Search

Ketulusan Muhammad


“Setelah itu, aku menghentikan tanyaku…” ujar Amr bin Al-Ash.

Saat mengingat Perang Shiffin, sosok Amr bin Al-Ash yang paling kuingat. Betapa tidak, arbitrase dengan mengangkat mushaf Al-Quran yang dilakukannya telah menorehkan sejarah panjang bagi umat Islam. Tapi, aku tidak suka membahas perpecahan kaum muslimin pada saat itu. Izinkan aku kembali ke titik di mana Amr bin Al-Ash baru saja disapa hidayah Islam.

Ketika itu, setelah hari Hudaibiyah yang menegangkan, Amr bersama Khalid ibn Walid dan ‘Utsman ibn Thalhah menuju Madinah menyatakan keislaman. Rasulullah ๏ทบ menyambut mereka dengan penuh ketulusan dan dilayani sedemikian rupa, seakan beliau ๏ทบ baru saja didatangi saudaranya yang sangat dirindukan.

Hari itu Amr merasa bahwa Sang Nabi pastilah sangat mencintainya. Itu terlihat dari bagaimana sikap dan tutur beliau ๏ทบ terhadapnya. Itu juga pasti disebabkan bakat lisannya begitu rupa yang kelak bermanfaat bagi dakwah Islam. Akhirnya, Amr beranikan diri bertanya saat kudanya menjajari tunggangan Sang Nabi, “Ya Rasulallah, siapakah yang paling kaucintai?”
“Aisyah.” jawab Sang Nabi sambil tersenyum
“Maksudku, dari kalangan laki-laki.”
“Ayah Aisyah.”
“Lalu siapa lagi?”
“Umar.”
“Lalu siapa lagi?”
“Utsman.” Beliau menjawab sambil terus tersenyum.
“Setelah itu, aku menghentikan tanyaku,” kata Amr, “Aku takut namaku akan disebut paling akhir.”

Cerita ini sebenarnya terinspirasi dari Ust. Salim. Dan, izinkan aku menutup kisah ini dengan pamungkas dari beliau.

Amr tersadar, apalagi sesudah berbincang dengan Khalid dan ‘Utsman, bahwa Muhammad adalah jenis manusia yang membuat tiap-tiap jiwa merasa paling dicinta dan paling berharga. Dan itu bukan basa-basi. Muhammad tak kehilangan kejujuran saat ditanya.

Nabi itu indah dan menakjubkan memang. Tapi yang paling menarik dari dirinya adalah bahwa berada di dekatnya menjadikan setiap orang merasa istimewa, merasa berharga, merasa memesona. Dan itu semua tersaji dalam ketulusan yang utuh.

ุงู„ู„ู‡ู… ุตู„ ูˆุณู„ู… ูˆุจุงุฑูƒ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ูˆุญุจูŠุจู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ุฃุฌู…ุนูŠู†
Ya Allah, curahi kami rahmat-Mu agar kelak bersamanya di surga ๐Ÿ˜ญ


Tangsel, 1 Desember 2017/13 Rabiul Awal 1439 H

Dinda Aulia Putri

Puncak


Bismillah…

Suatu malam ada teman kampusku menginap di kosanku. Dia suka hiking. Saat itu dia menceritakan bagaimana pengalamannya mencapai puncak. Entah kenapa aku menangkap hal yang berbeda dari kata “puncak” itu.

Saat kita sudah benar-benar berada di puncak, tidak ada pilihan lain setelah itu kecuali turun.
Saat malam sudah terasa semakin pekat, itu tanda paling jelas bahwa fajar telah dekat.
Saat hujan hampir menutupi segala penglihatan, itu artinya akan muncul pelangi di hadapan.
Saat salju telah mencekam semua makhluk bernyawa, itu juga tanda bahwa musim semi akan tiba.

