Search

The Greatest Revolution for Shining


"Jangan mencintai berlebihan. Jangan membenci berlebihan."

Itu adalah pesan yang sangat klasik tapi memang benar adanya. Kadang kita harus "digampar" dengan batu bata kenyataan ketika telinga sudah tidak bisa lagi mendengar nasihat-nasihat baik. Saya tahu, cinta memang bikin bodoh. Tapi terlalu lama berkubang dalam kebodohan juga tidak baik. Itu artinya kita tidak pernah belajar. Ah, saya juga pernah bilang di salah satu puisi saya, "Menasihati orang yang jatuh cinta itu bagai mengenalkan cahaya pada si buta."

By the way, cinta bikin bodoh itu fakta. Karena bagian frontal cortex otak kita yang berfungsi sebagai judgement critical tidak berfungsi atau tertidur tatkala kita jatuh cinta. Ditambah lagi, kekuatan dari endorfine, koktil dopamine, norepinephrine, oxytocin, yang seolah saling bekerja sama membuat kita makin "mabuk" saat jatuh cinta.

Saya jatuh cinta sama orang itu sejak usia saya masih 15 tahun. Sekarang, pada 20 Januari 2018, saya berusia 20 tahun kurang 76 hari. Saya tepat 20 tahun saat 6 April 2018 nanti. Itu artinya, hampir 5 tahun lamanya saya menyiksa batin saya untuk mencintai seseorang yang seharusnya tidak perlu saya cintai.

Saya tidak akan pernah melupakan ini. Tidak akan pernah. Saya juga tidak berencana untuk melupakannya, karena saya sadar, saya sudah membayar dengan mahal pengalaman ini. Saya membayarnya dengan waktu, pikiran, dan uang (terutama kuota) yang tidak sedikit. Biarkan saya sedikit perhitungan akan hal ini :D.

Saya akan membiarkan rasa ini terekam sebagai harta karun paling berharga dalam hidup saya yang menjadikan saya lebih dewasa, bijak, dan keren dari sebelumnya. :)

Dia baik, tapi saya tidak 'cukup baik' untuk dia. I'm just not enough for him. And maybe, never be enough. Mungkin tidak akan pernah cukup jika pada akhirnya Tuhan tidak menakdirkan kami untuk bersama.

Saya sudah memaafkan atas sikap dia yang sangat menyakiti hati saya. Sisi positif saya mengatakan bahwa dia tidak pernah bermaksud begitu. Ya, saya memaafkannya karena saya mencintai diri saya sendiri. Saya berhak atas kedamaian di hati saya.

Oh ya, saya juga akan berhenti untuk menjadikan studi dan mimpi-mimpi saya sebagai alasan untuk melupakannya. Saya sudah bilang, saya tidak ingin melupakannya! Saya hanya akan menjadikannya sebagai pelajaran hidup tentang rasa sakit paling berharga dalam hidup saya. Kini saya paham, saya hanya perlu fokus melangkah ke depan sambil menikmati hidup dan mensyukurinya!
Oh, it feels like, I will very busy for enjoying myself, Darling! :)

Kenapa saya bilang saya hanya perlu fokus melangkah ke depan? Karena sekarang saya ngerti.
Move on itu... Ibarat kita jatoh dari sepeda terus sakit atau luka, emangnya kita bakal berusaha keras melupakan kejadian itu? Nggak, kan? Yang perlu kita lakukan cuma melanjutkan hidup.

Yang terpenting adalah kita harus membahagiakan diri kita sendiri. Kebahagiaan kita ya tanggung jawab kita sepenuhnya. Mementingkan kebahagiaan diri itu nggak berarti egois kok, di sini kita hanya mengerti mana yang perlu diprioritaskan dan mana yang tidak. Dalam hidup, ibarat mau mencapai puncak gunung, kadang kita harus merelakan untuk tidak membawa barang-barang yang tidak terlalu penting supaya kita bisa lebih cepat mencapai puncak.

