Malam ini gue mau jawab lagi pertanyaan dari akun ask.fm gue. Sorry ya pake "gue" soalnya biar nggak timpang di akhir, wkwk. Btw, menurut gue sih ini penting. Dan, sebagai catatan untuk diri gue sendiri juga.
Question:
"bagaimana tanggapan kamu tentang banyaknya cewe berjilbab namun sebenarnya masih suka mesum sama pacarnya?"
My Answer:
Gue jadi ingat dosen fiqih, Ibu Ummi. Beliau itu bergelar profesor di bidang fiqih. Perempuan lagi. Masya Allah. Kece abis!
Waktu itu kami lagi bahas thaharah (bersuci). Thaharah ini kunci syarat sahnya shalat. Jadi nggak bisa asal-asalan. Pantes banget pernah ada hadis begini.
Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersihkanlah diri dari pipis. Karena kebanyakan siksa kubur berasal dari bekas pipis tersebut.” Diriwayatkan oleh Ad Daruquthni.
Diriwayatkan pula oleh Al Hakim, “Kebanyakan siksa kubur gara-gara (bekas) pipis.” Sanad hadits ini shahih.
Intinya, siksa kubur kebanyakan berasal dari bekas pipis. Kenapa disiksa? Ya karena kalau dia mau shalat terus dalam keadaan belum suci, ya nggak sah dong shalatnya. Sedangkan shalat itu wajib, tiang agama. Kudu-mesti-harus dilakuin walaupun kita dalam keadaan sekarat. Selama hayat masih dikandung badan, shalat tetap wajib bagi seorang muslim.
Terus, Allah bilang di Alquran, shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Itu jaminan dari Allah, lho. Masih ada keraguan dari perkataan Allah di hati kita?
Oh ya, untuk masalah wudhu. Gue pernah lihat langsung orang yang wudhu-nya masih asal-asalan. Ada yang nggak membasuh air sampai ke siku karena ribet gulung lengan bajunya yang panjang (terutama cewek), dan ada yang ngusap wajahnya sekedarnya gitu karena takut make up-nya luntur (cewek lagi). Heloow, guys! Ini mau ketemu Allah, lho. Masa lebih mentingin penampilan di depan makhluk sih dibanding Pencipta kita?
Oke, back to the question. Kenapa banyak cewek berjilbab namun sebenarnya masih suka mesum sama pacarnya?
Jawabannya simpel. Periksa thaharahnya, terutama wudhu sebelum shalat, dan shalat itu sendiri. Kalau shalat kita sudah benar (sesuai syarat yang Allah mau) insya Allah itu udah cukup untuk mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar. Nggak akan mau deh diajak mesum sama pacar. Hm, mungkin nggak akan mau pacaran juga kali ya.
Btw, tentang pacaran. Orang yang nggak pacaran dengan alasan agama sih biasanya bilang, kalau pacaran itu zina. Zina mata, zina telinga, zina hati, dll. Zina lah pokoknya. Terus, ada orang yang pacaran berargumen, "Emang orang yang nggak pacaran nggak bakalan zina apa? Nggak suka cuci mata ngeliatin foto doi (zina mata)? Nggak suka mikirin doi (zina hati)? Nggak suka telponan sama doi (zina telinga)? Suka, kan? Udahlah nggak usah sok suci. Hahaha.
Begitu. Gue pernah baca statement kayak gitu, wkwkwk. Dan, gue udah punya jawaban yang super nonjok dari Aufar, dia anak TI UI. Gue langsung copas aja ya jawabannya di sini.
Makanya menurut gue kalo lo sayang dan lo suka, gausah pacaran. Lo sahabatan atau deketlah apalah, tapi jangan statusnya pacaran. Why? karena status tuh ngaruh di psikologis lo. Kalo status lo berdua pacaran, believe me lo kalo mau rangkulan pelukan dkk dst rada ga takut "ah kan pacaran ini wajar." tapi kalo lo gaada status, sedeket2nya lo paling verbal/lisan doang kan ngobrol, lo mau zina fisik pasti segan atau malu krn lo gaada status. Islam gak ngelarang orang saling mencintai. Sebenernya Taaruf itu de facto nya sama aja, cuma bedanya beneran diniatin buat nikah, minta izin buat ngedeketin sama keluarganya, dan lo gak berduaan sama dia.
Dan lagi menurut pendapat gue, kenapa sih lo masih muda aja seolah2 hidup lo urusanya cinta doang? kayak hidup lo sia2 bgt dihabiskan buat urusan cinta doang? dunia tuh luas, amazing, cari pengalaman sana-sini. Daripada lo sia2in tenaga dan waktu lo buat hal yang emosi anak muda aja belom bisa handle, mending lo kembangin diri lo sebagus2nya. Ntar kl udah gede tinggal deketin nikah deh simple kan.Orang seumuran kita darahnya masih panas menggebu2, termasuk gue. There is a thin line between love and lust, dan unfortunately kita masih belom cukup dewasa untuk ngebedain itu
Jleb abis. Itulah. Pacaran ngaruh ke psikologis kita sebagai remaja. So, nggak usah pacaran! Tenang, jodoh nggak akan ke mana kok. Semoga kata-kata penutup ini bikin hati tenang.
Ya Allah, bimbing kami untuk selalu memperbaiki shalat kami, agar Kau jaga kami dari perbuatan keji. Aamiin.
Salam hangat,
Bekasi, 30 Desember 2017
00:30
Dinda Aulia Putri
#15
Search
Home / Islamic Inspiration
Showing posts with label Islamic Inspiration. Show all posts
Showing posts with label Islamic Inspiration. Show all posts
Israel, Stanford, dan Tidurnya Umat Muslim?
Pada Maret 2016, aku pernah mengupload foto di salah satu instagram fake account milikku. Ya, aku bikin fake account itu karena aku mau kenal sama banyak orang tanpa orang itu tahu identitas aku. Rasanya seru aja, hehe.
Nah, pernah suatu ketika ada orang luar yang komentar di foto aku. Aku nggak jawab komentarnya, tapi langsung ngecek akun orang itu. Di postingan terakhirnya dia ngupload foto waktu di Tel Aviv. Hm, karena aku kepo dengan yang berbau wahyudi-wahyudi gitu, jadinya aku stalk terus. Naluri kayaknya hahaha.