Aku dan perasaanku pada saat itu telah mencapai puncaknya. Dan, aku makin mengerti bahwa benar sekali pernyataan ini,
“Adakalanya perasaan itu mencapai klimaksnya, dan itu tidak selalu berupa penyatuan.”
Di mana air mata sudah tidak bisa lagi menjelaskan rasa sakit, aku tahu bahwa pasrah adalah jalan keluar paling menentramkan. Musuh yang paling sulit untuk ditaklukkan adalah diri sendiri. Bagaimana memanjemen rasa yang ada agar ianya menjadi kebaikan.

Dari perjalanan seorang “shalih” juga aku belajar, bahwa pencapaian tertinggi seorang anak manusia adalah bagaimana ia bisa ridha atas segala ketetapan Allah. Ikhlas menerimanya karena sejatinya segala sesuatunya memang hanya titipan, termasuk perasaan. Dan, bahwa hidup ini hanyalah tentang penerimaan. Tentunya setelah melalui the best steps of ikhtiar.

Itulah kenapa di dalam sebuah hadis tentang fadhilah dzikir dikatakan,
“Tidaklah seorang muslim membaca ‘Radhitu billahi rabba, wa bil Islami diinaa, wa bimuhammadin nabiyya’ saat ia memasuki sore hari sebanyak tiga kali dan di pagi hari tiga kali, kecuali wajib bagi Allah untuk meridhainya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad No. 18199)
Wajib bagi Allah untuk meridhainya. Bukankah tujuan utama hidup kita adalah meraih ridha Allah? Kalau Allah sudah ridha; jangankan dunia, surga pun akan dikasih tanpa diminta. Ibarat kalau seseorang udah cinta banget sama kekasihnya, apa sih yang nggak akan diturutin dari kemauan kekasihnya itu? Begitulah Allah.

Yang jadi jawaban besar adalah bahwa tidak semudah itu meraih ridha Allah. Hal itu ada pada amalan hati, bukan sekadar amalan lisan. Betapa mudah mengucapkan kalimat seperti di atas sebanyak tiga kali di tiap pagi dan petang, tapi hati? Apa sudah benar-benar ridha Allah sebagai Rabb? Percaya bahwa Dia Mengatur segala urusan hamba-Nya dan tidak akan menzalimi kita, namun di hati masih terbesit “Ah, betapa tidak adilnya hidup ini.” atau “Kenapa Engkau beri kelebihan itu pada si Fulan, ya Allah, sedang padaku tidak?” dan sejenisnya.

Puncak. Ya, puncak.
Di puncak kepasrahan Hajar yang ditinggalkan sang suami, di tengah gurun pasir tanpa ada tanda-tanda kehidupan, harus lari bolak-balik tujuh kali antara Shafa dan Marwah, lalu Zamzam justru muncul dari bawah telapak kaki bayi Ismail. Begitulah, Allah kirimkan bukti bahwa terkadang hasil itu tidak sesuai dengan apa yang kita perjuangkan. Jangan bersedih, Dia lebih tahu di mana tempat terbaik, kapan saat terbaik, dan bagaimana cara terbaik. Pada puncaknya, tugas kita hanya percaya, bahwa Allah tak pernah aniaya.

Puncak. Ya, puncak.
Tidak kutemukan di mana lagi puncak ketenangan hati, kecuali pada Allah Yang Mahatinggi.


Tangsel, 27 November 2017
12:34

Dinda Aulia Putri

Senin Bersama Zaid


Bismillah…

Pembicaraan dosen kami Senin kemarin mengenai sahabat penulis wahyu, Zaid bin Tsabit, membuat beberapa teman-temanku baper. Andai ada Zaid jaman now, kata mereka. Pasalnya, Zaid ini menjadi sekretaris utama Rasulullah saw. di antara 40 orang sahabat terkemuka yang lain. Zaid juga memiliki hafalan yang kuat, cerdas, muda, kritis, fasih, lagi amanah. Khalifah Abu Bakar (atas saran dari Umar) memintanya untuk menghimpun Al-Qur’an dalam satu mushaf karena dikhawatirkan Al-Quran akan hilang sebagaimana banyak gugurnya para penghafal Al-Quran di medan perang. Awalnya Zaid menolak dan berkata, “Sungguh memindahkan gunung dari tempatnya lebih mudah bagiku daripada menghimpun Al-Qur’an.” Tapi setelah diyakinkan, akhirnya Zaid mengiyakan. Dan, melihat Quran yang ada di tangan kita sekarang, mari bayangkan pahala seperti apa pahala yang diperoleh Zaid atas jasanya menghimpun Al-Quran menjadi satu mushaf? Sebab Al-Quran akan terus dibaca hingga akhir zaman dan setiap hurufnya sama dengan sepuluh kebaikan. Mari bayangkan saja, biar Allah yang menghitungnya, hehe.