Intinya bagi saya, move on itu bukan melupakan, tapi merelakan. Karena saya yakin, semakin saya ingin melupakan maka saya justru akan semakin ingat. Yang perlu saya lakukan sekarang adalah melanjutkan hidup saya, membahagiakan diri saya sendiri, dan orang-orang yang menyayangi saya. Yang sudah berlalu, biarkan berlalu. Ambil pelajarannya. Allah menceritakan kembali kisah kaum-kaum terdahulu apa karena ingin membahas masa lalu? Nggak, kan? Allah ingin kita mengambil pelajaran darinya. Pelajaran itu tidak selalu didapat dari bangku sekolah atau perguruan tinggi, namun justru dari hal-hal yang kita alami setiap hari. Termasuk dari sakit hati.

Terakhir, untuk kamu! Terima kasih sudah datang ke hidup saya. Kanvas hidup saya masih kosong dari warna-warni percintaan, terima kasih kamu berkenan mewarnainya. Warnanya abstrak menganggumkan, karena saya tahu sejak awal kamu memang tidak berniat memberinya warna. Sekali lagi dengan setulus hati, saya ucapkan terima kasih. 😊

Saya pergi, karena saya memutuskan untuk lebih mencintai diri saya sendiri.

Bekasi, 20 Januari 2018
19:33

Dinda Aulia Putri

Picts: Pinterest

Random Thinking (UNFAEDAH POST)


Di hari terakhir ngeblog bebas ini gue mau cerita aja deh. Sekalian menumpuhkan unek-unek juga.

Gue besok mau UAS matkul tajwid. Kitab tajwid yang dipake itu karya Ust. Fathoni yang Metode Maisura. Pernah gue post di blog ini di awal-awal. Jadi, ini tuh buku tajwid super duper lengkap yang pernah gue temuin selama ini. Hampir semuanya dibahas dari berbagai sisi. Bagus banget. Asli.

But in the other side, gue jadi pusing. Ibarat belajar biologi yang banyak make bahasa latin, di sini juga banyak banget istilah barunya. Ya nggak terlalu masalah sih mungkin kalo kita paham banget bahasa Arab, tapi kan gue mah belajar bahasa Arab dasarnya doang sama modal stalk orang Arab sekalian cuci mata wkkwkwk. Maaf, ya Allah :")

Mana besok digabung sama tasawuf. Gue kirain tuh ya mending belajar teologi dah daripada belajar tasawuf. Seru sih, tapi takut. Takut salah tafsir karena otak nggak bisa nangkep. Takut jadinya dosa. Takut sok tahu. Takut macem-macem deh.

Gue pernah ketemu langsung sama orang yang lagi ngejalanin riyadhah sufi. Dulu orang itu sempet tinggal di rumah gue seminggu. Words can't describe it. Akhlaknya masya Allah banget. Baik banget. Santun banget. Senyumnya nggak pernah luntur. Takut segala sikapnya, bahkan sesuatu yang di luar kendali dia, itu nyakitin orang lain. Gue nggak bisa berkata apa-apa lagi deh.

Oh ya, gue juga seneng deh. Anak-anak kelas gue mau ngadain baksos setelah UAS ini ke anak-anak di bawah kolong jembatan. Nanti kita rencananya mau main-main sambil ngajarin quran gitu ke mereka. Ah, can't wait! :")

Dan, sekarang gue lagi bingung gimana caranya nyelesain satu kitab tebel buku Metode Maisura dalam waktu kurang dari 12 jam. Ya Allah, bantu aku. Aku nggak tahu besok mau ngejelasin apa di depan dosen. Ujiannya lisan pula.

Gue nggak masalah kalau harus jelasinnya pake materi tajwid yang banyak beredar di buku-buku tajwid kebanyakan, tapi ini katanya kan "calon sarjana Alquran", harus paham seluk-beluknya. Hwaaaaa. Jadi pengen nangis.

Ah, sayang air mata gue buat nangis mah, mending gue tidur. Bye.

Jadi inget kata-kata dari temen gue, wkwk.
"Males boleh, bego jangan." -Pikachu

Note:
Ini adalah postingan blog gue yang paling unfaedah. Lebih baik nggak usah dibaca. Yang penting ngerjain tugas nulis hari ini. HEHE.

Pamulang, 3 Januari 2018

Dinda Aulia Putri

Pict: Pinterest
#20

ALHAMDULILLAH
YEAYYY, I'VE DONE!!!

Masih Suka Shalat Terus Maksiat Jalan? Baca Ini!

