Search

Sopir Angkot dan Sabda Sang Nabi


Waktu itu aku masih kelas XII. Sehabis main dari rumah teman, aku bersama seorang temanku pulang saat matahari hampir sempurna tenggelam.

Kami naik angkot. Tanpa sengaja, kami mendengarkan pembicaraan si sopir angkot dengan temannya. Kurang lebih isi pembicaraannya seperti ini.
"Najis amit-amit gua! Tuh cewek cakep juga percuma tapi nggak ada tata kramanya!" seru si sopir angkot, berapi-api.
"Iya, mending sama yang biasa aja gua mah daripada kelakuan begitu!" timpal temannya.

Dalam diam, aku tersentak. Tanpa bermaksud menganggap diri lebih baik dan tidak mengurangi rasa hormatku terhadap sopir angkot sebagai sesama manusia, aku berpikir.
"Sepenting itukah memiliki kepribadian yang baik?"

Cantik sering menjadi tolak ukur seorang perempuan. Terlepas dari berbagai perbedaan pandangan tentang makna "cantik". Aku percaya, cantik itu relatif. Lebih dari itu, sikap yang baik bagi seorang sopir angkot lebih penting daripada wajah yang cantik.

Aku tidak menafikan bahwa hal pertama yang dilihat laki-laki dari perempuan pastilah fisiknya. Ibarat mau beli buku pasti yang dilihat pertama itu cover-nya. Dan, kalimat "don't judge a book by its cover" baru bisa didalami maknanya jika kita berniat mengetahui isi buku itu lebih jauh. Benar begitu kan, para lelaki?

Aku mengerti, pantaslah Sang Nabi pernah bersabda,
"Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena martabatnya (keturunan/nasab), karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka hendaklah engkau mendapatkan wanita yang baik agamanya, niscaya engkau akan beruntung." (HR. Bukhari Muslim, dari Abu Hurairah)

Kata Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, "Yang benar tentang makna hadis ini adalah Nabi saw. mengabarkan tentang kenyataan yang biasanya terjadi di masyarakat. Mereka tatkala ingin menikah mencari empat perkara ini, dan biasanya yang menjadi pertimbangan terakhir adalah bobot agama dari wanita tersebut. Lalu beliau saw. menganjurkan hendaknya yang ingin mencari istri, dapatkanlah wanita yang baik agamanya. Bukan menjadi maksud hadis ini, jika Nabi saw. memerintahkan kita untuk mencari empat perkara kesemuanya. Ini adalah kekeliruan pemahaman pada sebagian kalangan kaum muslimin."

Dan, jawaban dari Mubarak, ayah dari Abdullah ibnu Mubarak yang merupakan tabi'in terkemuka, 'alim yang zahid dan mujahid, ketika ditanya sang majikan,
"Dengan siapa sebaiknya kunikahkan putriku satu-satunya itu, hai Mubarak? Bantu aku! Berikan pertimbanganmu!"

Mubarak menjawab santun, "Tuan, kudapati kaum yang menikahkan putrinya dengan pertimbangan nasab semata adalah musyrikin Quraisy. Dan kudapati, menikahkan anak perempuan dengan pertimbangan paras dan rupa di zaman ini, dilakukan sebagian orang-orang Nashrani. Kudapati pula, yang sering menikahkan putri mereka dengan pertimbangan kekayaan ialah sebagian Ahli Kitab dari kalangan Yahudi. Maka bagimu yang merupakan seorang mukmin; yang harus kaupertimbangkan soal calon menantu hanyalah agamanya, imannya, akhlaqnya!"

Jadi, agama dan iman seseorang berbanding lurus dengan akhlaknya. Akhlak, sikap, kepribadian, tata krama, dan sejenisnya. Aku sendiri sudah terlalu sering mendengar berita keretakan bahkan kehancuran rumah tangga disebabkan perangai sang istri. Terlalu sering. Nggak usah ditulis di sini semuanya, nanti jadi panjang, hehehe.

Ya begitulah ceritaku hari ini. Dari percakapan antara sopir angkot dan temannya sampai sabda Sang Nabi tentang perkara memilih calon istri. Semoga nyambung. Semoga bermanfaat.