Sebenarnya poin pentingnya bagiku bukan ingin membahas Zaid dan bagaimana perannya dalam perjuangan bersama Rasulullah saw. Bukan di situ. Tapi, wanita seperti apakah yang menjadi istri seorang Zaid bin Tsabit? Bagaimana cara Zaid memilih calon istrinya?

Pernah kubaca cerita tentang Ummu Aiman ra. yang merupakan budak Rasulullah saw. dari Aminah yang sudah dimerdekakan. Dialah perempuan yang selalu merawat, mengasihi, dan mendampingi Nabi saw. di saat banyak orang-orang terkasihnya meninggalkan beliau saw. Pada suatu ketika Nabi saw. di hadapan para sahabatnya berkata, “Siapa di antara kalian yang ingin menikahi perempuan ahli surga? Maka nikahilah Ummu Aiman!”
Tidak lama kemudian ada suara menyahut,
“Saya, Ya Rasulallah!” seru Zaid bin Tsabit. Maka benarlah, Zaid menikahi Ummu Aiman. Dari pernikahan mereka, lahirnya Usamah bin Zaid yang cerdas, pemberani, dan amanah. Usamah sudah ditunjuk menjadi panglima perang oleh Rasulullah pada saat usianya belum genap 20 tahun. Mungkin kita berpikir, semudah itukah arti penikahan bagi seorang Zaid bin Tsabit?

Ya, mungkin memang semudah itu. Sesederhana itu. Ketika dua orang mencintai sesuatu yang sama, maka keduanya akan lebih mudah untuk saling jatuh cinta. Zaid dan Ummu Aiman sama-sama mencintai Allah, maka Allah yang menumbuhkan rasa cinta itu untuk mereka. Dan, bisa jadi ada benarnya perkataan Umar bin Khattab ini,
“Celakalah engkau! Apakah pernikahan hanya dibangun di atas cinta? Lalu di manakah takwa, tanggung jawab dan rasa malu?”


Tangsel, 28 November 2017
19:55

Dinda Aulia Putri

Why I Fell in Love with English?

Assalamualaikum...

Bismillah

Gambar penunjang
Sumber: google image

Hello!!!
Kali ini gue mau cerita tentang awal mula gue bisa suka bahasa Inggris. Sekarang sih gue teteup belum jago, yhaaa tau lah artinya good morning apaan nggak usah liat kamus juga wkwkwk.

Oke, well, gue mau cerita tentang guru bahasa Inggris gue dulu. Gue bener-bener nggak mau nyebutin nama beliau karena ingin menjaga aja. Allah juga nggak pernah kan nyebutin nama "Zulaikha" sebagai perempuan yang udah ngegoda Yusuf? Allah menjaga aib perempuan itu. Gue juga mau menjaga aib beliau karena sepertinya yang akan gue ceritakan itu tentang sakit hatinya gue dengan sikap beliau. But in the other side, beliau tetap guru buat gue.

Awalnya pas gue SMP kelas 8. Gue punya guru Inggris cukup killer. Kita sebut saja Mrs. Lolita (read: nama samaran). Mrs. Lolita ini tampangnya nggak serem banget kok, cuma ya itu, tugas-tugasnya yang serem๐Ÿ˜ข. Waktu itu kita disuruh ngerjain satu buku paket full. Kalau lu mau tau buku yang mana, nih gue kasih gambarnya.