Malam ini gue mau jawab lagi pertanyaan dari akun ask.fm gue. Sorry ya pake "gue" soalnya biar nggak timpang di akhir, wkwk. Btw, menurut gue sih ini penting. Dan, sebagai catatan untuk diri gue sendiri juga.

Question:
"bagaimana tanggapan kamu tentang banyaknya cewe berjilbab namun sebenarnya masih suka mesum sama pacarnya?"

My Answer:
Gue jadi ingat dosen fiqih, Ibu Ummi. Beliau itu bergelar profesor di bidang fiqih. Perempuan lagi. Masya Allah. Kece abis!

Waktu itu kami lagi bahas thaharah (bersuci). Thaharah ini kunci syarat sahnya shalat. Jadi nggak bisa asal-asalan. Pantes banget pernah ada hadis begini.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersihkanlah diri dari pipis. Karena kebanyakan siksa kubur berasal dari bekas pipis tersebut.” Diriwayatkan oleh Ad Daruquthni.

Diriwayatkan pula oleh Al Hakim, “Kebanyakan siksa kubur gara-gara (bekas) pipis.” Sanad hadits ini shahih.

Intinya, siksa kubur kebanyakan berasal dari bekas pipis. Kenapa disiksa? Ya karena kalau dia mau shalat terus dalam keadaan belum suci, ya nggak sah dong shalatnya. Sedangkan shalat itu wajib, tiang agama. Kudu-mesti-harus dilakuin walaupun kita dalam keadaan sekarat. Selama hayat masih dikandung badan, shalat tetap wajib bagi seorang muslim.

Terus, Allah bilang di Alquran, shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Itu jaminan dari Allah, lho. Masih ada keraguan dari perkataan Allah di hati kita?

Oh ya, untuk masalah wudhu. Gue pernah lihat langsung orang yang wudhu-nya masih asal-asalan. Ada yang nggak membasuh air sampai ke siku karena ribet gulung lengan bajunya yang panjang (terutama cewek), dan ada yang ngusap wajahnya sekedarnya gitu karena takut make up-nya luntur (cewek lagi). Heloow, guys! Ini mau ketemu Allah, lho. Masa lebih mentingin penampilan di depan makhluk sih dibanding Pencipta kita?

Oke, back to the question. Kenapa banyak cewek berjilbab namun sebenarnya masih suka mesum sama pacarnya?
Jawabannya simpel. Periksa thaharahnya, terutama wudhu sebelum shalat, dan shalat itu sendiri. Kalau shalat kita sudah benar (sesuai syarat yang Allah mau) insya Allah itu udah cukup untuk mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar. Nggak akan mau deh diajak mesum sama pacar. Hm, mungkin nggak akan mau pacaran juga kali ya.

Btw, tentang pacaran. Orang yang nggak pacaran dengan alasan agama sih biasanya bilang, kalau pacaran itu zina. Zina mata, zina telinga, zina hati, dll. Zina lah pokoknya. Terus, ada orang yang pacaran berargumen, "Emang orang yang nggak pacaran nggak bakalan zina apa? Nggak suka cuci mata ngeliatin foto doi (zina mata)? Nggak suka mikirin doi (zina hati)? Nggak suka telponan sama doi (zina telinga)? Suka, kan? Udahlah nggak usah sok suci. Hahaha.

Begitu. Gue pernah baca statement kayak gitu, wkwkwk. Dan, gue udah punya jawaban yang super nonjok dari Aufar, dia anak TI UI. Gue langsung copas aja ya jawabannya di sini.

Makanya menurut gue kalo lo sayang dan lo suka, gausah pacaran. Lo sahabatan atau deketlah apalah, tapi jangan statusnya pacaran. Why? karena status tuh ngaruh di psikologis lo. Kalo status lo berdua pacaran, believe me lo kalo mau rangkulan pelukan dkk dst rada ga takut "ah kan pacaran ini wajar." tapi kalo lo gaada status, sedeket2nya lo paling verbal/lisan doang kan ngobrol, lo mau zina fisik pasti segan atau malu krn lo gaada status. Islam gak ngelarang orang saling mencintai. Sebenernya Taaruf itu de facto nya sama aja, cuma bedanya beneran diniatin buat nikah, minta izin buat ngedeketin sama keluarganya, dan lo gak berduaan sama dia.