Ada beberapa foto yang dia upload waktu di Israel. Dia jarang upload foto dirinya. Tapi, ada tiga deh kalau nggak salah foto dia tuh. Lumayan ganteng lagi. Sue emang wkwk. Tebakan aku sih dilihat dari wajah dan postur tubuhnya, dia campuran Israel-Eropa. Bisa bayangin gantengnya nggak? Lol.
Btw, yang bikin aku sedih, ternyata doi pinter. Pinter. Banget. Dia suka upload karyanya. Misal, rancangan bangunan gitu, tapi bukan bangunan biasa. Itu bangunan mirip benteng. Selain arsitektur mirip benteng, ada juga rancangan senjata gitu. Keren deh. Bukan cuma asal gambar, tapi kayak ada pengukurannya gitu. Terus, ada juga rancangan mobil-mobil perang tapi lebih mirip tank gitu. Aku sih banyanginnya kayak yang di GTA.
Setelah agak jauh stalking, aku baru tahu kalau doi kuliah di Stanford University. Setelah tahu ini, salah nggak kalau aku bilang doi pinter?
Di titik itu aku bingung. Rasa kesal dan sedih jadi satu. Aku jadi ingat foto anak-anak Palestina yang kepalanya ditodong pakai senjata api😭. Jangan-jangan, orang yang lagi aku stalk itu termasuk orang yang berkontribusi atau yang nantinya akan berkontribusi atas perang Israel-Palestina.
Dia yang bisa jadi nanti membuat senjata api, ikut ngerancang bangunan bentengnya, dan bikin tank-tank yang suka melindas muslim Palestina. Ya Allah, sedih nggak kebayang😭.
Otakku langsung menuju ayat ini. Surah Ad-Dukhan ayat 32.
وَلَقَدِ اخْتَرْنَاهُمْ عَلَىٰ عِلْمٍ عَلَى الْعَالَمِينَ
Ayat di atas udah gamblang banget bilang ke kita kalau Bani Israil itu dilebihkan dalam segi ilmu. Tapi, di terjemahan DEPAG, ada tanda kurung (pada masa itu). Lalu kenapa kok rasanya mereka (Yahudi) itu masih menguasai semua lini kehidupan sampai saat ini? Apakah muslim sudah tidur terlalu lama? Mimpi yang terlalu panjang?
Di Alquran juga pernah ada ayat kan, kalau orang-orang kafir yang bangkit dari kuburnya menuju pengadilan Hari Kiamat itu menganggap di kubur mereka cuma "mimpi". Ya, mungkin di dunia ini kita cuma mimpi. Dikagetin, kebangun, terus tahu-tahu udah kiamat.
Jika mimpi itu diibaratkan dongeng, aku jadi berpikir, betapa banyak manusia yang berbuat terlalu jauh hanya untuk sebuah dongeng. Memfitnah, membunuh, mencuri, ya intinya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Itu semua dilakukan demi dunia yang 'katanya' sementara ini. Terserah kita mau hidup sepuluh, seratus, bahkan seribu tahun pun, itu semua tetap sementara. Karena nggak ada definisi yang pasti tentang makna selamanya itu. Hanya Allah yang tahu. Hanya Tuhan.
Banyak manusia takut mati. Hm, sekarang udah ada kan teknologi yang bisa menghidupkan orang yang udah mati. Serem sih. Asli. Seakan manusia lagi berusaha melawan kehendak Tuhan atau justru ingin menjadi Tuhan atas dirinya sendiri? Entahlah.
Tapi, seberapa lama pun mereka bisa memperpanjang waktu hidup mereka, tetap aja itu cuma sementara.
"Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai (dengan dunia), berpaling (dari akhirat)." (QS. Al-Anbiya': 1)
Sebenarnya jika kita mau memaknai hidup dan kehidupan, segalanya terlihat sederhana. Hidup ini ternyata:
"Kita adalah milik Allah dan kepada-Nya kita kembali."
Pamulang, 27 Desember 2017
17:14
Dinda Aulia Putri
Pict: Pinterest
#12
Dakwah adalah Seni
Dakwah itu bukan hanya sekedar menyampaikan, tetapi juga mengajak dan memanggil.
Bukan menjudge, membully, apalagi menyombongkan diri.
Dakwah, tak butuh teriakan itu halal atau haram.
Dakwah, tak butuh menelanjangi ia buruk atau mereka pendosa.
Dakwah, kita harus melihat siapa mereka, mengajak dengan cara mereka, menasihati tanpa menggurui mereka.
Karena sejatinya, dakwah adalah seni menyampaikan nilai-nilai ilahiyah.
.Itulah kurang lebih sepenggal kalimat yang disampaikan dosen filsafatku, ketika ditanya tentang banyaknya orang Islam yang sangat mudah judging atau bullying saudara-saudaranya.
Aku pernah baca, Rasulullah itu kalau dakwah selalu memakai bahasa kaumnya, agar lebih mudah diterima. Karena bangsa Arab itu punya banyak kabilah yang mana setiap kabilah itu bisa agak berbeda bahasanya. Sama juga kayak kita saat ini, merangkul anak muda itu ya dengan bahasa mereka.
Semalam. Aku baca di Line "perang" antara Kpopers dan seorang pendakwah. Dan, banyak komentar netizen yang tidak pantas, menurut aku.
Yang paling parah aku pernah dengar yang begini,
"Bagus lah, makin sedikit 'orang-orang plastik' di dunia ini."
Ada juga,
"Bunuh diri pasti masuk neraka. Jahannam tempatnya!"
"Ngapain sih ngefans sama orang kafir?! Kan, kita dikumpulin nanti di akhirat sama orang-orang yang kita idolakan."
I see. Aku ngerti. Ada hadisnya juga bagi siapa yang bunuh diri (misalkan dengan terjun dari tempat yang tinggi), maka di akhirat dia akan terjun terus sampai waktu yang dikehendaki Allah. Begitu terus dia disiksa.
Aku juga tahu hadis dari Anas bin Malik, "Seseorang akan dikumpulkan (di akhirat) bersama dengan yang dicintainya...."