Then, tugasnya itu kita disuruh translate every single task on this book, setiap cerita dan pertanyaan dijawab semua plus di-translate ke bahasa Indonesia, kalau ada kolom-kolom tugas semuanya diisi (translate nggak pernah ketinggalan), ada catatan grammar dicatet di buku catetan dan pake disuruh dihias-hias segala bukunya. Buku catetan gue tuh kayak seragamnya anak sekolah baru lulus UN, penuh warna #lol.

Yha begitulah, gue tuh kayak mindahin isi buku paket itu ke buku gue plus terjemahannya. Ditambah lagi, ada hapalannya juga, vroh! Gue masih inget dikit apa yang dihapalin waktu itu,
"John and James are two friends who were crossing to a forest...blablabla...James fell to the ground and pretended to be dead...."
Mungkin ada anak Hastalavista'13 yang masih inget? Hahaha๐Ÿ˜‚. Oh ya, ada tugas disuruh nyanyi juga. Katanya sih pronunciation-nya harus bener. Btw, gue pilih lagu The Day You Went Away by M2M. Gue tau suara gue pas-pasan, jadi ya gitulah you know hahaha.

Mungkin gue lebay soalnya tugas-tugas kids jaman now juga berat-berat wkwk. Masalah gue sih bukan di situ, tapi waktu pembagian rapot dan gue liat nilai bahasa Inggris gue. Gue lupa sih persisnya KKM waktu itu berapa, oke anggep aja 77. Nah, KKM-nya 77 dan nilai gue 78. YA ALLAH YA RAHMAN YA RAHIM, CUMA SELISIH SATU! MASHA ALLAH, UKHTIIII ๐Ÿ˜ฐ.

Rasanya tuh gue pengen ngomong gini di depan Mrs. Lolita,
"SETIDAKNYA DIRIKU PERNAH BERJUAAANG. MESKI TAK PERNAH TERNILAI DI MATAMU." #lahbaper
Sumpah baper banget. Maklum lah gue anaknya ambis banget waktu itu, soalnya SMP gue termasuk favorit dan isinya juga anak-anak ambis. Sekarang mah udah lelah wkwkwk:"). Hm, gue nggak ngerti gue salahnya di mana. Apa gue sebodoh itu? Apa jangan-jangan nilai UAS gue nol? Hahaha yakali, nggak bakal juga sekalipun gue ngasal semuanya. Dan sungguh pada akhirnya gue tetep dapet pelajaran berharga: skill translate bahasa Inggris gue "agak" terasah dan tau caranya bersabar meski sudah dikecewakan. #bododin #baperlagi

Nah, itulah cerita lama gue tentang guru bahasa Inggris yang sungguh emejing! Dan, gue sekarang mau cerita tentang doi (ciyaelah doi mane). Gue pernah suka sama cowok, dia lumayan lah bahasa Inggrisnya. Dia pernah les English di salah satu lembaga yang cukup terkenal. Nggak mau sebut merek ah gue!๐Ÿ™Š wkwkwk. Ya gue suka pasti stalking-stalking lah, everybody does. Terus kadang juga chattan. Gue pernah sok-sokan pake bahasa Inggris geto kan, biar keliatan "keren" hahaha. Eh taunya, salah lagi๐Ÿ˜‚. Dia koreksi grammar gue waktu itu. Sumpah demi apa pun maloeee gaiiis! ๐Ÿ™ˆ. Mau jungkir balik rasanya gue! Soalnya kita jarang chattan gitu dah. Kadang-kadang aja. Dan setiap kali chattan gue pasti seneng banget wkwkwkwk. Betapa alaynya gue!๐Ÿ˜ญ. Indonesiah ini penuh dengan master grammar yang jarang speak up in English, yang seringnya bikin orang yang mau belajar bahasa Inggris jadi down duluan dengan komentar-komentar mereka. Untungnya waktu itu dia ngasitau gue pake becandaan gitu jadinya gue nggak baper, tapi tetep malu, fix! Gue nggak down, justru semangat gue buat bisa bahasa Inggris jadi meluap-luap sejak saat itu. Terima kasih atas inspirasinya! Walau sekarang aku telah melupakanmu! Hahaha.