Di rumah tercinta
Bekasi, 23 Desember 2017 / 5 Rabi'ul Akhir 1439 H
12:17

Dinda Aulia Putri

Pict: Pinterest
#9

Why does Society Suck?

Bingung. Aku bingung banget hari ini mau nulis apa. Ya udah deh, aku nulis tentang "bingung" aja ya.

"Kenapa sih seseorang itu bisa bingung?"

Menurut KBBI, definisi bingung adalah.
bingung:
bi·ngung a 1 hilang akal (tidak tahu yg harus dilakukan): ia -- ketika disuruh menceritakan pengalamannya; 2 tidak tahu arah (mana barat mana timur dsb); tidak tahu jalan: ketika sampai di Pasar Senen, saya menjadi -- dan tidak tahu ke mana jalan ke Gambir; 3 gugup tidak keruan: ketika tersiar berita bahwa musuh mulai menyerang, penduduk menjadi --; 4 bodoh; tolol: yg -- makanan yg cerdik, yg tidur makanan yg jaga; 5 (merasa) kurang jelas (tt sesuatu); kurang mengerti: saya sebenarnya -- , yg mana kakaknya;
-- tak dapat diajar, cerdik tak dapat diikuti, pb berlagak pandai (tidak mau mendengarkan nasihat orang);
Intinya adalah bingung itu bisa: hilang akal (tidak tahu yang harus dilakukan), tidak tahu arah atau jalan, gugup tidak keruan, bodoh, merasa kurang jelas atau mengerti.

Btw, ini KBBI banget, ya? Lol. Oke, Pemirsa yang Budiman, maafkan kebingungan saya ini. Saat ini saya masuk ke definisi bingung yang pertama, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan.

Lalu, kenapa juga orang-orang mesti merasa bingung? Apakah ketika kita melakukan suatu hal itu harus sesuai dengan "standar masyarakat" sehingga tidak dicap aneh? Apakah kita harus selalu memenuhi "harapan sosial" agar bisa diterima? Jujur, aku muak dengan semua itu.

Aku muak dengan orang-orang yang melakukan bodyshaming ke temannya sendiri hanya karena si teman itu tidak memiliki fisik yang bisa dikatakan "good looking" sesuai standar masyarakat.

Katanya, perempuan cantik itu berarti putih, tinggi, mulus, kulit halus bersih tanpa jerawat, bibir kemerahan, senyum manis tak terelakkan. Atau, perempuan cantik itu yang kayak barbie? Aku pribadi nggak terlalu suka barbie sih. Barbie itu agak serem, hehe. Ya itu sih pendapat aku.

Bahkan, dalam banyak kasus, perempuan rela menghalalkan segala cara demi menuai pujian "cantik" dari masyarakat.

Rasanya tuh mau ngomong begini di depan cewek-cewek itu.


Sebenarnya, di dunia ini seakan ada standar tak kasatmata di masyarakat. Barangkali itu adat, nilai, normal, dsb. Terus, siapa yang sudah menetapkan standar tak kasatmata itu? Lantas, kenapa orang-orang kayaknya ribet banget agar apa yang mereka lakukan sesuai dengan standar tak kasatmata –yang entah siapa yang membuatnya– ini?

Jadi, apa yang benar-benar bisa kita jadikan "pegangan" saat bingung dalam menentukan banyak hal dalam hidup? Society, dan setan-setannya? Atau, apa?

Aku tahu kita memang makhluk sosial dan bagaimana kita menjalani hidup tergantung dari dunia sosial di mana kita berada. Itu berarti kita tidak bisa terlepas dari budaya, adat, nilai, dan norma yang ada di masyarakat tersebut. Dan, yang aku tidak suka adalah, ketika ada orang diberikan fisik yang menurutnya "biasa aja", terus dia nyalah-nyalahin Tuhan karena diciptakan seperti itu? Terus, orang-orang sekitarnya makin bikin dia berpikir bahwa hidup itu nggak adil dengan melakukan bodyshaming padanya.

Di sini aku makin ngerti, kenapa dari definisi bingung bisa sampai ke pembahasan tentang standar masyarakat ini?