Tapi, menurutku, orang ngefans sama seseorang/sesuatu itu nggak berarti dia melupakan agama kok. Ya menurutku nggak masalah asal nggak berlebihan. Diambil yang baiknya dan tinggalin yang buruknya. Sedikit cerita, aku juga pernah ngefans sama orang luar. Dia nasionalismenya bagus banget. Itu justru bikin aku bisa lebih cinta Indonesia. Dia cinta negaranya, aku juga harus cinta negaraku. Dia membuat karya untuk negaranya, aku juga harus mempersembahkan karya untuk negaraku, Indonesia. Pelajaran yang real kayak gini menurut aku bisa lebih ngefek daripada belajar PKn berbab-bab yang ngebosenin tapi nggak membangkitkan rasa cinta tanah air, yang ada muak, hehehe.
Oh ya, pernah dengar juga, kan?
Ada wanita pelacur yang bisa masuk surga karena ia memberi minum anjing yang kehausan.
Ada seseorang yang sudah membunuh 100 orang, tetapi taubatnya diterima Allah.
Sekali lagi, surga dan neraka seseorang itu hak prerogatif Allah. Kita nggak berhak menilai seseorang "Dia ahli neraka!" atau "Dia calon penghuni surga!" hanya dari apa yang kita lihat.
Jangan hanya karena kita sudah merasa beramal dan beribadah, kita lantas memandang orang lain lebih rendah. Demi Allah, Iblis jauh lebih taat daripada kita. Amal ibadah Iblis jauh lebih banyak daripada kita. Iblis (pernah) dimuliakan Allah lebih dari Allah memuliakan kita.
Aku nggak mau nunjukkin banyak dalil, cukup Surah Al-Baqarah ayat 34 ini saja.
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir."
Allah berfirman kepada para malaikat. Allah panggil sekumpulan itu dengan para malaikat. Dan, di sana ada Iblis. Artinya, Iblis pernah dimuliakan Allah setara dengan para malaikat. Setara. Bahkan, kalau mau bahas ayat lain, Iblis itu dimasukkan ke geng malaikat utama kayak Jibril, Izrail, Israfil, dkk. Malaikat utama. Karena apa? Iblis hamba yang taat. Sepanjang hidupnya Iblis tidak pernah mendurhakai Allah. Dan, karena itu Iblis merasa sombong. Merasa lebih mulia daripada yang lain. Merasa lebih baik dari Adam yang diciptakan Allah dari tanah sehingga tidak mau bersujud tatkala Allah memerintahkannya bersujud kepada Adam.
"Sungguh, Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya. Dia mengetahui tentang kamu, sejak Dia menjadikan kamu dari tanah lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa." (QS. An-Najm: 32)
Jadi intinya....
Ya, dakwah adalah seni.
Di luar planet,
Bekasi, 24 Desember 2017
14:38
Dinda Aulia Putri
Pict: dokumen pribadi
#10
Sopir Angkot dan Sabda Sang Nabi
Waktu itu aku masih kelas XII. Sehabis main dari rumah teman, aku bersama seorang temanku pulang saat matahari hampir sempurna tenggelam.
Kami naik angkot. Tanpa sengaja, kami mendengarkan pembicaraan si sopir angkot dengan temannya. Kurang lebih isi pembicaraannya seperti ini.
"Najis amit-amit gua! Tuh cewek cakep juga percuma tapi nggak ada tata kramanya!" seru si sopir angkot, berapi-api.
"Iya, mending sama yang biasa aja gua mah daripada kelakuan begitu!" timpal temannya.
Dalam diam, aku tersentak. Tanpa bermaksud menganggap diri lebih baik dan tidak mengurangi rasa hormatku terhadap sopir angkot sebagai sesama manusia, aku berpikir.
"Sepenting itukah memiliki kepribadian yang baik?"
Cantik sering menjadi tolak ukur seorang perempuan. Terlepas dari berbagai perbedaan pandangan tentang makna "cantik". Aku percaya, cantik itu relatif. Lebih dari itu, sikap yang baik bagi seorang sopir angkot lebih penting daripada wajah yang cantik.
Aku tidak menafikan bahwa hal pertama yang dilihat laki-laki dari perempuan pastilah fisiknya. Ibarat mau beli buku pasti yang dilihat pertama itu cover-nya. Dan, kalimat "don't judge a book by its cover" baru bisa didalami maknanya jika kita berniat mengetahui isi buku itu lebih jauh. Benar begitu kan, para lelaki?
Aku mengerti, pantaslah Sang Nabi pernah bersabda,
"Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena martabatnya (keturunan/nasab), karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka hendaklah engkau mendapatkan wanita yang baik agamanya, niscaya engkau akan beruntung." (HR. Bukhari Muslim, dari Abu Hurairah)
Kata Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, "Yang benar tentang makna hadis ini adalah Nabi saw. mengabarkan tentang kenyataan yang biasanya terjadi di masyarakat. Mereka tatkala ingin menikah mencari empat perkara ini, dan biasanya yang menjadi pertimbangan terakhir adalah bobot agama dari wanita tersebut. Lalu beliau saw. menganjurkan hendaknya yang ingin mencari istri, dapatkanlah wanita yang baik agamanya. Bukan menjadi maksud hadis ini, jika Nabi saw. memerintahkan kita untuk mencari empat perkara kesemuanya. Ini adalah kekeliruan pemahaman pada sebagian kalangan kaum muslimin."
Dan, jawaban dari Mubarak, ayah dari Abdullah ibnu Mubarak yang merupakan tabi'in terkemuka, 'alim yang zahid dan mujahid, ketika ditanya sang majikan,
"Dengan siapa sebaiknya kunikahkan putriku satu-satunya itu, hai Mubarak? Bantu aku! Berikan pertimbanganmu!"
Mubarak menjawab santun, "Tuan, kudapati kaum yang menikahkan putrinya dengan pertimbangan nasab semata adalah musyrikin Quraisy. Dan kudapati, menikahkan anak perempuan dengan pertimbangan paras dan rupa di zaman ini, dilakukan sebagian orang-orang Nashrani. Kudapati pula, yang sering menikahkan putri mereka dengan pertimbangan kekayaan ialah sebagian Ahli Kitab dari kalangan Yahudi. Maka bagimu yang merupakan seorang mukmin; yang harus kaupertimbangkan soal calon menantu hanyalah agamanya, imannya, akhlaqnya!"