Pada akhirnya gue mengerti, gue harus bisa bahasa Inggris bukan supaya nilai gue nggak KKM ataupun supaya nggak malu waktu chattan sama dia, tapi gue harus bisa bahasa Inggris untuk diri gue sendiri! Untuk membanggakan orang tua gue dan kelak gue pun akan jadi orang tua! Dan untuk mimpi-mimpi yang belum tuntas!

Maaf kalau ceritanya biasa aja. Gue hanya ingin mengabadikan cerita itu di sini. Setidaknya dengan kita menuliskan sesuatu, sesuatu itu akan abadi.

Pamulang, 21 September 2017 / 1 Muharram 1439 H
22.40

Dinda A. Putri

Lautan Kepasrahan


Bismillah...

Lautan adalah pertemuan, sekaligus perpisahan.
Titik di mana air bertemu daratan yang dirindukan, setelah berkilo meter ia berjalan.

Lautan adalah kehidupan, sekaligus kematian.
Tatkala nelayan kembali membawa ikan penyambung kehidupan, atau pemakaman para pelaut di samudera nan dalam.

Lautan adalah kebahagiaan, sekaligus kesedihan.
Teriakan penuh asa banyak dilontarkan di tepinya, atau debur ombaknya membasuh hati yang berduka.

Lautan adalah kelapangan yang penuh sesak. Ia laiknya penjara kebebasan. Kau dikepung buih dengan jeruji tanpa batas.

Lautan adalah titik akhir kepasrahan.
Semua bersujud ke haribaan-Nya
Angin yang berdesir
Batu karang dan pasir
Awak kapal yang membawa para musafir
Dan tiap nyawa di tepi pesisir
Kembalikan segalanya pada takdir

Lalu manusia yang berkata
"Sesungguhnya
shalatku, ibadahku
hidup, dan matiku,
hanya untuk Allah
Tuhan semesta alam."

Begitulah....
Lautan adalah titik akhir kepasrahan
Pasrah untuk hidup
Pasrah untuk mati

Teringat kepasrahan Maryam,
ู‚َุงู„َุชْ ูŠَุง ู„َูŠْุชَู†ِูŠ ู…ِุชُّ ู‚َุจْู„َ ู‡َٰุฐَุง ูˆَูƒُู†ْุชُ ู†َุณْูŠًุง ู…َู†ْุณِูŠًّุง

"Dia (Maryam) berkata, 'Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan lagi dilupakan.'"

Bekasi, 12 Sept 2017
15:03

Dinda A. Putri

Allah is Ever Gracious to Me

Halo, assalamualaikum :)

Bismillah...

Sumber gambar: tumblr

Alhamdulillah banyak banget pelajaran baru yang aku dapetin selama ngikutin martikulasi di asrama sini, terutama tentang Alquran. Seneng dan bersyukur. Alhamdulillah juga kepala aku agak pusing saking banyaknya nerima ilmu baru hari ini hampir tanpa jeda๐Ÿ˜…. Oh ya, mau cerita ah.

Guru Alquran aku di sini itu KH. Ahmad Fathoni, Lc. MA. Beliau itu penulis buku Metode Maisura. Judul lengkapnya "Terobosan Baru Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Al-Quran". Buku ini recommended banget buat yang mau belajar lebih dalam tentang bagaimana cara membaca Alquran dengan tartil yang benar-benar berkualitas. Karena kata Ustadz Fathoni, buku-buku tajwid yang terlanjur beredar dan populer di Indonesia itu banyak yang kurang tepat bahkan salah total secara definisi. Menurut pendapatku sih emang bener ya, baru pertama kali di sini aku nemuin buku yang benar-benar ngejelasin tentang cara membaca Alquran yang menyeluruh gitu loh. Kebanyakan buku-buku lain cuma ngebahas kulitnya doang. Jika diibaratkan satu buah tangan, buku-buku tajwid yang banyak beredar itu hanyalah membahas sebatas kukunya aja, yang lainnya belum kebahas. Fyi aja, aku di sini nggak promosi loh ya. Aku juga nggak dapet gratis soalnya takut banget banget. Hehehe (hanya untuk orang-orang yang mengerti๐Ÿ˜‚).