Ya, begitulah. Orang-orang sering merasa bingung, apakah sesuatu yang dilakukannya sudah sesuai dengan standar masyarakat atau belum? Tbh, tidak ada yang salah ketika kamu punya standar yang tidak sama dengan standar masyarakat. Sama juga ketika masyarakat tidak harus punya standar yang sama dengan yang kamu punya.

Semuanya tentang pilihan.

Ini hidupmu. Kamu yang menjalaninya. Kamu yang nanti bertanggung jawab atas hidupmu. Kamu juga bertanggung jawab atas perilakumu terhadap sesamamu. Jadi, hormatilah perbedaan pandangan yang ada jika apa yang kamu pandang tidak sama dengan cara orang lain memandang. Sebab, menghormati tidak sama dengan menyetujui. Kamu menghormati bukan berarti kamu setuju.

Dan, Untuk Para Wanita... Percayalah, kamu sudah diciptakan cantik. Cantik versi Tuhan untukmu. Kamu itu mahakarya Tuhan yang paling indah untuk orang-orang yang menyayangimu. Bukankah Tuhan sudah mengatakan bahwa Dia menciptakan manusia dengan sebaik-baik keadaan? Apa yang kamu (bahkan seluruh manusia) pandang baik untukmu belum tentu itu benar-benar yang terbaik, kan? Dan sebaliknya, apa yang kamu (bahkan seluruh manusia) pandang buruk untukmu belum tentu itu benar-benar buruk, kan?

Semuanya hanya tentang bagaimana persepsimu, bagaimana kamu memandang.

Selamat menemukan kebahagiaan versi dirimu sendiri!

Salam hangat.

Pamulang, 20 Desember 2017
17:38

Dinda Aulia Putri

Pict: Pinterest
#6

Antara Jonghyun, GTA, dan Depresi


Berita kematian salah satu artis korea pada 18 Desember 2017 kemarin mungkin "menggemparkan" para kpopers. Dan, aku bukan kpopers ataupun pecinta drama korea. Aku nggak suka tapi nggak benci juga. Biasa aja. Tapi, aku mau bahas sisi lain si Jonghyun kenapa bisa sampai memutuskan mengakhiri hidupnya. Banyak yang bilang karena dia depresi. Pertanyaan muncul di benakku, mungkinkah Jonghyun menderita anxiety disorder? Ah, maaf buat kpopers, ini cuma dugaanku.

Dia, di tengah popularitasnya dan kekayaannya dia merasa tidak bahagia. Dia merasa depresi. Dan, akhirnya memutuskan untuk bunuh diri.

Hal itu juga mengingatkanku waktu dulu aku masih suka main game bareng adik atau kakakku. Dulu tuh suka banget main GTA San Andreas di PS2. Itu game udah tamat berkali-kali, masiiiih aja dimainin, hehe. Terus juga kan player-nya si CJ udah kaya, rumah di mana-mana, wilayah kekuasan seluruh San Andreas, orang-orang pada takut (bahkan, polisi juga takut karena di-cheat, hehe), dan mau pacar tinggal klaksonin mobil mewah, ykwim. Yang aku lakukan saat itu sih biasanya emang bunuh diri. Entah terjun dari gedung tertinggi atau dari pesawat yang lagi mengudara, hehehe. Karena itu game kan, jadi ya pasti hidup lagi. Nyawanya lebih banyak daripada nyawa kucing yang katanya sampai ada sembilan, hehe. Lalu, setelah itu mau apa lagi?

Pada saat itulah, jiwa akan mencapai titik bosan. Saat itu biasanya jiwa jadi kosong. Merasa sendiri di tengah keramaian. Merasa sedih padahal mungkin everyone thinks he's the happiest one. Dengan segala prestasi dan ketenaran yang katanya jadi impian banyak orang. Dengan segala kekuasaan yang katanya berarti kehebatan. Tapi, hei, untuk hal seperti itukah kita hidup?

Dari situlah aku belajar. Jiwa manusia itu tidak pernah puas dengan sesuatu, mungkin karena itulah diciptakan surga dan neraka. Karena dunia ini tidak akan pernah membuat manusia merasa puas. Ketika manusia disuruh ini-itu pun sama Tuhannya, Tuhan masih harus menjanjikan pahala atasnya? Benar, kan? Apa aku salah mengatakan ini?