Jadi, agama dan iman seseorang berbanding lurus dengan akhlaknya. Akhlak, sikap, kepribadian, tata krama, dan sejenisnya. Aku sendiri sudah terlalu sering mendengar berita keretakan bahkan kehancuran rumah tangga disebabkan perangai sang istri. Terlalu sering. Nggak usah ditulis di sini semuanya, nanti jadi panjang, hehehe.
Ya begitulah ceritaku hari ini. Dari percakapan antara sopir angkot dan temannya sampai sabda Sang Nabi tentang perkara memilih calon istri. Semoga nyambung. Semoga bermanfaat.
Di rumah tercinta
Bekasi, 23 Desember 2017 / 5 Rabi'ul Akhir 1439 H
12:17
Dinda Aulia Putri
Pict: Pinterest
#9
Flashback Paling Indah
"Menurut lu, kalau ada orang yang pernah hafal Quran terus dia lupa, kira-kira dia mau ngafal ngulang nggak?" tanya Abangku memulai percakapan tadi pagi. Kami memang ngobrol menggunakan "gua-lu", hehe. Maklumi ya, Pemirsa.
"Mau dong," ujarku singkat.
"Itulah bedanya. Gua main COC, level udah tinggi terus tiba-tiba akunnya kehapus. Fix, langsung gua uninstall," jelasnya.
"Gilang juga di LS pangkat udah tinggi terus kebanned, langsung pensi dia mainnya," jelasku sambil tidak bisa menahan tawa. By the way, Gilang itu nama adikku, dan pensi itu artinya udah nggak mainin suatu game lagi.
Percakapan seperti ini sering terjadi antara aku dan saudara-saudaraku yang memang semuanya laki-laki. Aku perempuan sendiri, hehe. Dan, mereka gamers semua.
"Itulah bedanya. Orang yang menghafal Alquran pasti mau mengulangi hafalannya lagi. Sedangkan selain Alquran, seakan kehilangan "hasrat" ngulanginnya itu." Kata si Abang.
Ya, pernyataannya benar. Walau mungkin ada beberapa yang nggak setuju. Sebab di beberapa kasus, banyak gamer yang mulai main game yang sama lagi setelah sekian lama, atau istilah lainnya vakum.
Aku pribadi menyamakannya dengan membaca novel. Baca novel yang sama dua kali, itu ibarat balikan sama mantan, hehehe. Udah tahu ending-nya kayak gimana. Nggak seru. Eh, aku nggak punya mantan lho, ya. Aku nggak main pacar-pacaran. Heu, jadi salah fokus kan :")
Nah, begitulah. Kalau Alquran, kita baca berulang kali (tentunya baca ulang artinya juga), pasti adaaaa aja hal baru yang didapatkan. Serasa dapat ilham gitu. Itu juga kalau kita benar-benar mau menggunakan akal sesuai yang diperintahkan Allah dalam kitab-Nya.
لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
"Tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal." [Ali-Imran: 190]
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ
"Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (mata hati)." [Ali-Imran: 13]
أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ
"Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?" [Al-An'am: 50]
أَفَلَا تَعْقِلُونَ
"Tidakkah kamu mengerti?" [Al-Baqarah: 44]
Dan masih banyak ayat-ayat lainnya.
Ah, jadi ingat perkataan Ustadzku tentang Alquran yang mulia dan memuliakan.
Selembar kertas menjadi mulia, jika yang dituliskan di atasnya ayat-ayat Alquran. Buktinya kalian tidak akan mau menginjaknya, kan?
Kulit kambing menjadi mulia, jika yang diukir ayat-ayat Alquran. Beda kan kalau ia dijadikan jok motor?
Nabi Muhammad saw. menjadi mulia karena kepadanya diwahyukan Alquran.
Kota Mekkah dan Madinah menjadi mulia, karena di sana diturunkan Alquran.
Bulan Ramadhan menjadi mulia karena pada saat itu diturunkan Alquran.
Lailatul qadr menjadi malam paling mulia karena itu waktu khusus diturunkan Alquran.
Umat Islam menjadi mulia karena Allah berikan petunjuk berupa Alquran.
Lalu sekarang pikirkan bagaimana kiranya Allah akan memuliakan manusia yang di dalam dadanya ada Alquran? Kemudian, ia mengamalkannya dan mengajarkannya ke orang lain?
Imam Bukhari mencatat dalam Shahih-nya.
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
"Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya."
Ya Allah, jadikanlah kami dan anak keturunan kami termasuk Ahlul Quran.
Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam surga bersama Alquran.
Aamiin ya Allah.
Pamulang, 18 Desember 2017
22:40
Dinda Aulia Putri
#4
Ketulusan Muhammad
“Setelah itu, aku menghentikan tanyaku…” ujar Amr bin Al-Ash.
Saat mengingat Perang Shiffin, sosok Amr bin Al-Ash yang paling kuingat. Betapa tidak, arbitrase dengan mengangkat mushaf Al-Quran yang dilakukannya telah menorehkan sejarah panjang bagi umat Islam. Tapi, aku tidak suka membahas perpecahan kaum muslimin pada saat itu. Izinkan aku kembali ke titik di mana Amr bin Al-Ash baru saja disapa hidayah Islam.
Ketika itu, setelah hari Hudaibiyah yang menegangkan, Amr bersama Khalid ibn Walid dan ‘Utsman ibn Thalhah menuju Madinah menyatakan keislaman. Rasulullah ﷺ menyambut mereka dengan penuh ketulusan dan dilayani sedemikian rupa, seakan beliau ﷺ baru saja didatangi saudaranya yang sangat dirindukan.
Hari itu Amr merasa bahwa Sang Nabi pastilah sangat mencintainya. Itu terlihat dari bagaimana sikap dan tutur beliau ﷺ terhadapnya. Itu juga pasti disebabkan bakat lisannya begitu rupa yang kelak bermanfaat bagi dakwah Islam. Akhirnya, Amr beranikan diri bertanya saat kudanya menjajari tunggangan Sang Nabi, “Ya Rasulallah, siapakah yang paling kaucintai?”
“Aisyah.” jawab Sang Nabi sambil tersenyum
“Maksudku, dari kalangan laki-laki.”
“Ayah Aisyah.”
“Lalu siapa lagi?”
“Umar.”
“Lalu siapa lagi?”
“Utsman.” Beliau menjawab sambil terus tersenyum.
“Setelah itu, aku menghentikan tanyaku,” kata Amr, “Aku takut namaku akan disebut paling akhir.”
