi.
HAHAHAHAHA.
Ngakak banget ini๐. Waktu diceritain Gilang juga. Cara dia cerita lucu banget, ya Allah. Nggak bosen dah di rumah kalau ada dia. I love my lil brother to the moon and back.
Udah, gue mau cerita itu aja. Bye.
Bekasi, 29 Desember 2017
22:39
Dinda Aulia Putri
#14
Search
Home / Brothers
Showing posts with label Brothers. Show all posts
Showing posts with label Brothers. Show all posts
I Love Me So Much
Tadi di perjalanan dari kosan menuju rumah, aku naik motor dibonceng kakakku. Ada hal menarik saat di lampu merah. Tbh, ini biasa aja sih sebenarnya tapi aku suka membahas hal yang biasa aja ini menjadi sebuah tulisan yang semoga bisa direnungkan, hehehe.
Di lampu merah, tepat di depan kami ada dua pemuda mengendarai motor. Keduanya sama-sama menggunakan motor vespa. Mereka baru saling kenal saat itu, di lampu merah. Hal menariknya, keduanya terlihat langsung akrab. Pembicaraan keduanya terlihat mengalir tanpa beban. Berisik sekali mereka, hehe. Tapi aku suka.
Dari situ aku belajar, kita ini secara natural akan selalu mendekat ke orang-orang yang memiliki kesamaan dengan kita. Entah itu dari kesamaan hobi, prinsip hidup, cita-cita, bahkan nasib buruk. Eits, nasib buruk itu bisa saling mendekatkan manusia, lho. Buktinya, karena merasa senasib seperjuangan akhirnya bangsa Indonesia mau sama-sama memperjuangkan kemerdekaan. Iya, kan?
Nah, dua pemuda itu sama-sama pecinta vespa (mungkin, menurut asumsiku). Vespa menyatukan mereka. Lucu ya, yang kita sukai dari diri orang lain itu ya sebenarnya diri kita sendiri. Kalau bahasanya Ust. Salim mah begini, "Pada dasarnya, tiap-tiap jiwa hanya takjub pada dirinya."
Ah, sama juga ketika kita jatuh cinta. Kita sebenarnya tidak cinta pada seseorang itu, kita hanya cinta pada diri kita yang tercermin dari dirinya. Kita hanya mencintai diri kita sendiri. Atau, kita mencintai harapan tentang diri kita yang terpantul pada diri orang tersebut. Misalkan, kamu punya cita-cita jadi penghafal Quran, pasti secara sadar ataupun nggak sadar kamu bakalan suka sama orang yang udah hafal Quran itu. As simple as that.
Simpelnya begini
Ukhti-ukhti pasti sukanya sama ikhwan macem akhi-akhi gitu, kan?
Orang yang cerdas pasti sukanya sama orang cerdas juga. Alasannya biar bisa nyambung kalau diskusi. Iya, kan?
Anak-anak gaul biasanya naksir anak gaul juga?
Orang yang pemikirannya dewasa seringnya (bukan berarti nggak mungkin) bakalan suka sama yang berpikiran dewasa juga. Benar begitu?
Yaah contoh-contoh di atas sebenarnya relatif sih. Soalnya tipe pasangan tiap orang itu nggak bisa disamaratakan. Akan selalu ada aja orang-orang yang suka "menabrak" standar yang udah diciptakan masyarakat.
Bagi yang udah punya pasangan (bagi jomblo harap bersabar :p), coba deh kamu lihat, sebenarnya kamu suka doi itu karena apa, sih? Benar nggak karena diri dia itu mirip kamu? Komentar ya di bawah buat sharing-sharing๐
Pada akhirnya, aku percaya sih, jodoh itu benar-benar cerminan diri. Cermin. Kita seperti melihat diri kita sendiri pada diri pasangan kita (kelak). Terpantul sempurna. Meski tidak sama persis. Karena sejatinya kita hadir untuk saling melengkapi.
Maafkan aku yang kalau ngebahas sesuatu suka ngelantur. Dari dua pemuda vespa sampai jodoh, ya? Hehehe.
Oke, cukup sekian. Mohon maaf kalau tulisanku terkesan maksa. Ini cuma pendapat. So, take it easy ๐
Di kamar tercinta
Bekasi, 27 Desember 2017
17:57
Dinda Aulia Putri
Pict: Pinterest
#13
Flashback Paling Indah
"Menurut lu, kalau ada orang yang pernah hafal Quran terus dia lupa, kira-kira dia mau ngafal ngulang nggak?" tanya Abangku memulai percakapan tadi pagi. Kami memang ngobrol menggunakan "gua-lu", hehe. Maklumi ya, Pemirsa.