Oh ya, betapa aku baru menyadari, bahwa untuk mengamalkan firman Allah di Surah al-Muzammil ayat 4 itu masya Allah sekaliiii. Bahwa membaca satu huruf sama dengan sepuluh kebaikan itu penuh perjuangan dan kekuatan tekad untuk mempelajari Alquran dengan sungguh-sungguh.
Ayatnya yang ini lho,
ูˆَุฑَุชِّู„ِ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†َ ุชَุฑْุชِูŠู„ًุง
Kalau dilihat terjemahan Depag, kurang lebih artinya, "Bacalah Alquran dengan perlahan-lahan." Padahal tartil itu tidak sama dengan perlahan-lahan. Menurut Ali ibn Abi Thalib, "Tartil adalah tajwidul huruf wa ma’rifatul wuquf, yakni membaguskan bacaan huruf-huruf Alquran dan mengetahui ihwal waqaf." Maka dapat digarisbawahi bahwa perintah membaca Al-Quran itu bukan sekadar tartil, akan tetapi tartil yang setartil-tartilnya, atau tartil secara maksimal dan optimal.

Dear My Brothers and Sisters, kita punya kewajiban untuk memberikan hak pada setiap huruf dari Alquran. Sebab setiap huruf itu punya hak. Hm, maksudnya? Ya sesuai dengan tempat di mana huruf itu dikeluarkan atau simpelnya makharijul huruf yang benar. Pembahasan ini panjang banget deh. Untuk masalah hak tiap huruf, ibaratnya tuh begini... Ada seorang guru yang baik hati dan tidak sombong (lol), sang guru mau membagikan permen ke semua muridnya. Permen itu akan menjadi hak setiap murid. Semuanya kebagian. Rata. Eh tau-tau, kamu sendiri yang nggak kebagian. Semuanya dapet kecuali kamu seorang. Gimana rasanya? Sedih? Nah kurang lebih begitulah huruf di dalam Alquran ketika tidak kamu tunaikan haknya. Dan selain makharijul huruf, ada juga waqaf. Ini sih penyakitnya banyak orang ya, terutama yang nggak paham bahasa Arab. Yang terpenting mah, yang belum bisa belajar terus, dan yang ngerasa udah agak bisa jangan sombong dan ajarin yang belum bisa. Actually, aku pengen banget ngajar privat ngaji gitu, cuma takut belum bener ngajarnya. Lagi belajar sabar kalau ngajarin orang :") hahaha. Anyway, kalau ada yang lagi cari guru privat ngaji buat perempuan boleh yaa hubungi aku :"). Email aja ke its.dindaauliaputri@gmail.com. Perempuan/akhwat aja ya, kalau laki-laki takut khilaf (read: salfok), apalagi ganteng, hehehe.

Kebiasaan banget pembahasannya jadi ngelantur ke mana-mana. Padahal dari tadi aku mau bilang kalau mau belajar Metode Maisura itu bagusnya ikut pelatihannya juga sama penulisnya, yaitu KH. Ahmad Fathoni, Lc. MA. Kalau nggak mau ikut juga no problem sih, cuma pasti dapet ilmunya nggak utuh. Yang ikut aja belum tentu paham semua apalagi nggak ikut wkwk. Nanti setelah ikut pelatihan dapet sertifikat juga. Nggak penting juga sih sertifikatnya, yang penting ilmunya kan? Aku pribadi sih suka aja ngumpulin sertifikat gitu, itung-itung jadi kenangan dari pengalaman, hehe.