Cerita ini sebenarnya terinspirasi dari Ust. Salim. Dan, izinkan aku menutup kisah ini dengan pamungkas dari beliau.
Amr tersadar, apalagi sesudah berbincang dengan Khalid dan ‘Utsman, bahwa Muhammad adalah jenis manusia yang membuat tiap-tiap jiwa merasa paling dicinta dan paling berharga. Dan itu bukan basa-basi. Muhammad tak kehilangan kejujuran saat ditanya.
Nabi itu indah dan menakjubkan memang. Tapi yang paling menarik dari dirinya adalah bahwa berada di dekatnya menjadikan setiap orang merasa istimewa, merasa berharga, merasa memesona. Dan itu semua tersaji dalam ketulusan yang utuh.
اللهم صل وسلم وبارك على نبينا وحبيبنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
Ya Allah, curahi kami rahmat-Mu agar kelak bersamanya di surga 😭
Tangsel, 1 Desember 2017/13 Rabiul Awal 1439 H
Dinda Aulia Putri
Puncak
Bismillah…
Suatu malam ada teman kampusku menginap di kosanku. Dia suka hiking. Saat itu dia menceritakan bagaimana pengalamannya mencapai puncak. Entah kenapa aku menangkap hal yang berbeda dari kata “puncak” itu.
Saat kita sudah benar-benar berada di puncak, tidak ada pilihan lain setelah itu kecuali turun.
Saat malam sudah terasa semakin pekat, itu tanda paling jelas bahwa fajar telah dekat.
Saat hujan hampir menutupi segala penglihatan, itu artinya akan muncul pelangi di hadapan.
Saat salju telah mencekam semua makhluk bernyawa, itu juga tanda bahwa musim semi akan tiba.
Aku dan perasaanku pada saat itu telah mencapai puncaknya. Dan, aku makin mengerti bahwa benar sekali pernyataan ini,
“Adakalanya perasaan itu mencapai klimaksnya, dan itu tidak selalu berupa penyatuan.”
Di mana air mata sudah tidak bisa lagi menjelaskan rasa sakit, aku tahu bahwa pasrah adalah jalan keluar paling menentramkan. Musuh yang paling sulit untuk ditaklukkan adalah diri sendiri. Bagaimana memanjemen rasa yang ada agar ianya menjadi kebaikan.
Dari perjalanan seorang “shalih” juga aku belajar, bahwa pencapaian tertinggi seorang anak manusia adalah bagaimana ia bisa ridha atas segala ketetapan Allah. Ikhlas menerimanya karena sejatinya segala sesuatunya memang hanya titipan, termasuk perasaan. Dan, bahwa hidup ini hanyalah tentang penerimaan. Tentunya setelah melalui the best steps of ikhtiar.
Itulah kenapa di dalam sebuah hadis tentang fadhilah dzikir dikatakan,
“Tidaklah seorang muslim membaca ‘Radhitu billahi rabba, wa bil Islami diinaa, wa bimuhammadin nabiyya’ saat ia memasuki sore hari sebanyak tiga kali dan di pagi hari tiga kali, kecuali wajib bagi Allah untuk meridhainya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad No. 18199)
Wajib bagi Allah untuk meridhainya. Bukankah tujuan utama hidup kita adalah meraih ridha Allah? Kalau Allah sudah ridha; jangankan dunia, surga pun akan dikasih tanpa diminta. Ibarat kalau seseorang udah cinta banget sama kekasihnya, apa sih yang nggak akan diturutin dari kemauan kekasihnya itu? Begitulah Allah.
Yang jadi jawaban besar adalah bahwa tidak semudah itu meraih ridha Allah. Hal itu ada pada amalan hati, bukan sekadar amalan lisan. Betapa mudah mengucapkan kalimat seperti di atas sebanyak tiga kali di tiap pagi dan petang, tapi hati? Apa sudah benar-benar ridha Allah sebagai Rabb? Percaya bahwa Dia Mengatur segala urusan hamba-Nya dan tidak akan menzalimi kita, namun di hati masih terbesit “Ah, betapa tidak adilnya hidup ini.” atau “Kenapa Engkau beri kelebihan itu pada si Fulan, ya Allah, sedang padaku tidak?” dan sejenisnya.
Puncak. Ya, puncak.
Di puncak kepasrahan Hajar yang ditinggalkan sang suami, di tengah gurun pasir tanpa ada tanda-tanda kehidupan, harus lari bolak-balik tujuh kali antara Shafa dan Marwah, lalu Zamzam justru muncul dari bawah telapak kaki bayi Ismail. Begitulah, Allah kirimkan bukti bahwa terkadang hasil itu tidak sesuai dengan apa yang kita perjuangkan. Jangan bersedih, Dia lebih tahu di mana tempat terbaik, kapan saat terbaik, dan bagaimana cara terbaik. Pada puncaknya, tugas kita hanya percaya, bahwa Allah tak pernah aniaya.
Puncak. Ya, puncak.
Tidak kutemukan di mana lagi puncak ketenangan hati, kecuali pada Allah Yang Mahatinggi.
Tangsel, 27 November 2017
12:34
Dinda Aulia Putri
Senin Bersama Zaid
Bismillah…
Pembicaraan dosen kami Senin kemarin mengenai sahabat penulis wahyu, Zaid bin Tsabit, membuat beberapa teman-temanku baper. Andai ada Zaid jaman now, kata mereka. Pasalnya, Zaid ini menjadi sekretaris utama Rasulullah saw. di antara 40 orang sahabat terkemuka yang lain. Zaid juga memiliki hafalan yang kuat, cerdas, muda, kritis, fasih, lagi amanah. Khalifah Abu Bakar (atas saran dari Umar) memintanya untuk menghimpun Al-Qur’an dalam satu mushaf karena dikhawatirkan Al-Quran akan hilang sebagaimana banyak gugurnya para penghafal Al-Quran di medan perang. Awalnya Zaid menolak dan berkata, “Sungguh memindahkan gunung dari tempatnya lebih mudah bagiku daripada menghimpun Al-Qur’an.” Tapi setelah diyakinkan, akhirnya Zaid mengiyakan. Dan, melihat Quran yang ada di tangan kita sekarang, mari bayangkan pahala seperti apa pahala yang diperoleh Zaid atas jasanya menghimpun Al-Quran menjadi satu mushaf? Sebab Al-Quran akan terus dibaca hingga akhir zaman dan setiap hurufnya sama dengan sepuluh kebaikan. Mari bayangkan saja, biar Allah yang menghitungnya, hehe.