Di sisi lain aku mau bahas tentang depresi. Dulu pernah ada yang bikin tulisan tentang anxiety disorder. Dia menceritakan kisah temannya (di Line) dan dirinya sendiri (di Blog). Aku bingung bagaimana menjelaskannya jadi lebih baik aku copy-paste di sini aja ya.

Tulisan ini dibuat oleh Shafa di Line :

***starts here***

Teman saya baru aja mencoba bunuh diri. Mungkin alasannya terdengar sepele, karena omongan kecil yang ada di sekitarnya, dan masalah keluarganya. Saya sangat prihatin, ketika saya dengar dia ternyata mengalami anxiety disorder dan depresi karena hal itu. 

Sebab, saya sebagai teman dekat di kehidupannya sehari-hari, sama sekali tidak menyadari dia sedang sedih, terkena masalah, atau semacamnya. I mean, she seems great everyday, bahkan dia sering membuat saya dan teman teman tertawa.

Dibalik itu? dibalik senyum yang dia tunjukkan setiap harinya, ternyata dia menyimpan sesuatu yang tidak pernah diungkapkan. 
Saya baru tau, setiap malam dia selalu mikir bagaimana cara untuk melarikan diri atau bagaimana kalau dia mengakhiri hidupnya. Dan itu yang membuat dia akhir-akhir ini kurang konsentrasi di sekolah.

Baru saja, salah satu teman saya menangis dihadapan saya dan bilang,
"Shaf, dia sebenernya udah cerita ke gue kl dia gitu, tapi respon gue malah 'ah jangan sok sok-an cutting lah, kayak orang gapunya agama aja, sinetron bat deh lo, udah jalanin aja, pasti ada jalan keluarnya.'"

But that's it, every single thing we say, matters.

Mungkin memang caranya salah, tapi saya sendiri, jujur, yang pernah mikir ke arah situ, ngerti. Mereka butuh orang untuk diajak bicara, mereka butuh dukungan orang-orang sekitar. Jangan justru dijatuhkan.

Tolong, just be there for your friends, karena bisa aja orang orang di sekitar kita justru butuh teman atau orang untuk bisa diajak bicara. 
Mereka sebenernya takut, takut tentang omongan orang yang pasti bakalan nyakitin. belum cerita aja udah dikomentar yang gaenak, apalagi udah cerita? mau dibilang apa? lemah, cengeng, atau drama?

Who knows?

Dan sekali lagi, tolong, pikirkan dahulu sebelum berkata-kata, mungkin maksudnya tidak menyakiti hati, tapi bagaimana kalau yang terjadi sebaliknya? Jangan terlalu banyak berkomentar, tapi tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya.

Hidup orang beda-beda, kita gak bisa samain gitu aja dengan apa yang kita jalanin setiap harinya. Masalah orang beda-beda, apa salahnya sih, membantu orang? setidaknya mendengarkan?

Contoh dari hal-hal kecil, omongan kecil, seperti:
"Eh lo gendutan ya"
"Ah gausah nangis, cengeng banget lu"
"Kok aneh sih?"
"Kok jerawat lo jadi banyak gitu sih?"
"Eh, pr lo knp sih belom kelar kelar? males banget dah jadi anak"

Kita sendiri gatau kan, dibalik itu, bisa saja dia pikirin terus sampai rumah? Atau dia punya masalah lain, dan kalian justru nambah beban dengan kata kata kayak gitu?

"ah, baperan kali orangnya."

Orang berbeda beda, jangan mengambil kesimpulan terlalu cepat. Think twice.

Renungkan.

"How important every little thing you say to someone really is. And perhaps, it could save a life." -(13rw)

You never know how what you do will affect someone else.

Dan untuk kalian yang ngerasa kayak gitu, i really want you to know that you're not alone. Cerita. Jangan diem aja. Cari orang yg menurut kamu pas untuk diajak bicara. All the love for you all :)x

***ends here***

Dan satu lagi ditulis oleh Yosefinika Sinaga di blognya. Kalau yang ini aku copas-nya random.