Ini foto sertifikatnya

Heiii heiii heiii....!
Btw, aku sebenernya nggak mau bahas tentang buku itu. Aku cuma mau cerita apa hikmah yang aku dapetin setelah belajar ngebut buku Metode Maisura ini. Intinya:

Bacaan Alquran aku selama ini masih amburadul banget๐Ÿ˜ญ

Padahal kayaknya aku rasa udah agak bener. Kenapa aku bilang "agak"? Karena aku pribadi, nggak akan pernah nganggep bacaan Alquran aku udah bener sampe bisa disimak langsung sama Imam Haram๐Ÿ˜ญ, entah itu Imam Masjidil Haram ataupun Masjid Nabawi. Aamiin aamiin ya Allah๐Ÿ˜ญ. Doain aku ya buat semua yang baca tulisanku ini ๐Ÿ˜˜.

Di sisi lain aku jadi inget sebuah cerita yang aku denger dari ceramah Syaikh Ali Jaber. Tau kan? Nggak tau pun search google aja ya๐Ÿ˜€. Singkatnya, beliau itu ulama dari Madinah yang hijrah ke Indonesia karena menganggap dengan berada di Indonesia beliau lebih bisa jadi orang yang bermanfaat. Semoga sehat selalu, ya Syaikh.

Back to the topic. Nah, aku pernah denger cerita Syekh Ali waktu beliau belajar di Madinah. Beliau punya guru Quran di sana. Pada suatu saat, sang guru nyuruh beliau buat jadi imam shalat. Baru mulai baca Al-Fatihah, guru beliau langsung membatalkan shalat dan mengatakan (udah ditranslate ke Bahasa Indonesia ya),
"Salah! Al-Fatihah-nya salah! Shalatnya batal!" kurang lebih begitu ucapan sang guru.

Gurunya Syekh Ali langsung mundur dan membatalkan shalatnya karena menganggap bacaan Al-Fatihah yang Syekh Ali baca itu salah. Ya Allah, kalau bacaannya Syekh Ali Jaber aja masih salah (waktu itu), terus aku ini apa?๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ. Ampas kopi juga masih kebagusan kali daripada aku๐Ÿ˜ญ

Setelah itu aku jadi inget salah satu Asmaul Husna.
ุงู„ู„َّู‡َ ุดَุงูƒِุฑٌ ุนَู„ِูŠู…ٌ
Allah itu Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.

Allah itu Syaakirun, Maha Mensyukuri, atas amal hamba-hamba-Nya. Allah yang menurunkan Alquran. Allah yang paling tau bacaan yang paling benar itu seperti apa. Demi Allah, andai Allah tidak mensyukuri atas amal hamba-hamba-Nya, tentulah tidak akan ada shalatku, bacaan Alquranku, dzikirku, dan semua amal ibadahku yang Dia diterima. Sebab itu semua masih salah total. Sebab itu semua mungkin belum sesuai dengan syarat yang Allah mau. Waktu shalat pikiran sering ke mana-mana, bacaan amburadul, terus abis shalat doanya minta supaya amal diterima? Aku rasa lebih pantas doa supaya diampuni, atas semua lalai dan kebodohan yang melekat pada diri.

Dan akan lebih malu lagi waktu kita mencermati apa yang diminta Nabi Ibrahim dan Ismail setelah selesai membangun kakbah (untuk yang kedua kali) di dalam Surah Al-Baqarah ayat 127.
ูˆَุฅِุฐْ ูŠَุฑْูَุนُ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠู…ُ ุงู„ْู‚َูˆَุงุนِุฏَ ู…ِู†َ ุงู„ْุจَูŠْุชِ ูˆَุฅِุณْู…َุงุนِูŠู„ُ ุฑَุจَّู†َุง ุชَู‚َุจَّู„ْ ู…ِู†َّุง ۖ ุฅِู†َّูƒَ ุฃَู†ْุชَ ุงู„ุณَّู…ِูŠุนُ ุงู„ْุนَู„ِูŠู…ُ
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail, (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui."