Dan lagi menurut pendapat gue, kenapa sih lo masih muda aja seolah2 hidup lo urusanya cinta doang? kayak hidup lo sia2 bgt dihabiskan buat urusan cinta doang? dunia tuh luas, amazing, cari pengalaman sana-sini. Daripada lo sia2in tenaga dan waktu lo buat hal yang emosi anak muda aja belom bisa handle, mending lo kembangin diri lo sebagus2nya. Ntar kl udah gede tinggal deketin nikah deh simple kan.Orang seumuran kita darahnya masih panas menggebu2, termasuk gue. There is a thin line between love and lust, dan unfortunately kita masih belom cukup dewasa untuk ngebedain itu

Jleb abis. Itulah. Pacaran ngaruh ke psikologis kita sebagai remaja. So, nggak usah pacaran! Tenang, jodoh nggak akan ke mana kok. Semoga kata-kata penutup ini bikin hati tenang.


Ya Allah, bimbing kami untuk selalu memperbaiki shalat kami, agar Kau jaga kami dari perbuatan keji. Aamiin.

Salam hangat,
Bekasi, 30 Desember 2017
00:30

Dinda Aulia Putri
#15

Lang, Udah Makan?

Kali ini gue mau nulis untuk menjawab salah satu pertanyaan di akun ask.fm gue.

Question:
"Kamu punya lelucon favorit? Coba ceritakan!"

My Answer:
Gue mau cerita tentang Gilang, adek gue tertjintah. Dia orangnya kocak, tapi ngeselin.

Gilang suka ribut-ribut luchu gitu sama nenek aing. Suatu ketika si nenek manggil Gilang kan, "Lang, udah makan?"
"Ini lagi makan," jawab Gilang dari arah kamar. Dia makan di kamar, btw. Susah dibilangin buat nggak usah makan di kamar.
"Makan apa?" tanya Nenek lagi.
"Makan ayam."
"Hah? Makan apa?" Nenek gue pendengarannya memang udah kurang, kan. Maklum udah tua juga.
"AYAM," teriak Gilang agak keras.
"Apaan?"
"Yam-a-yam-a-yam-a-yam-a-yam-a-yam-a-yam..." begitu terus dia ngomong sampai tidak ada suara lagi dari arah si nenek.

Tapi terdengar samar suara langkah kaki.

Nenek gue ngebuka pintu kamar.
"Makan apa?" tanya Nenek lagi sambil ngeliat ke arah Gilang.
Habis kesabaran. Gilang jawab, "KUKUURUYUUUK.... KUKURUYUUK... PETOK PETOK PETOK!!!" gayanya sambil matok-matok gitu, haha.

Nenek gue masang tampang bingung. Kocak banget asli.
"Apaa? Kukuruyuk?"
Memutar bola mata kesal Gilang jawab, "Iyang makan ayaaaam! Ayam kan bunyinya kukuruyuk."
"Oh, ayam toh."
Lalu nenek gue pun berlalu pergi.

HAHAHAHAHA.

Ngakak banget ini😂. Waktu diceritain Gilang juga. Cara dia cerita lucu banget, ya Allah. Nggak bosen dah di rumah kalau ada dia. I love my lil brother to the moon and back.

Udah, gue mau cerita itu aja. Bye.

Bekasi, 29 Desember 2017
22:39

Dinda Aulia Putri
#14

I Love Me So Much


Tadi di perjalanan dari kosan menuju rumah, aku naik motor dibonceng kakakku. Ada hal menarik saat di lampu merah. Tbh, ini biasa aja sih sebenarnya tapi aku suka membahas hal yang biasa aja ini menjadi sebuah tulisan yang semoga bisa direnungkan, hehehe.

Di lampu merah, tepat di depan kami ada dua pemuda mengendarai motor. Keduanya sama-sama menggunakan motor vespa. Mereka baru saling kenal saat itu, di lampu merah. Hal menariknya, keduanya terlihat langsung akrab. Pembicaraan keduanya terlihat mengalir tanpa beban. Berisik sekali mereka, hehe. Tapi aku suka.