****starts here***

Apa yang aku lihat didepan mata, suara-suara seperti apa yang aku dengar, juga semua yang aku rasakan, semuanya berasal dari pikiran. That is not dramatic, that is real.

Kalian tau seberapa mengganggunya pikiran yang ada? Hal seperti itu terjadi gitu aja. Orang lain gak akan ngerti. Banyak yang lebih memilih diam dibanding harus cerita. Karna mau cerita pun diri sendiri bingung nyampeinnya gimana. Orang lain yang gak merasakan seakan-akan belum siap buat buka telinga. Karna bisa jadi respon mereka seperti ini:

“ah ribet lo” // “drama banget sih hidup lo” // “emang lo doing yang punya masalah?!” // “baperan banget sih lo” // “mikirin amat” // “jangan dibikin susah lah” // “bermasalah mulu hidup lo” // “gausah over-acting lah” // “ah lo kayak gak tau aja dia gimana” // “sabar aja” // “makanya sering2 sholat, gereja, ibadah”

Teman-teman, yang mereka butuhkan adalah kesiapan telinga untuk mendengar. Itu saja membantu. Support? Lebih membantu. Respon diatas tidak membantu sama sekali, bahkan bisa menjatuhkan mereka lebih dalam lagi. Semakin dalam dari yang kalian bayangkan. Hingga akhirnya mereka hanya bisa berusaha menyelamatkan diri mereka sendiri. Guys, stop giving negative responses. Think twice before you judge their thought.

Kalau kalian tidak memiliki keberanian untuk memuji hasil seseorang, setidaknya jangan buat mereka selalu merasa kurang.

I know how hurts it is when you have no one to share and you just keep all your problem alone. I know how depressing it is when you can’t sleep at night feeling so empty yet overthiking about anything. Rasa takut, feel lonely, bingung, regrets everything, nyalahin diri sendiri disaat itu isn’t your fault, kangen sama banyak orang terdekat seperti halnya you are really losing them, suka nangis tiba-tiba tanpa alasan (just like feeling down), gak punya kepercayaan diri, terlalu merasa cemas akan apa yang terjadi, terus merasa bersalah sama apa yang belum terjadi, selalu takut mengecewakan perasaan orang lain, dan tidak nyaman dikelilingi orang-orang baru. Pikiran yang terlalu complicated seringkali akan berakhir seperti ini:

“kalaupun gue menghilang gak akan merubah apa-apa, jadi buat apa gue tetep ada” // “gue jadi gila kayaknya bakal lebih asik buat gak mikirin apa-apa” // “ngecewain orang lain nyiksa diri sendiri mending gue mati aja jadi orang lain gak akan sakit hati karna gue terus”

Tbh, beberapa pikiran diatas bener-bener pernah terlintas dibenak.

Mental kita semua beda-beda. Gak semua orang bisa disama-ratakan. Punya batasan untuk diri sendiri bukan berarti ngelupain hal kalau gak semua orang bisa sama kayak kita.
Mereka yang punya mental disorder.
Mereka yang punya mental pemikir.
Mereka yang terlalu sensitive.
Mereka yang mentalnya kuat.
Mereka yang mentalnya pesimis.
Atau mereka yang mentalnya ambisius.
We are all mentally different guys.

Memahami orang lain sama sekali gak ngerugiin. Seenggaknya, setiap dari kita gak buat orang lain selalu ngerasa kurang.

Coba lebih peduli sama sekitar, terutama orang-orang terdekat kita. Jangan hanya pahamin apa yang kelihatan, belajar buat ngerti apa yang secara gak sadar kita gak lihat.

“the people with the brightest smiles and loudest laughs are the one who hurt the most, and no one ever notice” – unknown

Can you help as much as you can to save their lives?

Siapapun yang pernah atau sedang merasakannya, listen to me. All survivors of our own problems. We are all have a reasons why we are here. Go find your happiness.

***ends here***

So, aku nggak maksa kalian buat sharing ke aku. Tapi, kalau kalian butuh teman cerita, aku siap jadi pendengar๐Ÿ˜Š. Kontak aku aja via comment atau email ya! Hopefully you're all guys find your happiness. Because you're amazing, you're needed, you're loved. Please remember that.