Di ayat itu, keduanya meminta agar amal mereka diterima. Padahal:
Mendirikan bangunan kakbah adalah perintah khusus dari Allah
Kepada hamba yang khusus (Nabi Ibrahim dan Ismail)
Di tempat yang khusus (di tanah Haram)
Di waktu khusus (waktu Haji)
Walaupun begitu, mereka masih meminta kepada Allah agar amalan mereka diterima?๐Ÿ˜ญ
Ya Allah, aku yang sebegini blangsak dan lalainya aja mau doaku cepet-cepet terkabul seakan semua ibadah dan doa udah bener aja!๐Ÿ˜ญ

Ya Allah, terimalah amal kami...

Ya Allah...!
Maafin aku, atas semua kebodohan dan kesombongan yang pernah menjangkiti hati. Aku berlindung dengan keagungan-Nya dari hancurnya amal akibat kesombongan seperti yang pernah dilakukan Iblis๐Ÿ˜ญ. Aamiin ya Allah...

Sesungguhnya Rabbku sangat baik kepadaku.


Pamulang, 4 Agustus 2017
23.15


Dinda A. Putri

Opening: How I Start to Memorize The Holy Quran?

Assalamualaikum :)

Note: foto ini aku ambil waktu ikut 
dauroh di Lembang, Bandung. 
No google pict ya :)

Bismillah...

Kadang ada beberapa teman lamaku yang tiba-tiba chat buat minta aku jelasin suatu hal. Karena ini udah ke sekian kali, aku rasa nggak ada salahnya aku share jawabanku di sini aja, supaya kalau ada yang nanya lagi tinggal aku kasih link blog ini, hehe.

Yang mereka tanyakan itu kurang lebih,

"Dinda, orang kayak aku bisa ngehafal Alquran gak ya?"
"Din, aku lagi pengen banget ngafal Alquran. Bagaimana sih cara menghafal kamu?"
"Apa metode yang kamu pake?"
"Kamu biasanya menghafal itu di waktu apa? Pagi, siang, sore, atau malam?"


Honestly, aku pernah tulis semua pengalaman menghafal aku di satu file. Karena aku mau share lagi tulisan itu entah mau nerbitin buku #eaaa. Hahahaha. Atau nulis trit di kaskus (Yuhuu~ adakah kaskuser yang baca ini?), atau di manapun deh yang penting mau aku share (suatu hari nanti) hehehe. Tapi semua itu berubah sejak Luffy memutuskan untuk jadi petani #BodoDinBodo #Garink wkwkwk. Yeaaa, keinginan itu hampir hilang karena hampir seluruh isi filenya ke-delete dan nggak ada back-up-annyaa ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ. Itu nyesek banget asli. Nyesek bin kzl kzl kzl. Ceritanya "kzl"-nya kembar tiga #lol. Then, rasanya jadi males bikin lagi. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, masih ada file yang tersisa walaupun sedikit. Nah, file itulah yang ingin aku share di sini. Ada catatan juga buat semua yang baca tulisanku ini, bahwa hafalanku juga masih ancur banget, hehe. Serius deh. Banyak yang lupa karena jarang dimuraja'ah. Karena berjuang sendirian benar-benar melelahkan! #JanganSalfok hehe. Butuh teman banget. Butuh teman hidup tapi masih kecil, hehehe. So, intinya aku cuma mau sharing, aku pun masih berproses. Sebab kalau kita harus sempurna dulu untuk bisa berbagi, maka nggak akan ada yang pantas berbagi di dunia ini.

On the other hand, mohon maaf banget ya gais, isi blog ini tuh belum konsisten banget. Tergantung mood mau pake gue-lo atau aku-kamu. Sebab tulisan waktu itu pakenya gue-lo, jadi sekarang pun I prefer to use gue-lo's style, haha. Mungkin belum menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, tapi ibaratnya ini tuh muqaddimahnya dulu. Yaela, pake muqaddimah segala ye?! Bodo ah, serah gue dong mau nulis apa, blog ini weh punya gue! Wlee :p #MulaiGakJelas wkwk.

And finally, you got nothing here! Because I would like to share them on my next post, hehehe. Okay, see you next time! Insha Allah :)

Pamulang, 2 Agustus 2017
06.07


Dinda A. Putri