Sebenarnya poin pentingnya bagiku bukan ingin membahas Zaid dan bagaimana perannya dalam perjuangan bersama Rasulullah saw. Bukan di situ. Tapi, wanita seperti apakah yang menjadi istri seorang Zaid bin Tsabit? Bagaimana cara Zaid memilih calon istrinya?
Pernah kubaca cerita tentang Ummu Aiman ra. yang merupakan budak Rasulullah saw. dari Aminah yang sudah dimerdekakan. Dialah perempuan yang selalu merawat, mengasihi, dan mendampingi Nabi saw. di saat banyak orang-orang terkasihnya meninggalkan beliau saw. Pada suatu ketika Nabi saw. di hadapan para sahabatnya berkata, “Siapa di antara kalian yang ingin menikahi perempuan ahli surga? Maka nikahilah Ummu Aiman!”
Tidak lama kemudian ada suara menyahut,
“Saya, Ya Rasulallah!” seru Zaid bin Tsabit. Maka benarlah, Zaid menikahi Ummu Aiman. Dari pernikahan mereka, lahirnya Usamah bin Zaid yang cerdas, pemberani, dan amanah. Usamah sudah ditunjuk menjadi panglima perang oleh Rasulullah pada saat usianya belum genap 20 tahun. Mungkin kita berpikir, semudah itukah arti penikahan bagi seorang Zaid bin Tsabit?
Ya, mungkin memang semudah itu. Sesederhana itu. Ketika dua orang mencintai sesuatu yang sama, maka keduanya akan lebih mudah untuk saling jatuh cinta. Zaid dan Ummu Aiman sama-sama mencintai Allah, maka Allah yang menumbuhkan rasa cinta itu untuk mereka. Dan, bisa jadi ada benarnya perkataan Umar bin Khattab ini,
“Celakalah engkau! Apakah pernikahan hanya dibangun di atas cinta? Lalu di manakah takwa, tanggung jawab dan rasa malu?”
Tangsel, 28 November 2017
19:55
Dinda Aulia Putri
Benarkah Cinta itu Anugerah?
Assalamualaikum :)
Halo, aku mau posting tulisanku yang udah lamaaaa banget dari diary-ku. Style tulisanku waktu itu agak beda kalau sama yang sekarang. Ada mesra-mesranya gitu, soalnya masih jatuh cinta sama seseorang yang dulu, hehe.
Topik tulisan ini juga tentang cinta sih, karena kayaknya aku juga lagi jatuh cinta 😆. Eh gak deh! Aku kagum ajaaaa sama seseorang. Entah kenapa waktu aku cari tau tentang dia, aku kayak ngeliat diri aku sendiri. Semua yang dia suka, aku juga suka. Sampe kebiasaannya waktu kecil, itu juga sama kayak aku, hehehehe. Ah, nggak tau juga deh. Apa aku aja yang lagi nyama-nyamain diri aku sama dia, atau emang itu benar kenyataannya. Bodo amat.
That's what I wrote since several years ago. Here you go!
Bismillah...
Hari ini aku mau membahas tentang cinta. Tadi aku tanya teman-temanku di ask.fm pake anon. Aku menanyakan mereka "apa arti cinta menurut kamu?". Jawabannya macam-macam.
Tapi yang paling aku ingat, definisi cinta menurut dia. Baginya "cinta itu anugerah".
Oke, aku mau bahas tentang definisi cinta menurut dia aja. Sangat singkat. Tapi selama ini aku berusaha memahami dia. Ini uraian dari pemahamanku itu.
Cinta itu tak terdefinisi...
Cinta selalu tentang keindahan yg berupa anugerah. Anugerah itu banyak macamnya: ada kecantikan, kecerdasan, kesederhanaan, pengorbanan, kekuasaan.
Jika cinta hanya sebatas kecantikan. Mungkin ia hanya layak didapatkan wanita sekelas bidadari surga. Tapi kenapa Shahabiyah seperti Sumayyah bint Khalaf jua pernah merasakannya?
Jika cinta hanya sebatas kecerdasan. Mungkin 'Aisyah bint Ash-Shiddiq yg bisa memerolehnya.
Jika cinta adalah tentang kesederhanaan. Mungkin hanya Fathimah bint Muhammad Rasulullah saw. yang bisa tahu seperti apa rupanya.
Jika cinta itu pengorbanan. Kurasa, Sa'udah bint Zam'ah sudah sangat mengenalnya.
Jika cinta seluas kekuasaan. Kutahu Ratu Balqis yang paling mengerti bagaimana ia.
Ah, menurutnya, cinta itu anugerah. Tapi, anugerah yang seperti apa ia?
Andai kutanya pada Bilal ibn Rabah, mungkin beliau akan menjawab, "Suara. Karena suara adalah wujud nyata dari panggilan cinta. Mengajak para hamba untuk menemui Rabb-nya dgn segera."
Lalu bagaimana menurut Abdullah ibn Ummi Maktum? Mungkin beliau akan menjawab, "Mata. Sebab anugerah itu datang pada saat semua terasa gulita. 'Abasa wa tawallaa...' Setelah itu Rasul menyapa mesra: "Selamat datang wahai seseorang yg telah membuat Allah menegur Rasul-Nya."
Ada lagi, menurut Nabi Yusuf a.s., "Anugerah itu ketika aku berkata pada Rabb-ku bahwa penjara lebih aku sukai daripada menuruti keinginan hawa nafsuku sendiri."
Dst.
Yang aku tahu, cinta itu tentang keikhlasan. Bahwa semua yang kau miliki pada hakikatnya bukanlah milikmu. Bahkan dirimu sendiri pun bukanlah milikmu. Apa lagi yang belum pernah kau miliki sama sekali. Suatu saat, kau harus merelakannya untuk kembali kepada Pemilik Sejatinya.
Seperti bisikan Jibril pada Muhammad:
"...Cintailah siapa saja yang kau inginkan. Tapi ingat, kau pasti akan berpisah dengannya..."
Setidaknya sampai Allah mempertemukan lagi di taman surga.