"Mau dong," ujarku singkat.
"Itulah bedanya. Gua main COC, level udah tinggi terus tiba-tiba akunnya kehapus. Fix, langsung gua uninstall," jelasnya.
"Gilang juga di LS pangkat udah tinggi terus kebanned, langsung pensi dia mainnya," jelasku sambil tidak bisa menahan tawa. By the way, Gilang itu nama adikku, dan pensi itu artinya udah nggak mainin suatu game lagi.
Percakapan seperti ini sering terjadi antara aku dan saudara-saudaraku yang memang semuanya laki-laki. Aku perempuan sendiri, hehe. Dan, mereka gamers semua.
"Itulah bedanya. Orang yang menghafal Alquran pasti mau mengulangi hafalannya lagi. Sedangkan selain Alquran, seakan kehilangan "hasrat" ngulanginnya itu." Kata si Abang.
Ya, pernyataannya benar. Walau mungkin ada beberapa yang nggak setuju. Sebab di beberapa kasus, banyak gamer yang mulai main game yang sama lagi setelah sekian lama, atau istilah lainnya vakum.
Aku pribadi menyamakannya dengan membaca novel. Baca novel yang sama dua kali, itu ibarat balikan sama mantan, hehehe. Udah tahu ending-nya kayak gimana. Nggak seru. Eh, aku nggak punya mantan lho, ya. Aku nggak main pacar-pacaran. Heu, jadi salah fokus kan :")
Nah, begitulah. Kalau Alquran, kita baca berulang kali (tentunya baca ulang artinya juga), pasti adaaaa aja hal baru yang didapatkan. Serasa dapat ilham gitu. Itu juga kalau kita benar-benar mau menggunakan akal sesuai yang diperintahkan Allah dalam kitab-Nya.
َูุขَูุงุชٍ ِูุฃُِููู ุงْูุฃَْูุจَุงุจِ
"Tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal." [Ali-Imran: 190]
ุฅَِّู ِูู ุฐََِٰูู َูุนِุจْุฑَุฉً ِูุฃُِููู ุงْูุฃَุจْุตَุงุฑِ
"Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (mata hati)." [Ali-Imran: 13]
ุฃَََููุง ุชَุชَََّููุฑَُูู
"Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?" [Al-An'am: 50]
ุฃَََููุง ุชَุนَُِْูููู
"Tidakkah kamu mengerti?" [Al-Baqarah: 44]
Dan masih banyak ayat-ayat lainnya.
Ah, jadi ingat perkataan Ustadzku tentang Alquran yang mulia dan memuliakan.
Selembar kertas menjadi mulia, jika yang dituliskan di atasnya ayat-ayat Alquran. Buktinya kalian tidak akan mau menginjaknya, kan?
Kulit kambing menjadi mulia, jika yang diukir ayat-ayat Alquran. Beda kan kalau ia dijadikan jok motor?
Nabi Muhammad saw. menjadi mulia karena kepadanya diwahyukan Alquran.
Kota Mekkah dan Madinah menjadi mulia, karena di sana diturunkan Alquran.
Bulan Ramadhan menjadi mulia karena pada saat itu diturunkan Alquran.
Lailatul qadr menjadi malam paling mulia karena itu waktu khusus diturunkan Alquran.
Umat Islam menjadi mulia karena Allah berikan petunjuk berupa Alquran.
Lalu sekarang pikirkan bagaimana kiranya Allah akan memuliakan manusia yang di dalam dadanya ada Alquran? Kemudian, ia mengamalkannya dan mengajarkannya ke orang lain?
Imam Bukhari mencatat dalam Shahih-nya.
ุฎَْูุฑُُูู
ْ ู
َْู ุชَุนََّูู
َ ุงُْููุฑْุขَู َูุนََّูู
َُู
"Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya."
Ya Allah, jadikanlah kami dan anak keturunan kami termasuk Ahlul Quran.
Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam surga bersama Alquran.
Aamiin ya Allah.