Dari situ aku belajar, kita ini secara natural akan selalu mendekat ke orang-orang yang memiliki kesamaan dengan kita. Entah itu dari kesamaan hobi, prinsip hidup, cita-cita, bahkan nasib buruk. Eits, nasib buruk itu bisa saling mendekatkan manusia, lho. Buktinya, karena merasa senasib seperjuangan akhirnya bangsa Indonesia mau sama-sama memperjuangkan kemerdekaan. Iya, kan?

Nah, dua pemuda itu sama-sama pecinta vespa (mungkin, menurut asumsiku). Vespa menyatukan mereka. Lucu ya, yang kita sukai dari diri orang lain itu ya sebenarnya diri kita sendiri. Kalau bahasanya Ust. Salim mah begini, "Pada dasarnya, tiap-tiap jiwa hanya takjub pada dirinya."

Ah, sama juga ketika kita jatuh cinta. Kita sebenarnya tidak cinta pada seseorang itu, kita hanya cinta pada diri kita yang tercermin dari dirinya. Kita hanya mencintai diri kita sendiri. Atau, kita mencintai harapan tentang diri kita yang terpantul pada diri orang tersebut. Misalkan, kamu punya cita-cita jadi penghafal Quran, pasti secara sadar ataupun nggak sadar kamu bakalan suka sama orang yang udah hafal Quran itu. As simple as that.

Simpelnya begini
Ukhti-ukhti pasti sukanya sama ikhwan macem akhi-akhi gitu, kan?
Orang yang cerdas pasti sukanya sama orang cerdas juga. Alasannya biar bisa nyambung kalau diskusi. Iya, kan?
Anak-anak gaul biasanya naksir anak gaul juga?
Orang yang pemikirannya dewasa seringnya (bukan berarti nggak mungkin) bakalan suka sama yang berpikiran dewasa juga. Benar begitu?

Yaah contoh-contoh di atas sebenarnya relatif sih. Soalnya tipe pasangan tiap orang itu nggak bisa disamaratakan. Akan selalu ada aja orang-orang yang suka "menabrak" standar yang udah diciptakan masyarakat.

Bagi yang udah punya pasangan (bagi jomblo harap bersabar :p), coba deh kamu lihat, sebenarnya kamu suka doi itu karena apa, sih? Benar nggak karena diri dia itu mirip kamu? Komentar ya di bawah buat sharing-sharing😊

Pada akhirnya, aku percaya sih, jodoh itu benar-benar cerminan diri. Cermin. Kita seperti melihat diri kita sendiri pada diri pasangan kita (kelak). Terpantul sempurna. Meski tidak sama persis. Karena sejatinya kita hadir untuk saling melengkapi.

Maafkan aku yang kalau ngebahas sesuatu suka ngelantur. Dari dua pemuda vespa sampai jodoh, ya? Hehehe.

Oke, cukup sekian. Mohon maaf kalau tulisanku terkesan maksa. Ini cuma pendapat. So, take it easy 👌

Di kamar tercinta
Bekasi, 27 Desember 2017
17:57

Dinda Aulia Putri

Pict: Pinterest
#13

Israel, Stanford, dan Tidurnya Umat Muslim?


Pada Maret 2016, aku pernah mengupload foto di salah satu instagram fake account milikku. Ya, aku bikin fake account itu karena aku mau kenal sama banyak orang tanpa orang itu tahu identitas aku. Rasanya seru aja, hehe.

Nah, pernah suatu ketika ada orang luar yang komentar di foto aku. Aku nggak jawab komentarnya, tapi langsung ngecek akun orang itu. Di postingan terakhirnya dia ngupload foto waktu di Tel Aviv. Hm, karena aku kepo dengan yang berbau wahyudi-wahyudi gitu, jadinya aku stalk terus. Naluri kayaknya hahaha.

Ada beberapa foto yang dia upload waktu di Israel. Dia jarang upload foto dirinya. Tapi, ada tiga deh kalau nggak salah foto dia tuh. Lumayan ganteng lagi. Sue emang wkwk. Tebakan aku sih dilihat dari wajah dan postur tubuhnya, dia campuran Israel-Eropa. Bisa bayangin gantengnya nggak? Lol.

