Assalamualaikum :)
Bismillah...
Alhamdulillah aku hari ini ikut ke kajian Ust. Hanan Attaki di Masjid Agung Al-A'zhom, Kota Tangerang. Aku berangkat bareng temen-temen tahsin dari Asrama di Tangsel. Lumayan jauh itu, sekitar 37 km dari lokasi kami kalau diliat di Google Maps 😁. Ini baru pertama kalinya aku ikut kajian bareng temen-temen, apalagi ke kajiannya Ust. Hanan, hehe.
Ini poster kajiannya. Jadi tuh kayak kajian rutin tiap bulan di minggu ketiga, lokasinya sama di Masjid Al-A'zhom, Kota Tangerang juga. So, boleh banget kalau yang mau ikut, ya gais! :)
Oke, aku mau cerita isi kajiannya aja deh. Biasaaa lah ya, selalu tentang jomblo, hahaha. Emang beliau kan target dakwahnya ke anak muda. Beliau juga Founder Pemuda Hijrah yang base camp-nya ada di Bandung. Itulah salah satu alasan aku mau kuliah di Bandung, biar sering ikut kajian beliau 😀.
Aduh, suaranyaaa itu, ya Allah. Please sisain buat aku yang kayak gini hehhe. Adeeem banget. Sedih juga, pemuda-pemuda shaleh banyak yang sold out dan sayangnya nggak ada di-restock #PlisDin, hehe.
Oh ya, Masjid Al-A'zhom katanya bisa menampung 10K jamaah. Tapi tadi tuh sampe tumpeh-tumpeh ke luar-luar, hahaha. Seneng sih liat banyak muslim antusias ke tempat ilmu begitu, tapi di satu sisi itu sepertinya menunjukkan kebangkitan Islam di akhir zaman. Seneng tapi ngeri 😬.
Ini instastory-nya Ust. Hanan setelah kajian 😀
Sejujurnya sekarang emang nyari ilmu tuh mudah. Tinggal googling, selesai. Menurut aku pribadi sih itu bagus, tapi kalau terlalu sering begitu takutnya jadi kurang menghargai ilmu. Orang sekarang banyak yang cerdas-cerdas, tapi adabnya? Nol besar.
Aku pernah diceritain sama Ustadzah Qiqi waktu aku ikut dauroh di Bandung. Banyak santri yang kalau diukur dari kuantitas dia nerima ilmu itu kuraaang banget, tapi hidupnya bisa berkah, berkecukupan, banyak yang sukses juga, dsb. Padahal kalau diliat kerjaannya selama mondok itu cuma khidmat ke kyainya: nyapu, memenuhi kebutuhan kyainya, bersih-bersih, dsb. Pokoknya jarang deh belajarnya dibanding anak-anak yang sekolah formal di luar sana. Akhlaknya juga santun, karena udah terbiasa berkhidmat ke orang tua. Ya gitu deh. Beda banget sama anak-anak yang suka ngomongin guru dan suka banget mengkritik gurunya. Aku juga pernah sih, hehe. Dan sedang berusaha menghilangkan perasaan itu, dan nahan dari membicarakan apa yang aku nggak suka dari cara mengajarnya. Jujur aku juga susah ngilanginnya. Pengen belajar ikhlas. Belajar pasrah sama semua yang ada. Kata Ustadz Hanan Attaki juga tadi "Nuntut ilmu itu harus perih, biar ngerasain manfaatnya."
Nah, aku rasa itulah jawabannya! Kemanfaatan itu berasal dari keberkahan yang terus menerus dipupuk selama berkhidmat kepada guru. Keberkahan itu berasal dari doa-doa tulus sang guru untuk murid/santrinya. Apalagi guru/kyainya orang sholeh, wali Allah, kurang powerful apa itu doa?
Gampang jaman sekarang tuh jadi orang cerdas, tapi susah banget jadi orang yang punya akhlak. Karena ketika kita menuntut ilmu dari seorang guru, kita akan mendapatkan teladan yang tidak bisa diperoleh dari buku-buku. Dan moga juga tiap langkah orang yang menuntut ilmu, maka akan membawanya ke jalan menuju surga. Aamiin.
So, mari jadi orang cerdas dan berakhlak mulia!
Cayoo! Hahaha
Pamulang, 30 Juli 2017
20.19
Dinda A. Putri
Search
Ngobras bareng Ust. Hanan Attaki
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)


0 comments:
Post a Comment