Pamulang, 18 Desember 2017
22:40
Dinda Aulia Putri
#4
Topeng Si Bandel Kesayangan
Mengingat kata "topeng" gue cuma bisa tertawa geli. Pasalnya adek gue, Gilang, sedang demam main hacker-hackeran sejak virus WannaCry kemarin yang rame banget diomongin. Hahaha. Denger kata "hacker" gue langsung inget film Jerman yang judulnya "Who Am I" yang gue tonton waktu pelajaran Bahasa Indonesia kelas 12 karena kita bosan. Fix, jangan ditiru. Gue dan Kakak gue kasih liat film itu ke Gilang. Walhasil, dia jadi gila. Parahnya, nggak lebih dari seminggu yang lalu,
Gilang udah nonton ulang film itu sampe 12 kali.
WKWKWKWK.
Buset dah. Adek gue kalo kebawa arus gitu amat yak๐. Semua tingkah lakunya sekarang macem hacker aja. Sampe beli topeng yang mirip Clay. Puluhan ribu direlain padahal kalo disuruh sedekah susahnya minta ampun. Mungkin dia belum dapet hidayah. Kalo udah, bisa jadi dia lebih gila sedekahnya dari semua orang di rumah ini. Hahaha.
"Plis lu punya duit beli yang berfaedah dikit kek" komentar gue
"Ntar gua pake jaket terus pake topengnya. Foto dah!"
"Liat aja besok mama buang topengnya!" HAHAHA
Mama yang transfer tapi kok Mama yang buang sih. Sa ae ah si Mama ๐
Intinya, dia tuh gampang banget kebawa arus. Gampang suka sama sesuatu yang menurut dia keren. Gue banget nih.
Eh btw, pernah loh Gilang tuh kecanduan main. Emang dari dulu sih dia doyan main๐. Dia bisa anggap main tuh lebih berharga dari emas tau gak ahahaha. Waktu awal-awal diajak umroh aja dia gak mau karena katanya waktu main dia bakalan berkurang. Padahal itu umroh udah gratis alias dibayarin orang. Kita udah pasrah Gilang gak bakalan ikut, sampe H-seminggu keberangkatan, alhamdulillah dia dapat hidayah (read: berubah pikiran). Diurus deh tuh segala keperluannya dan berangkat juga. Emang Allah yang Maha Membolak-balikkan hati ya, sekarang dia malah kecanduan mau balik lagi. Anggep Indonesia gak seasik di sana lah, apa lah. Bahkan, dia minta dibeliin gamis buat cowok. HAHAHA mimpi apa gue bakalan liat Gilang minta pake gamis. Biasanya mah, celana abu-abu buat dia SMA aja udah dikecilin sendiri tanpa sepengetahuan Mama. Alay emang. Mungkin sedang masa pencarian jati diri ahahha. Doakan saja.
Pernah abis pulang umrah gue bilang punya cita-cita.
"Pokoknya gue harus jadi orang kaya, biar bisa berangkat umrah/haji minimal satu tahun sekali. Minimal banget."
"Gua bakal bisa sehari sekali!!!" jawab Gilang.
"Heleh gimana caranya sehari sekali?! Gak pulang-pulang dong lu?"
"Bodo gua harus ngelebihin lu dalam hal apa pun."
Bagus juga sih dream-nya, tapi jawabannya bikin gue kzl. Hahaha.
Ini beberapa percakapan gak penting gue kalo lagi sama dia. Gak penting tapi cukup bisa menghilangkan stres karena banyak pikiran yang gak bisa gue ceritain ke siapapun. Gue pakenya gue-lo karena emang udah biasa aja wkwk.
"Kak lu mesti tau, sebenarnya gua yang bikin virus WannaCry itu. HAHAHA."
"Bodo lang bodo."
"Kenapa sih nama lu mesti dinda?! Mending gak usah punya nama gua mah" (nada bicara sangat mengejek)
"Daripada lu, gilang itu singkatan dari: orang gila dan ilang"
"Elah iya ya!" lalu teriak ke Mama "Nama iyang kok jelek sih mah?!"
"HAHAHHAHA" gue ngakak karena merasa menang
"Kenapa sih keluarga kita gak ada yang namanya Muhammad? Coba nama gua Muhammad Gilang, keren kali ya."
Hingga suatu hari gue bisa menemukan instagram gilang tanpa sengaja, liat namanya di sana "Muhammad Gilang".
Anjir gue ngakak guling-gulingan. Bener-bener dia ganti sendiri namanya WKWKWK.
Udah ah segitu aja ceritanya. Bye.
Bekasi, 2 Juni 2016
Dinda A. Putri
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)