Btw, yang bikin aku sedih, ternyata doi pinter. Pinter. Banget. Dia suka upload karyanya. Misal, rancangan bangunan gitu, tapi bukan bangunan biasa. Itu bangunan mirip benteng. Selain arsitektur mirip benteng, ada juga rancangan senjata gitu. Keren deh. Bukan cuma asal gambar, tapi kayak ada pengukurannya gitu. Terus, ada juga rancangan mobil-mobil perang tapi lebih mirip tank gitu. Aku sih banyanginnya kayak yang di GTA.

Setelah agak jauh stalking, aku baru tahu kalau doi kuliah di Stanford University. Setelah tahu ini, salah nggak kalau aku bilang doi pinter?

Di titik itu aku bingung. Rasa kesal dan sedih jadi satu. Aku jadi ingat foto anak-anak Palestina yang kepalanya ditodong pakai senjata api😭. Jangan-jangan, orang yang lagi aku stalk itu termasuk orang yang berkontribusi atau yang nantinya akan berkontribusi atas perang Israel-Palestina.

Dia yang bisa jadi nanti membuat senjata api, ikut ngerancang bangunan bentengnya, dan bikin tank-tank yang suka melindas muslim Palestina. Ya Allah, sedih nggak kebayang😭.

Otakku langsung menuju ayat ini. Surah Ad-Dukhan ayat 32.

وَلَقَدِ اخْتَرْنَاهُمْ عَلَىٰ عِلْمٍ عَلَى الْعَالَمِينَ

"Dan sungguh, Kami pilih mereka (Bani Israil) dengan ilmu (Kami) di atas semua bangsa (pada masa itu)."

Ayat di atas udah gamblang banget bilang ke kita kalau Bani Israil itu dilebihkan dalam segi ilmu. Tapi, di terjemahan DEPAG, ada tanda kurung (pada masa itu). Lalu kenapa kok rasanya mereka (Yahudi) itu masih menguasai semua lini kehidupan sampai saat ini? Apakah muslim sudah tidur terlalu lama? Mimpi yang terlalu panjang?

Di Alquran juga pernah ada ayat kan, kalau orang-orang kafir yang bangkit dari kuburnya menuju pengadilan Hari Kiamat itu menganggap di kubur mereka cuma "mimpi". Ya, mungkin di dunia ini kita cuma mimpi. Dikagetin, kebangun, terus tahu-tahu udah kiamat.

Jika mimpi itu diibaratkan dongeng, aku jadi berpikir, betapa banyak manusia yang berbuat terlalu jauh hanya untuk sebuah dongeng. Memfitnah, membunuh, mencuri, ya intinya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Itu semua dilakukan demi dunia yang 'katanya' sementara ini. Terserah kita mau hidup sepuluh, seratus, bahkan seribu tahun pun, itu semua tetap sementara. Karena nggak ada definisi yang pasti tentang makna selamanya itu. Hanya Allah yang tahu. Hanya Tuhan.

Banyak manusia takut mati. Hm, sekarang udah ada kan teknologi yang bisa menghidupkan orang yang udah mati. Serem sih. Asli. Seakan manusia lagi berusaha melawan kehendak Tuhan atau justru ingin menjadi Tuhan atas dirinya sendiri? Entahlah.

Tapi, seberapa lama pun mereka bisa memperpanjang waktu hidup mereka, tetap aja itu cuma sementara.

"Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai (dengan dunia), berpaling (dari akhirat)." (QS. Al-Anbiya': 1)

Sebenarnya jika kita mau memaknai hidup dan kehidupan, segalanya terlihat sederhana. Hidup ini ternyata:
"Kita adalah milik Allah dan kepada-Nya kita kembali."


Pamulang, 27 Desember 2017
17:14

Dinda Aulia Putri

Pict: Pinterest
#12

Dakwah adalah Seni


Dakwah itu bukan hanya sekedar menyampaikan, tetapi juga mengajak dan memanggil.
Bukan menjudge, membully, apalagi menyombongkan diri.

Dakwah, tak butuh teriakan itu halal atau haram.
Dakwah, tak butuh menelanjangi ia buruk atau mereka pendosa.
Dakwah, kita harus melihat siapa mereka, mengajak dengan cara mereka, menasihati tanpa menggurui mereka.

Karena sejatinya, dakwah adalah seni menyampaikan nilai-nilai ilahiyah.
.

Itulah kurang lebih sepenggal kalimat yang disampaikan dosen filsafatku, ketika ditanya tentang banyaknya orang Islam yang sangat mudah judging atau bullying saudara-saudaranya.