Pamulang, 19 Desember 2017
15:55

Dinda Aulia Putri

Flashback Paling Indah


"Menurut lu, kalau ada orang yang pernah hafal Quran terus dia lupa, kira-kira dia mau ngafal ngulang nggak?" tanya Abangku memulai percakapan tadi pagi. Kami memang ngobrol menggunakan "gua-lu", hehe. Maklumi ya, Pemirsa.

"Mau dong," ujarku singkat.

"Itulah bedanya. Gua main COC, level udah tinggi terus tiba-tiba akunnya kehapus. Fix, langsung gua uninstall," jelasnya.

"Gilang juga di LS pangkat udah tinggi terus kebanned, langsung pensi dia mainnya," jelasku sambil tidak bisa menahan tawa. By the way, Gilang itu nama adikku, dan pensi itu artinya udah nggak mainin suatu game lagi.

Percakapan seperti ini sering terjadi antara aku dan saudara-saudaraku yang memang semuanya laki-laki. Aku perempuan sendiri, hehe. Dan, mereka gamers semua.

"Itulah bedanya. Orang yang menghafal Alquran pasti mau mengulangi hafalannya lagi. Sedangkan selain Alquran, seakan kehilangan "hasrat" ngulanginnya itu." Kata si Abang.

Ya, pernyataannya benar. Walau mungkin ada beberapa yang nggak setuju. Sebab di beberapa kasus, banyak gamer yang mulai main game yang sama lagi setelah sekian lama, atau istilah lainnya vakum.

Aku pribadi menyamakannya dengan membaca novel. Baca novel yang sama dua kali, itu ibarat balikan sama mantan, hehehe. Udah tahu ending-nya kayak gimana. Nggak seru. Eh, aku nggak punya mantan lho, ya. Aku nggak main pacar-pacaran. Heu, jadi salah fokus kan :")

Nah, begitulah. Kalau Alquran, kita baca berulang kali (tentunya baca ulang artinya juga), pasti adaaaa aja hal baru yang didapatkan. Serasa dapat ilham gitu. Itu juga kalau kita benar-benar mau menggunakan akal sesuai yang diperintahkan Allah dalam kitab-Nya.

ู„َุขูŠَุงุชٍ ู„ِุฃُูˆู„ِูŠ ุงู„ْุฃَู„ْุจَุงุจِ
"Tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal." [Ali-Imran: 190]

ุฅِู†َّ ูِูŠ ุฐَٰู„ِูƒَ ู„َุนِุจْุฑَุฉً ู„ِุฃُูˆู„ِูŠ ุงู„ْุฃَุจْุตَุงุฑِ
"Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (mata hati)." [Ali-Imran: 13]

ุฃَูَู„َุง ุชَุชَูَูƒَّุฑُูˆู†َ
"Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?" [Al-An'am: 50]

ุฃَูَู„َุง ุชَุนْู‚ِู„ُูˆู†َ
"Tidakkah kamu mengerti?" [Al-Baqarah: 44]
Dan masih banyak ayat-ayat lainnya.

Ah, jadi ingat perkataan Ustadzku tentang Alquran yang mulia dan memuliakan.
Selembar kertas menjadi mulia, jika yang dituliskan di atasnya ayat-ayat Alquran. Buktinya kalian tidak akan mau menginjaknya, kan?
Kulit kambing menjadi mulia, jika yang diukir ayat-ayat Alquran. Beda kan kalau ia dijadikan jok motor?
Nabi Muhammad saw. menjadi mulia karena kepadanya diwahyukan Alquran.
Kota Mekkah dan Madinah menjadi mulia, karena di sana diturunkan Alquran.
Bulan Ramadhan menjadi mulia karena pada saat itu diturunkan Alquran.
Lailatul qadr menjadi malam paling mulia karena itu waktu khusus diturunkan Alquran.
Umat Islam menjadi mulia karena Allah berikan petunjuk berupa Alquran.
Lalu sekarang pikirkan bagaimana kiranya Allah akan memuliakan manusia yang di dalam dadanya ada Alquran? Kemudian, ia mengamalkannya dan mengajarkannya ke orang lain?