Bekasi, 14 Maret 2014
8.02 PM
Dinda A. Putri
Halo, aku mau posting tulisanku yang udah lamaaaa banget dari diary-ku. Style tulisanku waktu itu agak beda kalau sama yang sekarang. Ada mesra-mesranya gitu, soalnya masih jatuh cinta sama seseorang yang dulu, hehe.
Topik tulisan ini juga tentang cinta sih, karena kayaknya aku juga lagi jatuh cinta 😆. Eh gak deh! Aku kagum ajaaaa sama seseorang. Entah kenapa waktu aku cari tau tentang dia, aku kayak ngeliat diri aku sendiri. Semua yang dia suka, aku juga suka. Sampe kebiasaannya waktu kecil, itu juga sama kayak aku, hehehehe. Ah, nggak tau juga deh. Apa aku aja yang lagi nyama-nyamain diri aku sama dia, atau emang itu benar kenyataannya. Bodo amat.
That's what I wrote since several years ago. Here you go!
Bismillah...
Hari ini aku mau membahas tentang cinta. Tadi aku tanya teman-temanku di ask.fm pake anon. Aku menanyakan mereka "apa arti cinta menurut kamu?". Jawabannya macam-macam.
Tapi yang paling aku ingat, definisi cinta menurut dia. Baginya "cinta itu anugerah".
Oke, aku mau bahas tentang definisi cinta menurut dia aja. Sangat singkat. Tapi selama ini aku berusaha memahami dia. Ini uraian dari pemahamanku itu.
Cinta itu tak terdefinisi...
Cinta selalu tentang keindahan yg berupa anugerah. Anugerah itu banyak macamnya: ada kecantikan, kecerdasan, kesederhanaan, pengorbanan, kekuasaan.
Jika cinta hanya sebatas kecantikan. Mungkin ia hanya layak didapatkan wanita sekelas bidadari surga. Tapi kenapa Shahabiyah seperti Sumayyah bint Khalaf jua pernah merasakannya?
Jika cinta hanya sebatas kecerdasan. Mungkin 'Aisyah bint Ash-Shiddiq yg bisa memerolehnya.
Jika cinta adalah tentang kesederhanaan. Mungkin hanya Fathimah bint Muhammad Rasulullah saw. yang bisa tahu seperti apa rupanya.
Jika cinta itu pengorbanan. Kurasa, Sa'udah bint Zam'ah sudah sangat mengenalnya.
Jika cinta seluas kekuasaan. Kutahu Ratu Balqis yang paling mengerti bagaimana ia.
Ah, menurutnya, cinta itu anugerah. Tapi, anugerah yang seperti apa ia?
Andai kutanya pada Bilal ibn Rabah, mungkin beliau akan menjawab, "Suara. Karena suara adalah wujud nyata dari panggilan cinta. Mengajak para hamba untuk menemui Rabb-nya dgn segera."
Lalu bagaimana menurut Abdullah ibn Ummi Maktum? Mungkin beliau akan menjawab, "Mata. Sebab anugerah itu datang pada saat semua terasa gulita. 'Abasa wa tawallaa...' Setelah itu Rasul menyapa mesra: "Selamat datang wahai seseorang yg telah membuat Allah menegur Rasul-Nya."
Ada lagi, menurut Nabi Yusuf a.s., "Anugerah itu ketika aku berkata pada Rabb-ku bahwa penjara lebih aku sukai daripada menuruti keinginan hawa nafsuku sendiri."
Dst.
Yang aku tahu, cinta itu tentang keikhlasan. Bahwa semua yang kau miliki pada hakikatnya bukanlah milikmu. Bahkan dirimu sendiri pun bukanlah milikmu. Apa lagi yang belum pernah kau miliki sama sekali. Suatu saat, kau harus merelakannya untuk kembali kepada Pemilik Sejatinya.
Seperti bisikan Jibril pada Muhammad:
"...Cintailah siapa saja yang kau inginkan. Tapi ingat, kau pasti akan berpisah dengannya..."
Setidaknya sampai Allah mempertemukan lagi di taman surga.
Bekasi, 14 Maret 2014
8.02 PM
Dinda A. Putri
Merasa Dimanfaatkan? Mari Beryukur!
Kalau orang baik sama kita, segani. Jangan malah dimanfaatin, Karena kemungkinan besar mereka baik, tapi tidak bodoh.
Kutipan itu aku dapat dari OA galau di Line. Atau sejenis umpatan yang isinya kekesalan karena merasa dimanfaatkan sama teman sendiri, yang akan meninggalkan dia ketika sudah tidak butuh lagi.
Aku bertanya, ada apa dengan orang-orang ini?
Ketika ditanya apa cita-citanya, kebanyakan menjawab.
"Ingin jadi orang yang bermanfaat."
Lalu ketika ada teman yang mengambil manfaat dari dirinya, dia merasa dimanfaatkan, kesal, ngatain dateng pas butuh doang, dsb.
Bukankah Allah sudah mewujudkan cita-citanya untuk jadi orang yang bermanfaat? Yaa meskipun masih dalam skala kecil. Dan, bukankah sesuatu yang besar selalu berasal dari yang kecil dulu? Bukankah perjalanan seribu kilometer itu selalu dimulai dari langkah pertama?
Sejujurnya ini catatan untuk diriku sendiri yang suka kesal gara-gara ada teman yang datang pas butuhnya aja terus tiba-tiba hilang tanpa bekas. Nggak ada pedulinya sama aku kalau aku lagi susah. Dari situ aku jadi belajar untuk selalu minta ke Allah aja. Minta jalan keluar ke Allah. Minta solusi hanya ke Allah. Minta segala sesuatunya cuma ke Allah. Alhamdulillah... Segala puji bagi Allah yang mendatangkan dan menghilangkan orang-orang dari hidup seorang hamba-Nya sebab Dia ingin hamba itu hanya bergantung pada Dia.
Back to the quotes. Orang baik harus disegani? Menurutku sih tanpa perlu diminta, orang baik itu pasti disegani. Sebab aura kebaikan itu memancar dari dalam dirinya yang bikin orang-orang segan untuk berbuat buruk kepadanya.
Artinya, "Setiap orang itu jenius. Tapi jika kamu menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, ia akan hidup selamanya dengan menganggap dirinya bodoh."
