Bismillah…
Suatu malam ada teman kampusku menginap di kosanku. Dia suka hiking. Saat itu dia menceritakan bagaimana pengalamannya mencapai puncak. Entah kenapa aku menangkap hal yang berbeda dari kata “puncak” itu.
Saat kita sudah benar-benar berada di puncak, tidak ada pilihan lain setelah itu kecuali turun.
Saat malam sudah terasa semakin pekat, itu tanda paling jelas bahwa fajar telah dekat.
Saat hujan hampir menutupi segala penglihatan, itu artinya akan muncul pelangi di hadapan.
Saat salju telah mencekam semua makhluk bernyawa, itu juga tanda bahwa musim semi akan tiba.
Aku dan perasaanku pada saat itu telah mencapai puncaknya. Dan, aku makin mengerti bahwa benar sekali pernyataan ini,
“Adakalanya perasaan itu mencapai klimaksnya, dan itu tidak selalu berupa penyatuan.”
Di mana air mata sudah tidak bisa lagi menjelaskan rasa sakit, aku tahu bahwa pasrah adalah jalan keluar paling menentramkan. Musuh yang paling sulit untuk ditaklukkan adalah diri sendiri. Bagaimana memanjemen rasa yang ada agar ianya menjadi kebaikan.
Dari perjalanan seorang “shalih” juga aku belajar, bahwa pencapaian tertinggi seorang anak manusia adalah bagaimana ia bisa ridha atas segala ketetapan Allah. Ikhlas menerimanya karena sejatinya segala sesuatunya memang hanya titipan, termasuk perasaan. Dan, bahwa hidup ini hanyalah tentang penerimaan. Tentunya setelah melalui the best steps of ikhtiar.
Itulah kenapa di dalam sebuah hadis tentang fadhilah dzikir dikatakan,
“Tidaklah seorang muslim membaca ‘Radhitu billahi rabba, wa bil Islami diinaa, wa bimuhammadin nabiyya’ saat ia memasuki sore hari sebanyak tiga kali dan di pagi hari tiga kali, kecuali wajib bagi Allah untuk meridhainya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad No. 18199)
Wajib bagi Allah untuk meridhainya. Bukankah tujuan utama hidup kita adalah meraih ridha Allah? Kalau Allah sudah ridha; jangankan dunia, surga pun akan dikasih tanpa diminta. Ibarat kalau seseorang udah cinta banget sama kekasihnya, apa sih yang nggak akan diturutin dari kemauan kekasihnya itu? Begitulah Allah.
Yang jadi jawaban besar adalah bahwa tidak semudah itu meraih ridha Allah. Hal itu ada pada amalan hati, bukan sekadar amalan lisan. Betapa mudah mengucapkan kalimat seperti di atas sebanyak tiga kali di tiap pagi dan petang, tapi hati? Apa sudah benar-benar ridha Allah sebagai Rabb? Percaya bahwa Dia Mengatur segala urusan hamba-Nya dan tidak akan menzalimi kita, namun di hati masih terbesit “Ah, betapa tidak adilnya hidup ini.” atau “Kenapa Engkau beri kelebihan itu pada si Fulan, ya Allah, sedang padaku tidak?” dan sejenisnya.
Puncak. Ya, puncak.
Di puncak kepasrahan Hajar yang ditinggalkan sang suami, di tengah gurun pasir tanpa ada tanda-tanda kehidupan, harus lari bolak-balik tujuh kali antara Shafa dan Marwah, lalu Zamzam justru muncul dari bawah telapak kaki bayi Ismail. Begitulah, Allah kirimkan bukti bahwa terkadang hasil itu tidak sesuai dengan apa yang kita perjuangkan. Jangan bersedih, Dia lebih tahu di mana tempat terbaik, kapan saat terbaik, dan bagaimana cara terbaik. Pada puncaknya, tugas kita hanya percaya, bahwa Allah tak pernah aniaya.
Puncak. Ya, puncak.
Tidak kutemukan di mana lagi puncak ketenangan hati, kecuali pada Allah Yang Mahatinggi.
Tangsel, 27 November 2017
12:34
Dinda Aulia Putri


0 comments:
Post a Comment