Aku pernah baca, Rasulullah itu kalau dakwah selalu memakai bahasa kaumnya, agar lebih mudah diterima. Karena bangsa Arab itu punya banyak kabilah yang mana setiap kabilah itu bisa agak berbeda bahasanya. Sama juga kayak kita saat ini, merangkul anak muda itu ya dengan bahasa mereka.

Semalam. Aku baca di Line "perang" antara Kpopers dan seorang pendakwah. Dan, banyak komentar netizen yang tidak pantas, menurut aku.

Yang paling parah aku pernah dengar yang begini,
"Bagus lah, makin sedikit 'orang-orang plastik' di dunia ini."

Ada juga,
"Bunuh diri pasti masuk neraka. Jahannam tempatnya!"
"Ngapain sih ngefans sama orang kafir?! Kan, kita dikumpulin nanti di akhirat sama orang-orang yang kita idolakan."

I see. Aku ngerti. Ada hadisnya juga bagi siapa yang bunuh diri (misalkan dengan terjun dari tempat yang tinggi), maka di akhirat dia akan terjun terus sampai waktu yang dikehendaki Allah. Begitu terus dia disiksa.

Aku juga tahu hadis dari Anas bin Malik, "Seseorang akan dikumpulkan (di akhirat) bersama dengan yang dicintainya...."
Tapi, menurutku, orang ngefans sama seseorang/sesuatu itu nggak berarti dia melupakan agama kok. Ya menurutku nggak masalah asal nggak berlebihan. Diambil yang baiknya dan tinggalin yang buruknya. Sedikit cerita, aku juga pernah ngefans sama orang luar. Dia nasionalismenya bagus banget. Itu justru bikin aku bisa lebih cinta Indonesia. Dia cinta negaranya, aku juga harus cinta negaraku. Dia membuat karya untuk negaranya, aku juga harus mempersembahkan karya untuk negaraku, Indonesia. Pelajaran yang real kayak gini menurut aku bisa lebih ngefek daripada belajar PKn berbab-bab yang ngebosenin tapi nggak membangkitkan rasa cinta tanah air, yang ada muak, hehehe.

Oh ya, pernah dengar juga, kan?
Ada wanita pelacur yang bisa masuk surga karena ia memberi minum anjing yang kehausan.
Ada seseorang yang sudah membunuh 100 orang, tetapi taubatnya diterima Allah.

Sekali lagi, surga dan neraka seseorang itu hak prerogatif Allah. Kita nggak berhak menilai seseorang "Dia ahli neraka!" atau "Dia calon penghuni surga!" hanya dari apa yang kita lihat.

Jangan hanya karena kita sudah merasa beramal dan beribadah, kita lantas memandang orang lain lebih rendah. Demi Allah, Iblis jauh lebih taat daripada kita. Amal ibadah Iblis jauh lebih banyak daripada kita. Iblis (pernah) dimuliakan Allah lebih dari Allah memuliakan kita.

Aku nggak mau nunjukkin banyak dalil, cukup Surah Al-Baqarah ayat 34 ini saja.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir."

Allah berfirman kepada para malaikat. Allah panggil sekumpulan itu dengan para malaikat. Dan, di sana ada Iblis. Artinya, Iblis pernah dimuliakan Allah setara  dengan para malaikat. Setara. Bahkan, kalau mau bahas ayat lain, Iblis itu dimasukkan ke geng malaikat utama kayak Jibril, Izrail, Israfil, dkk. Malaikat utama. Karena apa? Iblis hamba yang taat. Sepanjang hidupnya Iblis tidak pernah mendurhakai Allah. Dan, karena itu Iblis merasa sombong. Merasa lebih mulia daripada yang lain. Merasa lebih baik dari Adam yang diciptakan Allah dari tanah sehingga tidak mau bersujud tatkala Allah memerintahkannya bersujud kepada Adam.

"Sungguh, Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya. Dia mengetahui tentang kamu, sejak Dia menjadikan kamu dari tanah lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa." (QS. An-Najm: 32)

Jadi intinya....

Ya, dakwah adalah seni.

Di luar planet,
Bekasi, 24 Desember 2017
14:38

Dinda Aulia Putri

Pict: dokumen pribadi
#10