Imam Bukhari mencatat dalam Shahih-nya.
ุฎَูŠْุฑُูƒُู…ْ ู…َู†ْ ุชَุนَู„َّู…َ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†َ ูˆَุนَู„َّู…َู‡ُ
"Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya."

Ya Allah, jadikanlah kami dan anak keturunan kami termasuk Ahlul Quran.
Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam surga bersama Alquran.

Aamiin ya Allah.

Pamulang, 18 Desember 2017
22:40

Dinda Aulia Putri

#4

Menulis Keabadian


"Hidup hanya sekali. Hiduplah yang berarti!"

Begitulah bunyi nasihat salah satu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor. Kita diberi kesempatan hidup ini hanya satu kali, jika yang satu-satunya itu disia-siakan, mau kapan lagi?

Bicara tentang hidup maka kita bicara juga tentang waktu. Sebab kita hidup berada di antara ruang dan waktu. Keduanya satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Aku yakin semua pasti setuju kalau waktu kita begitu berharga. Sehingga pernah ada yang mengatakan bahwa waktu adalah kado terbaik. Saat seseorang memberikan waktunya, dia telah memberikan sebagian dari hidupnya yang tidak mungkin kembali. Maka hargailah, siapapun itu yang telah memberikan waktunya untukmu.

Imam Syafi'i pernah bilang, "Jikalau Al-Qur'an hanya memiliki surah Al-Ashr, itu sudah cukup untuk menjadi pegangan bagi umat manusia."
Allah bersumpah dengan waktu, dan mengatakan di surah itu, manusia -semuanya- merugi kecuali mereka yang beriman, beramal shaleh, saling menasihati untuk menaati kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran. Dan, siapa yang tidak disibukkan dengan sesuatu yang bermanfaat, pastilah disibukkan dengan sesuatu yang sia-sia.

Aku percaya bahwa manusia itu tidak mati. Tidak peduli jasadnya telah hancur dihimpit bumi. Caranya? Menulislah. Menulislah, maka kamu akan abadi.

Apa jadinya jika Imam Bukhari tidak menulis? Mungkin saat ini kita makin dipusingkan mana yang sebenarnya hadis Nabi dan mana yang bukan. Sebab terlalu mudah manusia berdusta, demi kenikmatan dan kepentingan sementara.

Apa jadinya Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Khawarizmi, dkk, tidak menulis? Apa jadinya jika HAMKA, Pramoedya, Andrea Hirata, Asma Nadia, dkk, tidak menulis?
Apa mungkin kamu mengenal -paling tidak tahu- mereka?

Ayo, tulis nama kita di panggung sejarah. Jadilah penulis. Serta jadilah pribadi yang namanya layak ditulis. Selamat berkarya!

Btw, kalau kamu sedih terus bisanya cuma nulis galau, ya tulis aja. Trust me, someday it will be worth it. :")


Tangsel, 12-12-17
19:54

Dinda Aulia Putri

Menulis adalah Tugas Iman


"Ah, aku mah nggak bakat nulis, Din! Aku cuma hobi baca," celoteh seorang teman.

Aku jadi berpikir, benarkah menulis itu bakat? Tapi, Ahmad Fuadi pernah mengatakan kalau menulis itu kebiasaan. Seberapa berbakatnya pun seseorang dalam tulis-menulis, tidak akan ada karya jika ia tidak terbiasa. Intinya, bisa karena terbiasa. Hm, klise memang. Percayalah, hal yang klise ini sulit-sekali diistiqomahkan jika tidak ada niat yang kuat dalam diri.

Kata Imam Syafi'i juga, "Ilmu adalah binatang buruan, dan pena yang menuliskan adalah tali pengikatnya."
Mungkin karena manusia itu kodratnya pelupa, maka diciptakanlah pena.

Awal aku suka menulis sebabnya karena aku ingin bercerita tanpa disela. Ingin "merasa didengarkan" setidaknya oleh diriku sendiri. Saat itu aku percaya, kebanyakan orang ingin mendengarkan hanya karena mereka penasaran, bukan karena peduli. Maka bagiku menulis adalah luapan emosi yang tidak pernah bisa tersalurkan.