Jadi, setiap orang itu udah punya kapabilitasnya masing-masing untuk menjalani peran hidupnya di dunia ini. Kebanyakan orang mengatakan punya cita-cita yang menyenangkan itu sama dengan mengikuti passion. Tapi jangan hanya bicara tentang passion, sebab ada yang lebih penting dari itu, yaitu:
Menjadi orang yang bermanfaat!
"...Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, ia akan tetap tinggal di bumi.." (Ar-Ra’d: 17)
Di Lantai 5 Asrama Putri
Pamulang, 31 Juli 2017
Dinda A. Putri
WHAT IS THE DEFINITION OF LOVE?
Bismillah...
Assalamualaikum, Gan en Sis...
Entah kenapa pagi ini gue lagi ingin membahas tentang cinta dari sudut pandang yang berbeda. Tadi gue baru aja dengerin yutub ceramahnya Ust. Hanan Attaki, gimana caranya supaya viral di langit? Jadi selebgram langit gituh. Jawabannya adalah cinta.
Ah, gue mau jalan-jalan dulu. Gak mau langsung to the point. Ketika denger itu, gue langsung inget hadis dari 'Umar.
“Ya Rasulullah”, kata Umar perlahan, “Aku mencintaimu seperti aku mencintai diriku sendiri.”
Rasulullah tersenyum. “Tidak wahai Umar. Engkau harus mencintaiku melebihi cintamu pada diri dan keluargamu.”
“Ya Rasulullah”, kata Umar, “Mulai saat ini engkau lebih kucintai daripada apapun di dunia ini.”
“Nah, begitulah wahai Umar.”
Pertama kali baca hadis ini, respon gue, "Secepat itukah? Semudah itukah menata hati dan mengarahkan cinta?"
Hadis yang menurut gue serupa gue dengerin barusan di ceramah.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Apabila Allah mencintai hamba, maka Jibril memanggil,
"Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah ia." Maka Jibril pun mencintainya. Lalu Jibril memanggil penghuni langit, "Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah ia." Maka penghuni langit pun mencintainya, kemudian di bumi ia menjadi orang yang diterima." (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
Lah, ini juga gampang bener ya Jibril tuh buat cinta? Jadi muncullah pertanyaan lama yang pengen gue kubur dalem-dalem itu muncul lagi.
"WHAT IS LOVE?"
Apa itu cinta? Ketika makhluk-makhluk pilihan Allah sebegitu mudahnya menata hati dan mengubah cinta.
Setelah gue telusuri dan pikirkan dalam-dalam, ternyata jawabannya sangat sederhana. Gue berkaca ke diri gue sendiri, sebenarnya bagaimana selama ini gue ketika mencintai sesuatu? So, ini jawaban gue, mungkin sangat subjektif tapi bodo amat inilah jawaban gue.
"Cinta itu mencintai yang dicintai sang kecintaan."
Oke, ribet ya bahasa gue? Selama ini tuh diri gue ketika cinta atau suka sama sesuatu, gue selalu excited sama segala sesuatu yang doi suka. Hahaha.
Contoh simpelnya, gue gak suka olahraga. Tapi doi gue tuh suka banget olahraga. Hampir semua jenis olahraga dia suka. Terus ya, dia juga suka banget pake brand Nike.
(untuk pihak Nike, segera transfer jasa endorse-nya ya) #DindaSehatKok
Yoii, dia suka banget tuh pake brand Nike. Sepatu, jaket, kaos, dsb dsb. Banyak dah. Heleh sampe gue baper sendiri ke Nike. Tadinya gue masih bingung pilih #TimNike atau #TimAdidas HAHAHA. Sejak gue kesemsem sama dia, gue memutuskan pilih #TimNike.
Waktu gue, nyokap, kakak, dan adek gue ke SMB aje, gue baper banget liat logo Nike yang kayak gini ✔ HAHAHA. Liat logonya aja baper loh. Oke gue gapapa :")
Nah sampe situ aja gue ceritanya. Jadi cinta tuh mencintai yang dicintai sang kecintaaan. Dia suka, gue juga suka. Dia benci, gue juga bisa benci. Semua gue pandang pake relativitas dia. Kalo ada yang benci dia, gue gak peduli alias bodo amat. Kalo ada yang suka dia, kita bisa seru-seruan bareng ngomongin doi. Ahahahaha.
Back to Umar and Jibril. Kalo udah begini liatnya jadi simpel banget kan?
Umar mencintai Rasulullah melebihi cintanya pada dirinya sendiri. Misal ketika Rasulullah cinta sama sesuatu, otomatis tuh (gak pake upgrade lagi) Umar juga langsung cinta juga, walaupun mungkin sebelumnya Umar b aja sama sesuatu itu.
Jibril juga neh. Awalnya kan si Fulan itu melakukan segala sesuatu yg Allah cintai dan meninggalkan segala yang Allah benci hingga Allah mencintainya. Ketika Allah sudah mencintainya, Allah menyuruh Jibril mencintai si Fulan. Jibril langsung nurut dong, wong malaikat mah gak banyak membantah kayak manusia, argumen/debat doang digedein, amal mah seadanya. Sedih gue 😢. Nah, Jibril kan langsung cinta tuh. Setelah itu Jibril ngomongin tentang si Fulan yang dicintai Allah ke geng-nya macem Mikail, Izrail, Israfil dll, malaikat-malaikat utama. Akhirnya seluruh anggota geng Jibril mencintai si Fulan. Nyebar lagi tuh dari seluruh anggota geng Jibril ke seluruh penghuni langit, bahwa Allah mencintai si Fulan. Dan seluruh penghuni langit pun mencintainya.
Waduh, kalo gini caranya kan jadi viral deh si Fulan itu di langit? Jadi selebgram dong di langit ya?
Yaa begitulah. . . Cinta itu mencintai yang dicintai sang kecintaan dan memandang segala sesuatu dari sudut pandang si dia.
Mari berdoa seperti doanya Nabi Daud 'alaihissalam.
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu cinta-Mu,
dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu,
dan aku memohon kepada-Mu perbuatan yang dapat mengantarkanku kepada cinta-Mu.
Aamiin Allahumma Aamiin
Btw, gue ambil gambar-gambar di atas dari pinterest dan we heart it :)
Bekasi, 8 Juni 2017
Dinda A. Putri
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)













