Search

Senin Bersama Zaid


Bismillah…

Pembicaraan dosen kami Senin kemarin mengenai sahabat penulis wahyu, Zaid bin Tsabit, membuat beberapa teman-temanku baper. Andai ada Zaid jaman now, kata mereka. Pasalnya, Zaid ini menjadi sekretaris utama Rasulullah saw. di antara 40 orang sahabat terkemuka yang lain. Zaid juga memiliki hafalan yang kuat, cerdas, muda, kritis, fasih, lagi amanah. Khalifah Abu Bakar (atas saran dari Umar) memintanya untuk menghimpun Al-Qur’an dalam satu mushaf karena dikhawatirkan Al-Quran akan hilang sebagaimana banyak gugurnya para penghafal Al-Quran di medan perang. Awalnya Zaid menolak dan berkata, “Sungguh memindahkan gunung dari tempatnya lebih mudah bagiku daripada menghimpun Al-Qur’an.” Tapi setelah diyakinkan, akhirnya Zaid mengiyakan. Dan, melihat Quran yang ada di tangan kita sekarang, mari bayangkan pahala seperti apa pahala yang diperoleh Zaid atas jasanya menghimpun Al-Quran menjadi satu mushaf? Sebab Al-Quran akan terus dibaca hingga akhir zaman dan setiap hurufnya sama dengan sepuluh kebaikan. Mari bayangkan saja, biar Allah yang menghitungnya, hehe.

Sebenarnya poin pentingnya bagiku bukan ingin membahas Zaid dan bagaimana perannya dalam perjuangan bersama Rasulullah saw. Bukan di situ. Tapi, wanita seperti apakah yang menjadi istri seorang Zaid bin Tsabit? Bagaimana cara Zaid memilih calon istrinya?

Pernah kubaca cerita tentang Ummu Aiman ra. yang merupakan budak Rasulullah saw. dari Aminah yang sudah dimerdekakan. Dialah perempuan yang selalu merawat, mengasihi, dan mendampingi Nabi saw. di saat banyak orang-orang terkasihnya meninggalkan beliau saw. Pada suatu ketika Nabi saw. di hadapan para sahabatnya berkata, “Siapa di antara kalian yang ingin menikahi perempuan ahli surga? Maka nikahilah Ummu Aiman!”
Tidak lama kemudian ada suara menyahut,
“Saya, Ya Rasulallah!” seru Zaid bin Tsabit. Maka benarlah, Zaid menikahi Ummu Aiman. Dari pernikahan mereka, lahirnya Usamah bin Zaid yang cerdas, pemberani, dan amanah. Usamah sudah ditunjuk menjadi panglima perang oleh Rasulullah pada saat usianya belum genap 20 tahun. Mungkin kita berpikir, semudah itukah arti penikahan bagi seorang Zaid bin Tsabit?

Ya, mungkin memang semudah itu. Sesederhana itu. Ketika dua orang mencintai sesuatu yang sama, maka keduanya akan lebih mudah untuk saling jatuh cinta. Zaid dan Ummu Aiman sama-sama mencintai Allah, maka Allah yang menumbuhkan rasa cinta itu untuk mereka. Dan, bisa jadi ada benarnya perkataan Umar bin Khattab ini,
“Celakalah engkau! Apakah pernikahan hanya dibangun di atas cinta? Lalu di manakah takwa, tanggung jawab dan rasa malu?”


Tangsel, 28 November 2017
19:55

Dinda Aulia Putri

0 comments:

Post a Comment