Aku pernah ingin sekali membagi tulisan-tulisanku, sampai aku tahu tentang seseorang. Ia menyimpan tulisan yang siap diterbitkannya lamaaaa sekali, katanya takut apa yang dituliskannya menjadi dosa jariyah yang tak terputus hingga hari kiamat.

Aku diam, sekaligus takut. Menatap buku yang disusun di rak-rak toko buku di kotaku. Ketika ribuan penulis berlomba-lomba menerbitkan karyanya, seseorang itu justru takut...

Teringat dengan karya yang dituliskan Hitler & Stalin dan karya yang dituliskan Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Al-Ghazali, Ibnul Qayyim, Ibnu Atha'illah, dkk. Itulah, menulis adalah pertaruhan berupa pilihan. Ia bisa menjelma jadi kebaikan atau keburukan, yang tidak terputus sampai akhir zaman.

Maka aku di sini, meminta siapa pun yang membaca tulisanku. Sekiranya ada yang keliru, tolong beritahu aku, dengan cara yang ma'ruf (baik).

Oh ya, aku ingin menutup tulisan ini dengan tweet dari Ust. Salim, hehehe.

Menulis juga bagian dari tugas iman; sebab makhluq pertama ialah pena, ilmu pertama ialah bahasa, dan ayat pertama berbunyi "Baca!"

Adapun ilmu yang diajarkan pada Adam & membuatnya unggul atas malaikat nan lalu bersujud adalah bahasa; kosa kata. (QS 2: 31)

Muhammad hadir bukan dengan mu’jizat yang membelalakkan; dia datang dengan kata-kata yang menukik-menghunjam, disebut ‘Bacaan’. Itulah, Al-Quran❤


Tangsel, 11 Desember 2017
20:51

Dinda Aulia Putri

Filosofi Air Mengalir Bagiku


"Yaudah nggak usah dipikirin. Hidup ngalir aja kayak air. Jalanin aja." kata seorang teman.

Aku berpikir panjang. Jadi, hidup di dunia ini sebenarnya untuk apa? Aku tahu, banyak sekali Al-Quran menjelaskan ini: untuk beribadah, untuk diuji siapa yang lebih baik amalnya.

Dan, apa sebenarnya kehidupan dunia ini?
Jika petani ditanya, mungkin ia akan menjawab, "Dunia ini seperti menanam di ladang, untuk dipanen hasilnya di akhirat nanti."
Jika musafir ditanya, mungkin inilah jawabannya, "Dunia untuk menyiapkan bekal, menuju hari-hari yang panjang, terlalu panjang dan tak memiliki akhir."
Jika aktor yang ditanya, mungkin ia menjawab, "Dunia ini panggung sandiwara. Penulis skenarionya dan sutradaranya adalah Tuhan. Jadi, mainkan saja peran terbaikmu untuk kisahmu sendiri. Biar Tuhan yang nanti menilai."

Benar ya, dunia ini ladang beramal.
Dunia ini tempat mengumpulkan bekal.
Dunia ini panggung sandiwara.
Dunia ini senda gurau.
Dunia ini tipuan belaka.
Dunia ini perhiasan.
Dunia ini bunga kehidupan.

Oh ya, kata temanku tadi, jalani saja hidup di dunia ini bagai air yang mengalir.
Tapi, bukankah secara alamiah, air hanya akan mengalir ke tempat yang lebih rendah?
Bukankah kualitas diri harus terus meningkat? Bukankah kita harus berpikiran maju? Bukankah hidup ini harus punya visi misi?

Dan, ya, aku menemukan jawabannya. Ini jawabanku. Terserah kamu kalau tidak setuju. Jika memang harus mengalir ke tempat yang lebih rendah, pastikan ia mengalir ke tempat yang benar.
Mungkin menuju pipa-pipa yang mengarah ke tempat-tempat baik.
Mungkin menuju turbin untuk menghasilkan pembangkit listrik.
Mungkin menuju lahan pertanian.
Dan lain-lain.

Yang jelas, menjadi bermanfaat. Sebab:
"...Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, ia akan tetap tinggal di bumi.." (Ar-Ra’d:  17)


Pamulang, 7 Desember 2017


Dinda Aulia Putri